Sunday, April 14, 2019

Prinsip dan Nilai-Nilai Kepemimpinan Di Toraja




 Prinsip-prinsip dan Nilai-Nilai Kepemimpinan 
Di Toraja
Menurut Aristoteles, manusia adalah makluk sosial “Zoon Politikon”[1] mempunyai hubungan satu dengan yang lain, baik hubungan antar-manusia maupun kelompok sosial. Dari hubungan ini muncul adanya kepemimpinan dan masalah pokok dalam kepemimpinan itu ada kuasa yang selalu dipertahankan. Kekuasaan senantiasa ada dalam setiap masyarakat baik yang sederhana maupun masyarakat yang sudah besar dalam hubungannya dengan kepemimpinan dan ini tentu tidak pada semua orang. Munculnya kekuasaan itu tergantung dari hubungannya antara yang berkuasa dan yang dikuasai, kelompok yang berkuasa itu disebut pemimpin dan kelompok yang dikuasai disebut yang dipimpin.
Kepemimpinan masyarakat Toraja mempunyai latar belakang mitos penciptaan dalam religi aluk todolo bahwa nenek moyang mereka berasal dari langit dengan membawa aluk Sola Pemali. Aluk Sola Pemali inilah yang mengatur segenap tatanan hidup manusia Toraja, baik individu maupun keluarga dan masyarakat, dan mitos to Manurun dilangi’.
Pada saat To Manurun di Langi’ tiba di bumi, Ia mendirikan rumah yang disebut Tongkonan dan hambanya mendirikan pondok di belakang Tongkonan itu. Tongkonan yang di dirikan To Manurun di Langi’ di sebut Tongkonan Layuk, artinya Tongkonan yang mulia. Setelah anak-anaknya dewasa, anak-anak itu pindah ke tempat lain dan disana mereka mendirikan Tongkonan baru dan menjadi penguasa di wilayah tersebut. Tongkonan tersebut sering di sebut tongkonan Pangala Tondok, artinya Tongkonan yang merintis pembukaan wilayah baru. Fungsinya sama dengan fungsi Tongkonan Layuk
Masing-masing tongkonan tersebut berkuasa di willayahnya dan mengklaim seluruh wilayah sekitarnya, termasuk isinya menjadi miliknya.
Keturunan yang lahir dari Tongkonan Layuk di sebut anak tongkonan atau anak Patalo (anak=anak ; patalo=menang), juga sering di sebut tedong Pariu’ (tedong=kerbau;Pariu=penarik). Masyarakat yang berada di dalam wilayah kekuasaan Tongkonan Layuk di sebut To Umpentionganni Tongkonan Layuk atau To Naonganni Tongkonan Layuk (Umpentionganni=bernaung di bawah ; naonganni=dinaungi oleh), yaitu orang-orang yang berlindung di bawah kekuasaan Tongkonann Layuk. Dengan demikian, tongkonan Layuk merupakan sumber dan pusat kehidupan manusia Toraja, sebab oleh dan di Tongkonan layuk inilah Aluk Sola Pemali di pelihara, di tegakkan, dan diselenggarakan.
Wilayah kekuasaan sebuah Tongkonan Layuk mempunyai istilah atau nama yang berbeda-beda. Ada yang menggunakan nama Bua’, Penanian, Kaparengngesan, atau Lembang.[2]
Adapun pemegang kekuasaan adalah mereka yang berasal dari bangsawan atau dari Tongkonan Layuk dari daerah tertentu yang memimpin masyarakatnya dalam wilayah tertentu pula dan untuk mengangkat seorang pemimpin tertinggi diantara mereka, maka diadakanlah musyawarah di Tongkonan Layuk yang dihadiri pemimpin-pemimpin dari kalangan bangsawan atau dari anak tongkonan dengan mengambil kata mufakat berdasarkan beberapa kriteria[3] :
-          Bida, artinya murni keturunan bangsawan
-          Sugi, artinya sugi
-          Manarang sia kinaa, artinya pintar, bijaksana dan baik hati/murah hati
-          Barani, artinya barani
a.                              Bida
            Pemimpin Toraja harus bida atau bija, turunan tertentu .Bida artinya turunan bukan orang sembarang . Mitologi Toraja mengetengahkan bahwa bida itu umumnya orang bangsawan yang turun dari langit . (to manurun di langi’ ).DR.T.O.Ihroni menafsirkan bahwa to mnurun dilangi’ itu adalah para pendatang yang bila pandai serta memiliki wawasan yang lebih luas . karena itu mereka menjadi penguasa . mereka ini bergelar Puang, Ma’dika ,Ambe’,Tedong pariu’ ,Anak Topatalo dll . Bida tidak otomis menjadi pemimpin . mereka harus melalui latihan – latihan , mengembangkan kebijaksanaan , kerajinan dan keberanian yang di tunjang oleh kekayaan .
