Wednesday, December 12, 2018

Kuburan Bayi dalam Pohon Tarra di Tana Toraja

  Kuburan Bayi dalam Pohon Tarra di Tana Toraja

https://pancasilasebagaifalsafahidup.blogspot.com/
Masyarakat di Tana Toraja memang diketahui memiliki berbagai cara unik untuk menguburkan anggota keluarga yang sudah meninggal. Salah satu contohnya adalah kuburan bayi di dalam pohon di desa Kambira.

Di sana, bayi yang meninggal sebelum giginya tumbuh dikuburkan di dalam sebuah lubang yang dibuat di pohon Tarra. Lubang itu kemudian ditutup menggunakan anyaman ijuk.

Dipilihnya pohon Tarra sebagai tempat penguburan bayi sendiri dikarenakan pohon ini memiliki banyak getah yang bisa dianggap sebagai pengganti air susu ibu.

Dengan menguburkan bayi di pohon ini, orang-orang Toraja menganggap sang bayi seperti dikembalikan ke rahim ibunya dan mereka berharap pengembalian bayi ini ke rahim ibunya akan menyelamatkan bayi-bayi yang akan lahir kemudian.

Pohon Tarra umumnya memiliki diameter cukup besar sekitar 80 hingga 100 cm. Pemakaman seperti ini dilakukan oleh orang Toraja pengikut ajaran kepercayaan kepada leluhur.

Upacara penguburan ini biasanya dilaksanakan secara sederhana dan bayi yang dikuburkan tidak dibungkus dengan kain, sehingga seperti masih berada di rahim ibunya.

Sementara itu, penempatan jenazah bayi di pohon Tarra ini selalu disesuaikan dengan strata sosial masyarakatnya. Semakin tinggi derajat keluarga bayi tersebut, maka semakin tinggi letaknya di pohon Tarra. Bayi yang dikuburkan di pohon ini tidak diletakan sembarangan melainkan diletakkan di lubang yang mengarah ke tempat tinggal keluarganya.

Tertarik melihatnya secara langsung?
datang dan saksikan sendiri di objek wisata:
 Kambira Baby grave, Tinoring Baby grave, Bau baby Grave, Aa' Baby Grave dan masih banyak lagi