b.                              Sugi’ (kaya )
Seorang pemimpin harus sugi’ atau kaya . kekayaan adalah nilai yang di kejar terutama yang menyangkut manusia, hewan dan tanaman ( biasa di sebut tallu lolona ) Banyak anak di nilai tinggi oleh orang Toraja (sugi’ tarri ) Mereka yang tidak mempunyai anak diusahakan ada anak angkat.Anak dilahirkan terutama untuk urusan “urrundunan sara’ “terutama aluk tomate ,juga untuk mencari harta kekayaan “Kasalle male melendong , lobo’ male meburinti ,sangtontian pelendongna sangburia’peburitinna “. Kalau perempuan “ kasalle male meurang , lobo’ male mekabumbu’, sangseran peurangna ,sangbakku’ pekabumbu’na . inilah adalah ungkapan simbolis untuk upaya mengusahakan harta atau kebutuhan hidup .
Nilai kekayaan orang Toraja terutama Babi , kerbau ,ayam .orang yang memelihara ayam , di tingkatkan jadi pemelihara babi , babi menjadi kerbau , dan kerbau di belikan sawah atau ditukar sementara dengan sawah .Di antara tanaman , padilah tanaman utama . orang yang memiliki sawah yang luas dan menyimpan padi yang lumayan di dalam lumbung . Lambang kekayaan orang Toraja ialah deretan lumbung padi yang berukir melambangkan kekayaan berupa padi , sawah , rante dan hewan piaraan,ringgi’ (ringgit).untuk mencari kekayaan maka orang Toraja mengutamakan kerja  “lebih baik duduk daripada tidur ;lebih baik berdiri daripada duduk lebih baik berjalan daripada berdiri :lebih baik bekerja daripada berjalan “. Bagi mereka yang malas disindir yakni “ kumande labakkila’ mengkarang labukoyo “ yang artinya makan cepat bagai kilat kerja lambat seperti siput .
Kalau struktur pemerintahan Toraja ada Tongkonan yang melambangkan kekayaan yang sekaligus menjadi cadangan bila keadaan paceklik yang disebut Tongkonan pa’buntuan sugi’. Karna itu tidak dapat dipahami bila seorang pemimpin atau pemuka tokoh simbolis tidak kaya .Secara praktis pemimpin Toraja harus kaya supaya ia dapat menolong yang lemah dan supaya ia mampu bekerja walaupun tidak ada gaji atau imbalan jasa .
c. Manarang (pandai )  dan Kinaa (bijaksana , berbudi )        
To pande ( to marang ) ialah orang ahli misalkan pande bassi ( pandai besi ) , pande kayu ialah pandai mengerjakan kayu , membangun rumah . ia pandai berdoa seperti to minaa , pandai berbicara dalam kombangan , pada permusyawaratan .
Kepandaian memang sangat di butuhkan oleh pemimpin , kebijakan untuk mengatur masyarakat membutuhkan kepintaran . Di bidang hukum ,ia harus pandai – pandai mengintropeksi nilai  menjadi nilai yang operasional . perlu di ketahui bahwa belum ada hukum dan undang – undang serta penjelasannya yang siap diberlakukan . semuanya membutuhkan kearifan dan kepandaian  dari pemimpin . seorang pemimpin haruslah mendalami seluk beluk kemasyarakatan , seluk beluk adat istiadat , cara berfikir orang banyak dll. Semua ini membutuhkan kapaissanan atau kepandaian yang didukung oleh kakinaan .
Kinaa artinya punya hati , ada hati , budi . To kinaa artinya orang budiman , orang – orang baik  -baik .Dikalangan orang Toraja gelar to kinaa terutama ditujukan kepada orang yang berada pada yang berpengaruh baik yang menjadi panutan orang banyak. To kinaa di hormati karena kebaikannya .seorang pemimpin harus kinaa , bida karena ia adalah orang to kinaa pula.
Nilai kepemimpinan seperti bida , barani ,sugi’ , manarang tidak ada gunanya tanpa kakinaan inilah yang menopang dan memberi makna kepada seorang pemimpin . Dia harus tokoh yang melambangkan moralitas yang baik , bahkan moralitas masyarakat . dalam urutan nilai kepemimpinan biasanya kinaa ini  dijadikan nomor satu
d. Barani ( Berani )
Orang Toraja pada masa lalu menghadapi ancaman perang baik dari dalam maupun dari luar . konon dahulu orang Toraja saling berperang antara satu daerah ( distrik ) dengan daerah lain dan dari luar daerah juga ada banyak kemungkinan. Hal itu nyata dari ada Basse (Perjanjian ) yang bertujuan menjamin keamanan antara pihak – pihak yang pernah atau potensial berperang .Ada basse to padatindo yang di sebut basse “Sanglentenan tallo ‘panda sangsorongan pindan “. Basse ini merupakan komitmen bersama antara orang  Toraja dan orang Bone tidak akan saling menyerang lagi .Dikenal basse antara orang enrekang dan Toraja untuk saling memperhatikan bila ada bahaya yang menancam . juga ada basse antara orang Toraja dengan to masipi’ Batu Batara (Luwu).
Dalam struktur masyarakat ada Tongkonan Tanduk Tata’ alias Tongkonan Palasa Makati’ untuk menjaga tindakan penyerangan dari luar . Ada daerah yang diserahi tugas menjaga perbatasan yang digelar dengan “Dipasitoe la’bo’ petara sadang dipasideken doke perasa porrok”. Dari situasi yang seperti ini dan dari idelisme orang Toraja mengenai pertahanan keamanan maka figur seorang pemimpin harus berani yang tentu pula harus di dukung oleh kamanarangan .
Demikian sosok seorang pemimpin Toraja yang mengemban nilai kepemimpinan bida ,barani ,manarang , sugi’ dan kinaa .Pemimpin ini adalah tokoh yang dijagokan oleh masyarakatnya . Ia sebetulnya tokoh yang melambangkan nilai – nilai dasar dan ideal – ideal dari masyarakatnya .program apa yang dibuatnya tidak dipersoalkan . yang penting ia adalah potensial untuk mensejahterakan kelompoknya . Dia adalah tokoh yang penting .        
Pemilihan dan penentuan pemegang jabatan Parengnge ini dilaksanakan di Tongkonan Layuk dalam musyawarah seluruh keluarga Tongkonan Layuk tersebut, yang disebut kombongan Kalua’ , artinya musyawarah atau rapat besar dan luas.
Pada diri parengnge ini bertumpuk beberapa paduan fungsi, yaitu menjadi To Minaa (Iman atau Pemimpin keagamaan), menjadi ahli hukum dan sekaligus hakim, menjadi pemerintah serta pemimpin rapat atau pertemuan keluarga tongkonan (Kombongan Kalua’). Jadi Parengnge’ menjadi figur sentral, yang melaksanakan seluruh fungsi kepemimpinan dalam masyarakat, baik fungsi legislatif, eksekutif, Yudikatif maupun di bidang keagamaan. Pendeknya, Ia berfungsi untuk memelihara, melaksanakan, dan menegakkan Aluk Sola Pemali.
Dari uraian di atas nampak bahwa rakyak biasa tidak mempunyai peran apa-apa dalam kepemimpian tradisional Toraja. Mereka hanya tunduk sepenuhnya, tanpa partisipasi, emansipasi, dan demokrasi. Hal ini dapat dimaklumi, sebab masyarakat Toraja terbagi dalam beberapa kasta dan menganut closed social stratification yang merupakan ciri dari masyarakat feodalistik.[4]
Pada awalnya pelapisan sosial dalam masyarakat Toraja hanya terdiri dari dua lapisan, yaitu tuan dan hamba. Tetapi karena adanya perkawinan-perkawinan antara tuan dan hamba, muncullah pelapisan sosial yang baru. Sebab itu pelapisan sosial dalam masyarakat Toraja yang melembaga dalam tana’ ( kasta ) berkembang menjadi empat lapisan, yaitu:
1. Tana’ bulaan ( bulaan=emas ), yaitu bangsawan tinggi yang masih murni keturunan To Manurun di Langi’.
2. Tana’ bassi ( bassi=besi ), yaitu bangsawan menengah.
3. Tana’ karurung ( karurung=ujung enau ), yaitu orang merdeka.
4.Tana’ kua-kua ( kua-kua=sejenis gelagah yang biasa tumbuh ditempat berair, biasa ditanam di pematang sawah supaya tahan runtuh), yaitu para hamba.