Cerita Rakyat Dari TOraja NENEK dan KERBAU

https://pancasilasebagaifalsafahidup.blogspot.com/2018/12/cerita-orang-toraja-mengenai-kebaikan.html
NENEK dan KERBAU
Aku memeluk kepala tedong bongaku untuk terakhir kalinya. Bulu-bulunya yang putih dan halus menyentuh pipiku. Kuelus sejenak lehernya dan kupandangi penampilannya yang gagah siang ini. Mengenakan kalung dari bulatan-bulatan kayu yang dijalin rapih dan kain merah berumbai kuning yang diikatkan di kedua tanduknya, ia sangat tampan. Matanya yang hitam menatapku lalu mengerjap perlahan, seolah ingin mengatakan salam perpisahan.
“Kau tampan, sudah…” bisikku di telinganya.
Ia mengibaskan ekornya lalu menekankan moncongnya lembut ke lenganku. Biasanya, setelah itu ia akan berlari memutari tubuhku. Tetapi ikatan di simbuang kali ini tidak mengizinkan ia berlari dengan bebas seperti yang selalu ia lakukan setiap kali aku memujinya.
Seorang lelaki menepuk pundakku. Aku berbalik dan dadaku berdesir saat melihat la bok duatalan di tangan lelaki itu. Tiba-tiba aku ketakutan. Dalam beberapa tahun terakhir, tangan berotot lelaki itu sudah menebas delapan ribu tedong. Semua pengunjung selalu puas melihat atraksinya menebas leher-leher tedong. Sigap dan tepat. Dalam sekali tebas, kepala tedong langsung terlepas dari lehernya dan menggelinding di halaman upacara kematian.
Dan sebentar lagi, lelaki ini akan menebas leher tedong bongaku.
Sekali lagi aku mengelus kepala tedong bongaku sambil berbisik,” Selamat jalan, sudah. Kita pasti bertemu lagi di puya.”
Tedong bongaku melenguh lirih sambil menatapku tenang. Aku tak melihat ketakutan sedikitpun melintasi mata hitamnya. Apakah ia sudah siap menjadi kendaraan nenek menuju puya? Lelaki itu memberiku isyarat untuk menepi. Mataku memanas ketika lelaki itu menuntun tedong bongaku menuju pelataran upacara. Orang-orang berdiri mengelilingi pelataran upacara dengan wajah antusias. Anak-anak memegang bambu dan menunggu. Dadaku berdebar kencang saat la bok duatalan di tangan kanan lelaki itu mengayun cepat dan dahsyat menebas leher tedong bongaku. Darah muncrat bagaikan pancuran. Sebelum tedong bongaku roboh, anak-anak berebut mencolokkan bambu ke lehernya untuk menadahkan darah.
Pandanganku mengabur. Sebelum duniaku gelap, aku melirik Mama duduk tegak di antara delapan saudaranya yang lain. Mama mengangguk padaku sambil tersenyum bahagia.
***
“Lai, badanmu panas dan wajahmu pucat. Kau sakit?” tanya Mama sambil menempelkan telapak tangannya di keningku.
Aku hanya diam. Upacara rambu solo nenek masih berlangsung dua hari lagi, tetapi aku tidak kuat mengikuti rangkaian upacara itu. Badanku lemas dan dadaku selalu berdebar kencang setiap mengingat tedong bongaku.
“Makan, sudah…” bujuk Mama sambil menyodorkan sepiring nasi dengan lauk pa’piong.
Aku melotot melihat pa’piong yang bambunya sudah terbuka. Apakah daging pa’piong itu daging tedong bongaku? Ada nyeri yang menelusup ke dadaku. Nyeri itu berubah menjadi bara yang membakar setiap aliran darahku. Aku tidak mungkin memakan daging tedong bongaku! Bagaimana mungkin mama memberikan daging itu padaku untuk kumakan? Bukankah mama tahu aku sangat menyayanginya?
“Makan, sudah…” ulang mama sambil menganggukkan kepalanya.
Aku menatap mata mama yang menyorot teduh. Kata-kata sepupuku yang nyinyir terngiang lagi di telingaku, “mamamu ingin dapat warisan paling banyak, karena itu dia mengorbankan tedong bonga kesayanganmu. Kasihan sekali orang miskin seperti kalian, berharap-harap warisan.”
“Makan sendiri kalau kau ingin makan, mama akan bantu beres-beres di rumah nenek.”
Saat mama beranjak dari tepi pembaringan, aku menyambar tangannya. Mama kembali berbalik dan menatapku. Matanya penuh tanda tanya.
“Jadi mama menggadaikan tedong bongaku berapa?”
Mama terkejut. “Maksudmu apa, Lai?”
“Mama mengorbankan tedong bongaku untuk mendapatkan warisan paling besar dari nenek ‘kan? Karena tedong bongaku paling mahal! Lai tahu mama bosan hidup miskin. Tetapi kenapa mama harus menggadaikan tedong bonga Lai?”
“Lai? Mama tidak mengerti apa yang kau katakan.”
“Mama bilang ingin mengorbankan tedong bonga Lai untuk kendaraan nenek di puya! Tapi sebenarnya mama ingin mendapatkan warisan paling banyak!”
“Diam, sudah!” bentak mama dengan wajah memerah.
“Aku tak menyangka mama pembohong!”
Tiba-tiba tangan kanan mama menyambar wajahku hingga aku terjengkang. Mama menamparku! Darah di sekujur tubuhku semakin mendidih. Air mataku mulai mengalir membasahi pipi. Aku tak menyangka, mama melakukan ini.
“Kau harus belajar mendengar dengan baik, Lai…” suara mama terdengar seperti menggeram lalu pergi meninggalkanku.
Membayangkan mama mendapatkan bagian warisan terbesar dari tedong bongaku, dadaku sesak. Mendadak ada kekuatan yang membuatku bangkit dari pembaringan. Dengan langkah tertatih-tatih aku menuju lemari dan mengeluarkan sleuruh bajuku. Aku harus pergi!
***
Malam mengatupkan matanya yang lelah. Aku menggigil kedinginan saat membuka pintu. Kegelapan seperti barisan raksasa yang hendak menerkamku. Tetapi, tekadku sudah bulat. Aku ingin meninggalkan mama dan rumah ini. Aku belum tahu hendak melangkahkan kaki kemana. Tetapi seorang temanku yang menjadi calo tenaga kerja di Makale pernah bercerita tentang nikmatnya hidup di ibukota.
“Ke Jakarta, sudah. Wajah manismu akan mendatangkan rezeki,” kata temenku itu.
Apa benar wajahku mendatangkan rezeki? Dulu aku tidak pernah berpikir apapun tentang itu, tetapi sekarang aku mulai memikirkannya. Aku berharap tawaran temanku itu masih berlaku.
Angin malam menerpa tubuhku. Aku merapatkan jaket kusam yang kukenakan lalu menutup pintu. Mama belum pulang dari rumah nenek atau mungkin malam ini tidak pulang. Nenek memiliki banyak tanah dan harta. Pembagian warisan itu pasti membutuhkan waktu lama. Dadaku kembali bergejolak. Aku berjalan tergesa meninggalkan halaman, tetapi tiba-tiba aku mendengar suara lenguh yang khas. Mendadak aku menghentikan langkah.
“Bonga?” jeritku lirih.