 Terima kasih Telah Membaca, jangan Lupa Share Ya!!!!



[1] Hassan Sadily, Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia, PT. Bhineka Cipta, 1999, hlm. 274

[2] J.L.Parura, Tongkonan Dan Peranannya Dalam Masyarakat Toraja, makalah dalam buku notulen penataran para pendeta Gereja Toraja gelombang II (LPK Gereja Toraja, 1980), Dok.B-I-F-02, lampiran 2, hlm 4

[3] G. G. Raru’, Thesis, Fakultas Theologi UKSW Salatiga, 1983, hlm. 93


[4] Soerjono Soekanto, Sosiologi : suatu pengantar  ( Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1970 ), hlm. 136-138.

PRINSIP, NILAI DAN PANDANGAN HIDUP ORANG TORAJA

https://tomeladakdomaitoraya.blogspot.com/

PRINSIP-PRINSIP NILAI-NILAI DAN PANDANGAN

Makna kehidupan ialah menjalani siklus kehidupan itu sendiri, artinya kembali kepada kehidupan semula yang real, kehidupan di seberang sana. Untuk mencapai hal itu kita harus hidup sesuai dengan ketentuan-ketentuan hidup, yaitu perintah-perintah religius dari pandangan holistik itu. Jelas bahwa dalam kerangka sistem pandangan hidup yang holistik ini, nilai-nilai itu ditentukan oleh tujuan dan makna hidup. Dalam suatu masyarakat tradisional selalu ada kecenderungan untuk menomorduakan kepentingan perorangan terhadap kepentingan persekutuan. Perorangan itu hanya dapat hidup dalam kerangka kehidupan persekutuan. Jadi kepentingan bersama berada di atas kepentingan pribadi. Perorangan itu harus berorientasi kepada kepentingan persekutuan. Hanya dengan cara demikian ia bisa mengembangkan diri sebagai individu. Tetapi hal itu tidak berarti bahwa ia sama sekali tidak mempunyai tanggung jawab dan kepentingan pribadi, karena sejak kelahirannya, bahkan sebelum ia lahir, setiap manusia sudah menggenggam kemungkinan-kemungkinan kehidupannya. Manusia masuk ke dalam dunia dengan tangan yang penuh potensi yang harus ia kembangkan dalam kerangka kehidupan bersama. Dalam ARTIKEL ini KITA akan melihat  hanya beberapa nilai yang menentukan kehidupan persekutuan itu serta tingkah laku manusia dalam kerangka kehidupan bersama, nilai dasar sebagai berikut:


1.  Kebahagiaan, kekayaan
2.  Kedamaian
3.  Persekutuan
4.  Harga diri
5.  Penghargaan terhadap tamu
6.  Kesopanan
7.  Kerajinan
8.  Disukai semua orang
9.  Nikah
10. Kesetiaan
11. Kejujuran
12. Penonjolan diri (harga diri, 4).

Kriteria yang menentukan dalam pertentangan prioritas nilai-nilai adalah nilai-nilai dasar itu sendiri, tetapi rupanya nilai "kedamaian demi persekutuan" itulah yang paling menentukan.


Makna kehidupan persekutuan ialah hidup dalam kedamaian dan keharmonisan. Dalam benturan nilai-nilai, ada saja nilai yang perlu dikorbankan demi persekutuan. Kebenaran dan keadilan dapat dikorbankan demi kedamaian dan keharmonisan dalam persekutuan. Nilai-nilai kehidupan itu pertama-tama berorientasi kepada persekutuan. Sebab itu kita memberikan perhatian utama kepada nilai persekutuan itu. Lambang persekutuan Toraja adalah tongkonan berdasarkan hubungan darah.
Prinsip dasar suatu tongkonan adalah, bahwa setiap keluarga mulai dengan suami-istri berhak membangun rumah. Rumah ini kemudian menjadi tongkonan bukan saja bagi anak-anak atau cucu-cucu, tetapi bagi setiap keturunan dari yang mendirikan tongkonan itu
Orang Toraja dapat tanpa mengalami kesulitan menelusuri asal-usul genealoginya melalui tongkonannya dan semua orang yang berasal dari tongkonan yang sama, membentuk persekutuan tongkonan itu.


Seseorang bisa saja menjadi anggota dari beberapa tongkonan, disebabkan perkawinan antara anggota dari berbagai tongkonan. Tongkonan adalah pusat persekutuan yang sentripetal. Kita msih akan melihat, bahwa hubungan-hubungan kekeluargaan itu sangat erat . Persekutuan sebagai nilai tertinggi bagi orang Toraja dilambangkan melalui tongkonan sebagai pusat persekutuan.
Penampakan-penampakan lain dari ikatan-ikatan persekutuan adalah:
-      Gotong-royong dengan motif saling tolong-menolong. Hal ini sangat jelas dalam pekerjaan sawah, ritus-ritus orang mati dan pesta adat lainnya.
-      Kehadiran dan partisipasi pada ritual-ritual adat adalah manifestasi dari hubungan-hubungan persekutuan dan tidak boleh dinilai secara ekonomis atau materialistis.
-      Kehidupan bertetangga[1] yang baik nampak dalam keadaan-keadaan darurat. Apabila seseorang membutuhkan garam atau lombok, maka tetangganya akan membantunya secara otomatis. Apabila kemudian tetangga itu mau mengembalikannya (membayarnya kembali), maka hal itu akan diinterpretasi, bahwa ia menolak kehidupan bertetangga yang baik. Hal ini akan dianggap sebagai penghinaan, karena ia tidak mau membina kehidupan bertetangga dengan baik.


-      Kehadiran pada suatu ritual adat, entah "Rambu Tuka'" atau "Rambu Solo'" adalah suatu tanda hubungan persekutuan. Apabila seseorang membayar hutangnya, maka ia tidak boleh mengirim bayarannya itu lalu tidak menghadiri ritus adat bersangkutan. Hal itu dianggap penghinaan, atau paling tidak akan merusak hubungan yang baik.
-      Pembayaran hutang pada Aluk Rambu Solo' tidak boleh dinilai secara ekonomis, melainkan hal itu merupakan pengakuan tentang hubungan dalam persekutuan.
-      Dari beberapa ungkapan sastra dapat ditarik kesimpulan, bahwa di dalam kehidupan orang Toraja nilai persekutuan itu sangat tinggi.
"Misa' kada dipotuo, pantan kada dipomate" yang adalah masalah hidup atau mati.
"Tengko situru', batakan siolanan", suatu paralelisme dari: tenggala yang searah, kesepakatan; secara harafiah: "tenggala yang searah dan batang tenggala yang sejalan", jadi satunya kata dan perbuatan dalam persekutuan.
"Sangkutu'banne, sangbuke amboran", artinya: bersatu bagaikan bibit padi di dalam ikatan.

Semua nilai dasar harus dilihat dalam hubungannya dengan persekutuan, misalnya: kebahagiaan, kekayaan, kedamaian dan harmoni.