Aku menoleh ke sana ke mari tetapi tidak menemukan apapun. Kutinggalkan tas pakaian di pojok halaman lalu aku berjalan menuju samping rumah. Sampai di depan kandang yang sekarang kosong aku berhenti. Apakah arwah tedong bongaku masih berkeliaran di sini? Bukankah ia telah mengantarkan nenek ke puya? Tetapi suara apa yang terdengar barusan? Aku sangat yakin suara itu adalah suara tedong bongaku.
Air mataku kembali mengalir. Aku terjatuh lemas di depan kandang. Kedatangan tedong bonga kecil bertahun-tahun yang lalu di kandang ini kembali memenuhi kepalaku. Waktu itu ayah baru saja meninggal. Berbulan-bulan aku sangat sedih kehilangan ayahku. Mama tak pernah bisa menghiburku lagi karena dia pun sedih kehilangan ayah. Kehidupan kami yang miskin semakin memburuk.
Kemudian nenek datang membawa bayi tedong bonga. Semua sepupuku iri melihat pemberian nenek padaku. Bagaimana tidak? Tedong bonga ini setelah besar nanti akan berharga ratusan juta rupiah! Semua orang akan berebut untuk mendapatkannya. Jika tedong bonga ini dikorbankan, ia akan menjadi kendaraan terbaik menuju puya bagi orang yang telah mati. Dan nenek memberikannya kepadaku! Tetapi aku memahami alasan nenek.
“Tedong bonga ini sangat manis. Ia akan menghibur kesedihanmu. Tersenyumlah, sudah,” kata nenek seraya mengambil tanganku untuk mengelus punggung bayi tedong bonga itu dan tersenyum padaku.
Aku memeluk bayi tedong bonga itu dan merasakan kehangatan tubuhnya. Ia melenguh lirih lalu menatapku dengan pandangan bersahabat. Sejak pertama menyentuh tubuhnya, aku menyukainya. Di sudut halaman, aku melihat mata mama berkaca-kaca.
“Kalau bonga besar nanti, apa aku harus mengorbankan dia untuk seseorang, nek?” tanyaku.
Nenek tersenyum dan menghela nafas. “Lai, hidup bonga akan berarti jika ia dikorbankan. Tetapi itu juga tergantung keikhlasanmu. Jika kau tidak ikhlas mengorbankan bonga, lebih baik tidak kau lakukan. Tetapi jika kau ikhlas, bonga akan menjadi kendaraan terbaik menuju puya. Dan dia juga akan mendapatkan tempat yang baik di puya.”
Aku mengangguk-angguk mengerti.
“Jangan berpikir itu dulu, Lai. Rawatlah bonga. Semoga ia bisa menghiburmu dan kalian menjadi sahabat yang baik,” lanjut nenek.
Kami memang ditakdirkan menjadi sahabat. Sejak kehadiran tedong bonga yang lucu itu hari-hariku kembali berwarna. Mama senang melihatku kembali ceria. Perlahan-lahan aku bisa melupakan kesedihanku di tinggalkan ayah. Setiap hari aku mengajak bonga jalan-jalan mencari rumput, memandikannya di sungai dan bersama-sama melihat matahari tenggelam. Setelah bonga besar dan kuat aku sering menungganginya sambil bermain. Kami seperti memahami bahasa masing-masing. Setiap aku merasa sedih, bonga akan mengusap-usapkan moncongnya ke lenganku. Begitu juga saat bonga sakit, aku akan mengusap-usap kepalanya sambil mendengarkan lenguhan-lenguhan kesakitannya.
Aku dan bonga tumbuh bersama. Tetapi hari-hari tak selamanya indah. Banyak yang iri atas persahabatan indahku dengan bonga. Hal-hal buruk harus kami hadapi. Sepupu-sepupuku yang jahat itu sering menyakiti bonga. Mereka tidak bisa menerima kenyataan nenek memberikan bonga padaku.
“Hei orang miskin! Kamu tidak pantas memelihara tedong bonga itu. Pasti besok dia mati sudah!” ejek mereka saat aku mengajak bonga mencari rumput.
Dan esoknya bonga benar-benar sekarat. Aku menangis ketakutan tidak tahu harus berbuat apa. Untunglah mama sangat cekatan menangani masalah ini. Mama memberikan bonga ramuan dari daun-daunan. Beberapa jam kemudian bonga sembuh seperti sedia kala. Menurut mama, bonga keracunan. Ada orang yang telah memaksa bonga untuk minum racun itu. Aku geram mendengar kata-kata mama. Kejadian itu berlangsung beberapa kali, tetapi bonga bisa lolos dari maut.
Sampai kemudian hari itu datang. Nenek meninggal dan semua keluarga sepakat mengadakan pesta kematian rambu solo setahun kemudian. Aku melihat mama sangat kebingungan. Semua saudaranya kaya-raya dan dengan mudah bisa membeli tedong di pasar meskipun tidak sekelas tedong bonga. Tetapi, mama memang tidak memiliki uang sedikitpun untuk membeli tedong atau babi korban. Aku tak sampai hati melihatnya kebingungan.
“Mama bisa mengorbankan bonga kalau mau…” kataku ragu-ragu.
Mama menggeleng. “Tidak lai. Bonga itu sahabatmu.”
“Tidak apa Ma, mungkin hidup bonga lebih bermanfaat kalau di korbankan. Lagipula bonga itu pemberian nenek,” lanjutku berusaha meyakinkan mama dan diriku sendiri.
Mama menatapku lama. Ia mencari keyakinan dari kata-kataku.
“Kau yakin akan mengorbankan bonga?”
Dan aku mengangguk. Pasti.
Lalu apa yang kusesali sekarang? Bukankah aku sendiri yang mengorbankan bonga untuk upacara kematian nenek? Kenapa aku menyalahkan mama? Aku hanya tidak ingin hati mama tergoda warisan nenek sehingga langkah bonga tersesat tidak sampai ke puya. Dan kenyataannya mama memang tergoda!
Air mataku kembali mengalir.
“Maafkan mama, Lai…”
Suara itu mengejutkanku. Aku berbalik dan melihat mama berdiri di belakangku menjinjing tas pakaianku. Pipi mama basah oleh air mata. Aku tercekat melihat wajah mama yang tua dan menderita.
“Mestinya mama tidak mengorbankan bonga karena akan membuatmu sedih. Mestinya mama membeli satu babi saja.”
Aku masih diam menatap mama.
“Warisan itu sudah dibagi-bagi. Mama memang mendapatkan warisan paling banyak karena bonga harganya paling mahal. Tetapi mama tidak mengambil warisan itu. Lebih baik mama tetap miskin daripada harus kehilanganmu.”
Aku terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa. Perasaan bersalah merambati dadaku. Kulirik tas pakaian di tangan mama dan aku merasa malu. Seumur hidupku, mama selalu memberikan cintanya padaku. Selalu ingin membuatku bahagia. Tetapi aku telah menuduhnya menginginkan warisan itu. Tidak tahan dengan rasa bersalah, aku berlari menubruk mama.
“Maafkan Lai, mama. Maafkan Lai.”
Mama terisak. Tangannya mengusap rambutku lalu menenggelamkan aku dalam pelukannya yang hangat. Dari kejauhan samar-samar aku seperti mendengar suara orang melakukan ma’badong. Di antara ibu-ibu yang bersedu-sedan dan pria-pria yang berteriak penuh semangat, aku melihat nenek mengendarai tedong bongaku dan melambai kepadaku.
Wajah keduanya tampak berseri-seri!