Kekayaan dan kebahagiaan terutama dihubungkan dengan "tallu lolona", artinya lolo tau, lolo patuoan dan lolo tananan. Anak-anak adalah berkat yang menjamin kelangsungan keturunan dan itu adalah salah satu nilai tertinggi.
Tetapi anak-anak dan cucu-cucu harus hidup bahagia dan untuk itu mereka membutuhkan kerbau, padi sebagai lambang dari kekayaan dan kemapanan.
"Karapasan" (ketentraman dan ketertiban dalam persekutuan/komunitas) adalah nilai dasar yang dapat mengorbankan nilai-nilai yang lain, misalnya kebenaran dan keadilan. Tetapi apabila seseorang atau sekelompok manusia mempertahankan kebenarannya, maka kebenaran dan keadilan itu ditentukan dengan penyelesaian melalui "sipakoko, silondongan, sira', dan sebagainya".
"Unalli melo" (membeli kebaikan, artinya apa yang baik dalam konteks kedamaian dan harmonni) dapat dianggap sebagai bukti, bahwa orang Toraja mencintai kedamaian dan hubungan yang baik. Yang dimaksud dengan itu bahwa kita harus bersedia menderita demi kebaikan untuk umum. Suatu contoh dapat dilihat pada cara penyelesaian dalam hal sengketa tanah. Tanah yang dipersengketakan itu, dibagi dua. Masing-masing mendapat bagian yang sama. Ide penyelesaian itu adalah, bahwa masing-masing harus bersedia memberi dan menerima demi kebaikan umum, artinya demi kebaikan dan demi harmoni.
Masing-masing membeli kebaikan itu dengan haknya atas tanah yang disengketakan dan untuk itu ia menerima kembali "karapasan", kedamaian dan harmoni, ditambah lagi separuh dari tanah yang sebenarnya telah dijualnya.


Di atas sudah dilihat, bahwa konsepsi orang Toraja tentang kehidupan adalah siklus, artinya bahwa nilai-nilai kehidupan itu berhubungan dengan keseluruhan siklus kehidupan, dari kelahiran, kehidupan dan kematian, dari awal sampai akhir, sampai yang akhir itu kembali mencapat awal. Tetapi gerak siklus ini tidak dapat diulangi, dia "einmalig".
Apa dan bagaimana kehidupan di langit itu, hanya bisa dibayangkan, dan fantasi (imajinasi) adalah suatu hasil dari refleksi tentang pengalaman di dunia. Episode kehidupan di dunia itu sangat penting dan bahkan menentukan bagi kehidupan di seberang sana, karena kehidupan ini berada di bawah perintah-perintah dan ketentuan-ketentuan religius yang mempengaruhi gerak dan arah siklus kehidupan itu.
Itu berarti, bahwa nilai-nilai dasar itu adalah penuntun dalam keseluruhan cara hidup dari kelahiran sampai kematian. Atau dengan kata lain nilai itu sebagai penuntundalam segal seluk beluk kehidupan orang Toraja.

TERIMA KASIH

[1] Menarik untuk melihat karya KOSUKE KOYAMA mngenai Tetangga.

Mengenal Ciri Khas Pakaian Adat Toraja

 
PAKAIAN ADAT TORAJA
Suku atau bangsa Toraja, mendiami kawasan utara Propinsi Sulawesi Selatan, terutama di Kabupaten Tana Toraja. Sejak kemerdekaan Republik Indonesia nama Toraja mengalami pereduksian menjadi nama kabupaten Tana Toraja. Namun kini wilayah geografisnya hanya dijadikan salah satu Kabupaten (sejak 1957) dalam Provinsi Sulawesi Selatan. Luas Kabupaten Tana Toraja adalah 4.628 kilometer persegi pada ketinggian 300km2.884 meter di atas permukaan laut
 Toraja tidak jauh bertolak belakang dengan wilayah lain di Indonesia. Ia memiliki sekian banyak  adat istiadat serta kebudayaan yang berbagai ragam. Salah satu keunikan kebiasaan di tana Toraja tergambar jelas pada pakaian adat. Yang sekaligus menjadi simbol serta karakter masyarakat di dalamnya. Berikut ini tiga pakaian adat Toraja, dimana salah satunya pernah menjadi perhatian dunia dalam acara di Korea Selatan:
ü  Sepa Tallu  Buku