Gayang sola La'bo' Pa'tampa deata Sebuah Cerita Rakyat dari Toraja

"Gayang sola La'bo' Pa'tampa deata"
https://pancasilasebagaifalsafahidup.blogspot.com/2018/12/cerita-orang-toraja-mengenai-kebaikan.html

Den misa' tomatua disanga Ambe' Poli' torro jo Sangalla'. Iate Ambe' Poli' mane sule jomai pa'lakna jong Ma'kale. Iatonna lendui Tete Bassi den Tomatua Ulu natiro ma'dokko jo to' lalan. Mekutanami, "O Ambe', ma'tumbarokomu?"
Mebalimi tomatua, "A'u, lamalena' indeto rokko pa tangkubelamo!"
Itonna tiroi Ambe' poli' tu tomatua, butung tang mamase-mase pananna lantampei. . Tae'sangapa melemi nasolan Ambe' Poli' te Nene' pake sare motoro'na. Apa mangnga te Ambe' poli', belanna iatu angin messiok lulako lujiomai, apa napatarru'bang ambe' Poli' tu motoro'na. Iatonna lambi'mi Rantelemo, ra'damo tu angin, ma'kadami ne' matua ulu:
Nene' : "O anak!"
Ambe' Pili' : "Matumbai To Matua? Lamengkalo indemokomuraka te?"
Nene' : "io. lamengkalomo'. Pa kampaipa' sattu', kulopa rokko salu dolo.
Mengkalaomi nene', apa ma'pepeasan nene' lako ambe' poli', nakua: "Anggi' mu messaile rokko salu!"
Iatonna malemo nene' rokko salu, mangnga pole' oimi Ambe' Poli', narangi susi wai sumalapa-lapa tongan jongmai salu, sia iatu guntu' mema'tu-ma'tubang.
Tae'sangapa, sulemi nene' jongmai salu, mekutanaomi Ambe' Poli', "Matumbai ambe'?"
"Melomo te inan inde jong pa lakutiropa inderekke dolo!" pebalinna nene'.
Nasolan omi tarru'-tarru' rekke... iatonna lambi'mi salu silandi'na eran batu, turun omi te nene'. Tae' sangapa na melapa-lapa tu wai salu, messik lulako-ludiomai tu angin, sia mema'tu-ma'tu guntu'... Nang sellang-sellang tongan sirau mataku'mi te Ambe' Poli'... Nakua apamote!
tae'sangapa sule nene' jongmai salu sitangke gayang bulaan. Ma'kadami, "E, anak, tae'bang te apa lukubengko. Apa iabangmo te gayang sola la'bo' muala. Ammukilai tu penggauran melomu te allo totemo.

Refleksi filosofis: Lakukanlah kebaikan, tolonglah orang yang membutuhkan pertolonganmu. Walau tanpa imbalan jangan berkecil hati. Biarlah ketulusan hatimu itu yang menjadikan dunia ini lebih baik.

Sumber dari: Facebook group Ulelean Parena Toraya,
(Maaf jika ada kesamaan nama, nama tempat dl cerita hanya pemanis)
Terima Kasih Telah Membaca
baca juga cerita lainnya di:
https://pancasilasebagaifalsafahidup.blogspot.com/2018/12/cerita-orang-toraja-mengenai-kebaikan.html

Cerita Lucu Toraja; So' Tori' dan Kopi


https://pancasilasebagaifalsafahidup.blogspot.com/


SO' TORI'
Den pa' pia' di sanga Tori' mane sd....tae" liu naporai tu peladaran matematika ...wattunnamo matematika..ma' turrun pili' bangmi to Tori"..nakuami ibu guru : matumbako Tori'.. Masakiko?.. Nakuami: tae'ra ibu..tapi kilalaina' ambe' ku lan lembaga sola indokku lan rumah saki'..gagal pahammi tu ibu' guru..nasanga di tarungku tu ambe'na ,nadi opname lan rmh saki' tu indokna...merasa kasihanmi te ibu guru nakuami: sule bangmoko dolo Tori, tiroi tu indokmu..parannu Tori' male ma' dondo dondo...natiromi solana...nakuami matumbai tu Tori nasule ibu guru?.. Nakuami ibu guru..indokna lan rmh saki' na lan lembaga tu ambe' na..nakuami tu solana: natang lan lembaga ke pegawai lembaga tu ambe' na..na lan rmh saki' tu indokna saba' suster lan rmh saki'.. Sala' pa mannamo kidena ibu guru...

https://pancasilasebagaifalsafahidup.blogspot.com/
Linggo, Petu', dan Secangkir Kopi
Den sangmelambi' ma'dokko-dokko mangiru' kopi Linggo sola Petu' jo tando'.
Den 5 meni' sikappan bang soladuai. Ia te Linggo napematiroi tongan tu kopinna.
Ma'kadami Petu': "O Linggo, matumbaroko?"
Apa kappa Linggo. Sattu' to na messaile lako Petu', nama'kada: "O Sankkane, iake kutangnga'-tangnga'i, iate katuanta lan lino susi secangkir kopi!"
Napebalimi Petu': "Hooo'! Malotongrakaiko katuammu mukuari susi kopi!"
Linggo: "Tae'raia sakkane, pa iate katuan lan te lino den mapassikna, apa denduka matanikna!"
Kappa bang Petu' ma'perangi.
"Iatu katuan namui den mapassikna apa den duka matanikna. Iake dipasiraumi susi kopi nadisimborrok, HA'a.... lendu' tongan ia marasanna. Ko iake denni tu parri' musa'dingan lan te katuan, paralluki' ma'sukkuru'. Belanna nangladen tu matanikna larampo. Dakopa musa'dingi marasanna. Susi to Sakkane!"

Petu': "O Linggo, iko tongansiaraka te? Te'siaraka mu katamanmo!
Refleksi Filosofis: "Jangan menolak penderitaan. Karena sebenarnya penderitaan adalah teman dari kebahagiaan/kesuksesan. Ibarat nikmatnya kopi dan gula ketika di'simborrok'!"


https://pancasilasebagaifalsafahidup.blogspot.com/2018/12/cerita-orang-toraja-mengenai-kebaikan.html
Linggo sola Sapatunna
Den misa' passikola disanga Linggo. Iate Linggo massikola jo to' Ala'. Belanna jo to' biring pangala' passikolanna, majarangpa pia massapatu sia massandala'.
Den sangallo, malemi te Linggo massikola, apa massapatu sangbali. Iatonna tamamo kelas, kumarrak nasang tu solana metawa, belanna sangbaliri tu sapatunna.
Ma'kadami gurunna,

Guru : "O Linggo, ianna tae'de tu sapatummu sangbali. Andi' pissanmo mu massapatu!"
Linggo : "Tae'ra nata'de sapatungku sangbali. Sangbalinna kuben sangmaneku. Saba' lamoraiduka massapatu!"
Refleksi Filosofis:
"Apa yang dilihat oleh orang lain sebagai kekurangan/kehilangan pada dirimu, bisa saja hal itu sebenarnya adalah kelebihanmu."

Tantan Kapu' Sebuah Cerita Tidak Jelas Dalam Bahasa Toraja

https://pancasilasebagaifalsafahidup.blogspot.com/2018/12/cerpen-toraja-tentang-tobuta.html

Tantan Kapu'

Den omo tee kapu' ladi tantan...
Den to pissan ki male ma" pesta.. yatu solaki ma' oto ya.. aku sola dua sangmaneku disanga Aten ma' motor....uranmi kilendu' mentiongan jo misa' ga'deng....yate Aten..buda panu sia jerawatna jo lindona..asyik bangmi maningo hp...tae' na masai tassu' mi baine malappuk lanmai banua..apa kininan duka lindona...nakuami..ah lendu' melona te alang sura' sambali' pa naro'tok ro'tok tabuan tu longana....keke' na' pudukku metawa....ku balii mi ..kukua nasilo ki te ale sura' dialloi sambali' saba' malotong lotong na bottokki tumayong....yate baine langsung mallai tama banuanna....tae' na masai tassu' omi muane ganta' kalando kapua, na kapua tambukna...nakuami yatu pia inde mai kampung noka'ya pakei tu motor ba'ru nakua tangna bela male ..na motorki dikka' nasindir saba' motor matessek bangmo..
Kukuami lako sangmaneku ..Ten..sangtaunmo lendu' na kilendu' inde tee..yate se'pon marante pa..totemo latuan manna mo lanmai..nakuami te tau umbaraka pole" minii torro soladua kukuami misa' lembangki pa..ambayang ki raka te kumua tasipebau..metawa male mallai hhhhh..




Uleleanna to buta sola to kupi' lalamban salu.
Pada mentiongan ade' dio ga'deng sola dua. Sipassuritami nakuami to buta lalamban salu na' pa tang kutiro tu lalan. Nakua dukami to kupi' lalamban duka nak pa tang tiretok lette'ku ma' lingka. Nakuami to buta bisa na' aku ma' lingka mu bisa mentiro. Nakuami to kupi' susi te kolong na' na aku ntiro lalan na iko ma'lingka. Mengkolongmi to kupi' na male rokko randan salu lalamban. Yatonna diongmo randan salu nakuami tu to buta uuuu.. den anak dara mendio'.
Pekutana: umba nakua tobuta untandai den anak dara marassan mendio'.

TABARO.
.
Ya ade' tonna male medama' tu nnk rokko ala'...dibenmi kapurung. Maming liu nakande..na mekutanami kumua dipatumbai tu kapurung na mamming..nakuami to ala' di kotokki....ko masemanga' mi na allimi sang bala'ba' na bawai langngan kampong..yatonna garagaimi tu tabaro..nasuami tu anakna mengkotok2...nacoba oi..na tae'na mamming..nakuanmi tu mintu'pia na mengkotok lo'lu pangkung bai...nacoba oi na tae'duka na mammi....
Yatonna sule rokko ala' nakuami lako ti ala'.na tae'nasusi ke kamu unggaragai tu kapurung..nakuami to ala'.mipatumbari..nakumi nnk ki kotokki duka...hhhhhhhhh
Nakuami to ala' diparkkoi ya bale koto'..tae'ya na kumua di kotokki susi manuk..he.he.he.he