Baju adat Toraja adalahpakaian dengan panjang hingga lutut. Untuk masyarakat, Seppa Tallu Buku melulu dikenakan oleh kaum lelaki saja. Busana ini pun dilengkapi sejumlah aksesoris ekstra seperti:
·         Kandaure; busana dengan dekorasi berupa manik-manik pada unsur dada, ikat kepala pun pada ikat pinggang.
·         Gayang; sejenis senjata khas berupa parang, dipakai sebagai aksesoris dengan teknik diselipkan pada bawahan sarung.
·         Lipa’; sejenis sarung sutra dengan motif bermacam-macam.
Seppa Tallu Buku pernah menorehkan sejarah sebagai pakaian adat Toraja kesatu yang pernah menjadi perhatian dunia dalam ajang Manhut International pada tahun 2011 di Korea Selatan. Baik situs maupun media menyebutkan banyaknya pujian diserahkan kepada baju tradisional tersebut. Pada ketika ajang itu Seppa Tallu Buku dikenakan dengan sepasang sayap serta tanduk. Hal tersebut mencerminkan betapa besar dan agungnya kebudayaan Indonesia. Pemilihan busana yang terinspirasi dari kebiasaan diharapkan dapat menarik perhatian dunia mengenai keaneragamanan kebiasaan Indonesiasampai-sampai mereka tertarik guna datang dan melancong ke Tanah Air. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata pun menyokong upaya positif promosi pariwisata melewati ajang Manhunt International. Sehinggadiinginkan dapat memajukan minat wisatawan asing terhadap pariwisata Indonesia.
ü   Pakaian Adat Toraja – Pokko
Baju adat Toraja kedua yakni Baju Pokko. Busana ini eksklusif dikenakan oleh kaum perempuan tana Toraja. Berbeda dengan Seppa Tallu Buku dengankarakteristik pakaian panjang. Pokko mempunyai lengan pendek dengansejumlah dominasi warna, laksana merah, putih serta kuning. Sampai ketika ini Baju Pokko masih dilestarikan pemakaianya. Yaitu dengan teknik mewajibkan semua PNS perempuan di Kabupaten Tana Torajaguna mengenakan busana pokko masing-masing hari Sabtu. Sementara guna pria diharuskan utuk mengenakan Seppa Tallu Buku.
ü   Pakaian Adat Toraja – Kandore
Di samping dua busana di atas, Kandore pun adalah pakaian adat Toraja yang diperuntukkan guna kaum wanita. Busana ini berhiaskan manik-manikguna menghiasi dada, ikat pinggang, ikat kepala serta gelang.
ü   Kain Tenun Toraja
Kain tenun pun termasuk unsur dari baju adat Toraja yang sampai ketika ini masih dipakai oleh masyarakat selama serta menjadi kain incaransemua wisatawan. Untuk masyarakat, kain tenun adalah tanda kasih sayang dari saudara mereka yang telah meninggal. Di samping itu, kain ini juga mempunyai peran urgen dalam upacara pemakaman keluarga. Kain tersebut diandalkan  sebagai pertalian kasih dengan sanak keluarga yang sudah meninggal di wilayah Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. Kini kain tenun ini telah menjadi salah satu usah yang digemari banyak orang di Toraja.
ü   Sarung Kain Tenun Toraja
Baju adat Toraja selanjutnya yakni berupa sarung berbahan dasar kain tenun. Sarung tersebut seringkali digunakan oleh semua tetua adat guna memimpin upacara Rambu Solo’ atau upacara kematian di Kecamatan Rantepao. Umumnya kain tenun yang dipakai sebagai sarung berwarna putih. Hal ini dimaksudkan untuk mengindikasikan status kebangsawanan seseorang. Sayangnya, kain tenun itu sudah paling langka. Sehingga banyak sekali tetua melulu mempunyai paling tidak satu saja sarung kain tenun.Itulah sejumlah pakaian adat Toraja beserta keterangannya. Di antara banyaknya baju adat Toraja, kain tenun telah mulai jarang di dapatkan. Sudah seharusnya kita mengawali melestarikannya kembali supaya keanekaragaman adat istiadat serta kebiasaan Tana Toraja terus ada.