Indo' Manuk sola Anakna
Uleleanna indok manuk sola anakna..
Anak manuk : Ma..matumbai na misa'bangri kita tu sangannta...MANUK? yanta bitti' pa disaingaiki' anak manuk..na yaanna tolino bitti'pa na denmo sanganna....den sok batto den duka lai'sura'...
Mama manuk : ko nandimo mu mallo sia majong inaa...yatu tolino ke matei misa'dukari sanganna..disanga mayat..na misa'ri inan dinani unnannai di sanga kaburu'.
Nayatu kita manuk ke mateki' buda kita sangannta..den disanga manuk panggang den disanga manuk goreng..na buda kita inannta..biasa kita jo ki'warung makan biasa duka jo ki'lu restoran terkenal...
Ko patarru'tarru'mi...hhhhhhh

"LINGGO"
Den sangmelambi' na male Linggo tore' tedongna rokko salu. Apa malillinbangpa namalemo te Linggo. Iatonna rampomo diong salu, namangka tore' tedongna, ma'dokko-dokkomi. Natiromi lan karung dio sa'dena ma'batu-batu kalebu. Naalami simisa'-misa' napellebaranni rokko salu. Masannang penanna tonna tiroi tu wuai tibura' ke napellebarannomi to batu. Natole-tolemi pellebaranni. Iatonna parrangmo, lanaalapa to' batu, apa misa'mora torro. Apa lendu' mangngana te Linggo, belanna natiro to' batu lan karung, na tannia ia batu. Belanna mariri ia na me'lok. Napematiro-tiroi tonganni. Nakanassaimi, Ha'aa... na bulaan kalebu!
Iatonna tiroi to, lendu' menassanna. Saba' bu'dakmo tu bulaan kalebu mangka nabuang rokko salu.

Refleksi filosofis: Kadangkala kita perlu menguji berbagai kesenangan yang kita dapatkan. Jangan-jangan itu hanya kesenangan yang mengorbankan hal yang lebih besar dan lebih berharga. Salama' Allo Minggu!
Gbr hanya pemanis

 Catatan :
Gambar Hanya sebagai Pemaniss
Sumber: Grup ullean pare toraya, Facebook
wawancara dengan beberapa narasumber :

Linggo SebuahKisah Inspiratif Orang Toraja

https://pancasilasebagaifalsafahidup.blogspot.com/


 "LINGGO"
Den sangallo na male tu Linggo sitammu Ne' Bolu. Iate ne' Bolu pa'dampi. Tallungallomo malillung sia masaki-sakibang ulunna nasa'ding te Linggo. Sipa'kadami soladuai,
Ne' Bolu : Matumbari misa'ding?
Linggo : Malilungbang sia masaki ulungku, na tallungallomo. Malillinbang pentiroku, na butung lasongka kusa'ding.
Natiro-tiromi Ne' Bolu tu lindona Linggo, sattu'to na ma'kada Ne' Bolu: "Eeee... belanna malillinbang tu apa mutiro. Iammulamorai mondo, Iake sulekomi lako banua dako, usahakanni na ianasang tu apa mitiro maido. Susi daun kayu maido. Masannangki' tiroi to' ke maidoi!"
Iatonna sulemo lakobanua te Linggo, naala tu ce' maido. Namale cet nasangi tu apa lan banua. Ba'ba nace' maido, piring nace' maido, pakianna, naallinasang tu maidona, piringna nace' maido duka, saelako bainena napa'pirang maido.
Tallungallo lendu'na, rampomi te Ne' Bolu lako banuanna Linggo.

Mangangami, "Ho..., na maidonasangmo te issi banuammu Linggo?"
Mebalimi Linggo, "Na kamuka kuai pemaidoinasangi tu apa mutiro!"
Sala'pa manna kidena Ne' Bolu, namebali: "Heee, kukuari umbanakua carami nabisa maido mitiro tu apa. Tae'ra kukuai pemaidoi nasangi. Sia tae'ra kukuai ce' maidoi! Belanna bisakomu ala kacamata maido kacana, mipakei. Tae'ia miparallu pemaidoi nasangi tu apa!"
Refleksi Filosofis: Seringkali manusia berusaha mati-matian mengubah sesuatu yang ada di luar diri mereka. Bahkan seringkali manusia berusaha mengubah hal-hal yang memang tidak bisa dirubah karena kodrat kelemahan manusia yang masih berada di dunia. Padahal segala hal yang di luar itu bisa berubah dengan sendirinya jika kita mengubah cara kita memandangnya. Janganlah terlalu banyak mengkritik hal di luar diri kita. Yang terpenting, perbaikilah diri kita dan cara pandang kita di tengah dunia ini. Selama di dunia kita tetap akan menemukan banyak kelemahan dan kekurangan.
Salama'


Sumber dari:  Group Facebook, Cerita Lucu hasil ngobrol dengan teman2
Jika anda memiliki cerita lucu atau cerita rakyat toraja ketik di kolom komentar di bawah dan tulisan anda menjadi bagian dari blog ini kurre sumanga'
Terima Kasih Telah Membaca,, Kunjungi juga cerita lainnya di https://pancasilasebagaifalsafahidup.blogspot.com/2018/12/cerita-lucu-dalam-bahasa-toraja.html

Cerita Lucu Dalam Bahasa Toraja

 


Duma' adalah seorang perantau toraja yg sukses,,penghasilannya lumayan,,ia bekerja disebuah perusahan milik pemerintah yg benar benar memperhatikan kesejahtraan para pekerjanya..gaji pokok,lembur,plus bonus selalu ia terima setiap bulannya..

Tetapi semuanya itu tidak menjamin kebahagian rumah tangganya..istrinya(sabe') makin hari makin kurus,,TIKKURUN bangmo lindona,,MALAYU BANGMO,,TANGROKKOMO ade' naa tiro hahahahaha..ia pun curhat ke teman sekantornya.(Sebut aja #pongmarassan)

Pongmarassan memberi saran supaya ia lebih peduli kepada istrinya,, "mungkin denna pomapa'dik penaa ne'laikmu,,cobalah bicara dari hati ke hati,," begitulah kira kira saran yg diberikan pongmarassan.
duma' akhirnya pulang kantor lebih awal ,,.sampai dirumah ia langsung mencari istrinya...

" Ooh ne'laik "
"Ooohh ne'laik umbamokoo"

ga ada jawaban,,!!

Ia langsung masuk kekamar,,ia sempat kaget melihat istrinya MA'PATU'TUN DIO TO'RINDING,,kondisinya lemah,,madongkong,rambutnya acak acakan,,tikkurun lindona,,(kenna tambai malayu bangmo mui doko moka dukamo kandei hahahahahaha) lanjutt!!

Dengan penuh kasih sayang,Nathan mendekati istrinya dibelainya rambut sang istri,seraya berucap,

" Ne'laik,,den raka naa pommapa'dik penammu lako aku,,tirori tu kalemu malayu bangmo,,tikkurun bangmo pili'mu.."

Sang istri pun dengan manja,,menjawab

" Umbakukua tang madoko sia malayu kee...mane sitette' pitu mu MA'TAMBAH mo kebongi,,natae'na bela KETAMBAH tu gadimmu mubenna',, Tette' Sangpulo dua bongi LEMBUR omoko natae' ฮฒang... Mubenna tu seng PA'LEMBUR mu jiong kantoro',,,melambik to lamaleko ma'jama peta'da omoko BONUS sipissan,,naa tae' banggra dikka kubela leppa'kki tu disanga SENG BONUS diomai kantoro',,,,ammu morai tirona malompo MANGNGELO opoko te bongi...."

Hahahahahaa buadik!!!!!

Terima Kasih Telah Membaca, baca juga di https://pancasilasebagaifalsafahidup.blogspot.com/
 
sumber gambar Dari pinterest
 

Cerita Rakyat Orang TOraja: Gonggo Patua'


https://pancasilasebagaifalsafahidup.blogspot.com/
Gonggo Patua'

Den sangallo lan tondok dadi tu misa' pia muane lendu' kapuanna. Tiramban tongan tu pa'tondokan tonna tiroi tu kalena.
Lendu' allo, lendu' minggu, lendu' bulan anna sakapua-puanna. Iatonna kupaua-puamo tu Gonggo Patua' mellong tongan tu pa'kaleanna.
Saba' taliwa' kapauanna, bu'dak tongan tu bo'bo' sia pa'kandianan nakande. La puramo tu pare diala domai alang napobua' kandena te Gonggo Patua'.
Ma'tangnga'mi tu Ambe' sia Indo'na. Simpolonna kadakemi bu'tu lan tangnga'na soladuai..
Nasolammi Ambe'na te Gonggo Patua' lako to' pa'lak manglelleng garonto' induk.
Ma'kadami Ambe'na, "O So' Gonggo, Ianna songka te garonto' induk tarimai jo palempengmu, mangkato maleko passanni lako to' banua. Lanapake mama'mu mentiongan!"
Iatonna songkamo te garonto' induk, napatado tongan Gonggo tu palempengna, anna male passanni lako to' banuanna.
Male pole'omi te Gonggo sola Indo'na langan to' tanete. Natiromi Indo'na tu Batu kapua. Ma'kadami Indo'na, "O So' Gonggo, tarimai te batu kulolinni mati'.
Passanni lako to' banua napakei Ambe'mu ma'dokko-dokko." Nalolin tongammi Indo'na te batu pua, nasimpolo angkai' Gonggo lako banuanna.
Iatonna tibukka'mo pa'tangngaranna Gonggo, mane natandairi kumua noka' tu tomatuanna solanni torro.
Malemi mallai mellampung tu Gonggo.
Takkalanna den tau lammai lo'ko' ma'kada: "E Gonggo Patua', da'mu malebang sumalong. Belanna den tu Langkan Maega pa'kande tau. Budamo tu tau nakande.
Ma'kadami Gonggo, "Apara lamibenna' ke kupatei tu Langkan Maega?"
Mebalimi, "Ko kasiturusanna tau lan tondok kumua anna den tau patei tu Langkan, kola lakiben sangsesena eanan kiampui."
Sitammu tonganmi Langkan Maega tu Gonggo. Iatonna rampomo te langkan messiok, simpolo napala'pakki peda'guru'na Gonggo. Anna simpolo mate punala te langkan.
Sirampummi te pa'tondokan sibawa sanda pa'barangan sia eanan naampui. Sugi'mi te Gonggo. Apa iatonna sugi'mo, natangnga'mi Ambe' sia Indo'na. Takkalanna sulemi lako banuanna Ambe' sia Indo'na
te Gonggo sibawa mintu' eanan sia pa'baranganna.
Mane mambela natiro tu Indo' sola Ambe'na nama'dondo pellambi' unrrakai' soladua.
Mangkato masannangmi torro sola tallui.
Nasihat Filosofis: "Ampunilah segala kesalahan yang pernah dilakukan oleh orang tuamu. Engkau ada karena mereka.
Dan kekayaan yang engkau miliki saat ini tidak terlepas dari pengorbanan mereka sejak engkau kecil."
Salama' Damai Ulunna Langi

Terima Kasih Telah Membaca
 baca kumpulan dongeng dan cerita rakyat di https://pancasilasebagaifalsafahidup.blogspot.com/

Cerita Rakyat Orang Toraja: Tedong na Linggo.