TERIMA KASIH TELAH MEMBACA,!!!

Sumber: https://budayawan.com/mengenal-keragaman-ciri-khas-baju-adat-toraja.
Kamus Bahasa Toraja



Thursday, April 11, 2019

Stoop!!!! Bully

Bully

Bukalah media sosial Anda atau bacalah kolom komentar di halaman berita, sepertinya Anda akan menemui banyak sekali komentar-komentar bully terhadap pihak lain. Bully mempunyai suatu karakteristik dominasi dari seseorang atau sebuah kelompok yang merasa diri superior terhadap orang lain atau kelompok lain. Karena itu ejekan, cemoohan, hinaan merupakan bentuk dari bully secara lisan.
Kenapa kita kerap melakukan bully baik secara sadar maupun tidak? Karena itulah cara kita mengangkat diri kita lebih dan superior dibandingkan orang lain yang bisa kita rendahkan. Hal tersebut rupanya membawa kesenangan, karena siapakah yang suka direndahkan? Mangsa paling empuk untuk sasaran bully bukanlah orang paling buruk, paling rendah, paling di bawah, melainkan orang-orang yang munafik. Misalnya ketika dalam sebuah kampanye anti korupsi, ada sekelompok yang menyerukan slogan “katakan tidak pada korupsi”, tetapi setelah banyak yang tercekok pidana korupsi, ramai-ramai di medsos, netizen mengubahnya menjadi “katakan tidak pada(hal) korupsi”. Kita mungkin akan otomatis menyindir, menghina, dan mencemooh seorang pelacur yang berbicara tentang pentingnya kesetiaan dan kesucian hidup; atau seorang preman berbicara tentang kelemahlembutan; atau seorang dokter ahli jerawat tapi sendirinya wajahnya penuh jerawat.
   Di dalam peristiwa penyaliban Kristus, kita juga mendapati banyak sekali bully yang terjadi. Orang-orang Romawi memandang rendah mereka yang disalibkan, karena mereka tidak boleh mengalami penyiksaan barbar seperti ini. Orang-orang Yahudi di bawah salib menghujat dan menghina mereka yang disalib, karena mereka di bawah, bukan di atas salib. Mereka yaitu para pemberontak yang disalibkan juga merasa diri lebih heroik dan lebih berkorban dibanding mereka, para pengecut yang di bawah salib. Namun sasaran paling empuk tentunya adalah Yesus yang disalibkan di tengah:
“Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri!”
“Bukankah engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!”
dan tulisan di atas salib Yesus “Raja Orang Yahudi” makin menegaskan ironi bahwa raja orang yahudi ini bukan memakai jubah kebesaran kerajaan di atas singgasana, tetapi telanjang penuh bilur dan darah terpaku di atas salib.
Biasanya bully direspons dengan serangan balik berupa bully yang lebih pedas. Namun tujuh perkataan Yesus Kristus di atas salib tidak ada satu pun yang bernada merendahkan tetapi justru tujuh perkataan paling agung yang terucap di atas kayu salib. Tujuh perkataan yang menyatakan orang yang paling direndahkan ini mempunyai sikap dan hati yang paling agung dan tinggi, bukan berasal dari dunia yang rendah ini. Apakah Anda terprovokasi untuk membalas bully dengan bully? Itu hanya membuktikan kita tidak lebih baik, biarlah racun-racun tersebut kita ubah dan ganti menjadi aliran air segar dengan kata-kata yang menyejukkan dan memberkati.
Mari menyambut bulan sengsara Kristus, menyambut Jumat Agung dan Paskah, dengan merenungkan kembali tujuh perkataan salib nan agung tersebut.

NiCk Vujivic seorang motivator kristiani yang pernah mengalami bullyan di sekolahnya dan hampir membuatnya bunuh diri, karena itu PIKIRKAN dulu sebelum NGEBULLY!

Terima Kasih telah membaca, stopp Bully, thanks!!!