Cerita Rakyat  Toraja

Cerita Rakyat Orang Toraja: Tedong na Linggo. 

Den sangallo, marassan ma'pakande Tedong te Linggo. Na den to jomai dinas kesehatan hewan. Sipa'kadami soladuai:
Pak Dinkeshew : "Apara mupakandeanni tu tedongmu
Linggo?"
Linggo : "Riu manna!"
Pak Dinkeshew : "Oh.... saba' tae'maro' nalayak tu kande
muben tedongmu, lakudendako!
Lamubaya' mai da'dua juta!

Ha'a sellang dikka' tu Linggo... pa ko napela'-pela' male pasiduruk sengna da'dua juta nabayaranni.
Ma'penduanna rampoomi te to jomai Dinkeshew, sipa'kadaomi:
Pak Dinkeshew : "Apara mupakandeanni tu tedongmu
Linggo?"
Ma'tangnga'mi Linggo namane mebali,
Linggo : "Kuben Tallo' ke melambi', kupairu' susu
ke tangallo, kunasuan ta'bu ke bongi,
kuben vitamin pentallun sangallo,
kupairu' madu, sia kuallian wortel!"
Pak Dinkeshew : "Wa'a...taliwa'-liwat tongan tu apa
mubenni tedongmu, mupongko iko tu
tedong dako ke susi to! Ko saba'
mupasusito tu tedongmu lakudendako!
Lamubaya' mai tallu juta!
Ha'a... male manna dikka' tu Linggo sala'pa kidena namale mangindan seng lako sangbanuanna....
Ma'pentallunna rampo omo tu To jomai Dinkeshew, ... ma'dug-dug penaanna Linggo, pa ko napela'-pela'bang male sitammui...
Pak Dinkeshew : "Apamora mupakandeanni tu tedongmu
Linggo?"
Ma'tangnga' omi Linggo, namane mebali,
Linggo : "Tae'mora kupakandei tu tedongku!"
Sellangmi te Bapak, nama'kada: "Hoo! Mbai lumupongkoiko tu tedongmu na tae' mupakandei! Kudendako dako' tu ke!
Mebalimi Linggo : "Tae'mora kupakandei, kebenbangmira
seng namale alli kalena kandena,
natandai agian kalenabangmi tu
lanakandena!
Kappa manna tu Bapak Dinkeshew!

Terima Kasih Telah Membaca Cerita Rakyat Toraja

Cerita Rakyat Orang Toraja: Kerbau dan Bangau


KORONG sola TEDONG
Ia tu Korong matuttu’ bang tassu’ keallo-keallo sumalong dio lu to’ uma undaka’ kande.Apa den Sangallo tonna tassu’ undaka’ kande tae’ bang tu dikandena naapa’. Male bangmi sumalong,pakalan natiromi lan uma sangtempe’ tu da’dua kurungan (kuang) nanii unnaang-aang bale. Apa masussa diala tu bale belanna mane kumuku lako tu Korong natae’mo tu bale belanna untallanan kalena mallaim membuni
Attu iato natiromi Korong tu tedong marassan ungkande riu do tampo uma iato. Malemi to Korong umpessitammui tu tedong napa’kadai nakua :”Umpattuan bangko para’ kakapuammu tedong,apa morai siana’la ussilombangko . kadokoraka tasimisa’I te kurungan lan uma, anta silomba unniru’I tu uainna ba’tu umbanta tu dolo ma’ti kurunganna.”Mebali tedong nakua:”Apa toda iko la nanii uai lan tu tambukmu. Apa ia para’ to tu mukamorai, tamalemo ussimisa’I tu kurungan anta silomba”.
Naparandukki tedong untonganni unniru’I tu uai kurungan anna mukkun mere.Apa ia tu Korong naoton bangri tu tillokna rokko to’ uai. Nakuami krong lako tedong:”Io dolomoko, musangaraka tang la kudoloiko dako’.” Nasarra’I pissanmi tedong mangiru’ naurunganni tae’ namasai anna ma’timo tu kurunganna tedong. Apa aitu kurunganna Korong tontong ponno uainna.Nakuami tu tedong : “E korong,pokadai mindantara tu patalo!” Mebalimi tu Korong nakua :”Io,inang ikomo tu patalo sangmane .bua’rika,akumo tu talo .Apa umbai den sia sidi’ saroku tu mangkatalo.” Ta’pa mekkondongmi tu Korong rokko kurunganna tedong anna kande simisa’I tu bale doing sae lako dia’na.
  

 from http://superaok97.blogspot.com/…/ulelean-parena-toraya-ceri…
   Cerita Nenek P.
  

Cerpen Toraja tentang "Tobuta"


https://pancasilasebagaifalsafahidup.blogspot.com/
Yatonna final piala dunia prancis vc kroasia
Den tobuta male naaja temati' pia muane
Nakua e sangmane tae' raka tamale menonton piala dunia na pianalmo te..
Nakuami te tobuta
A'a na samangku mualai tu ulngku tu mitiro bangmo buta mikua tamale menton..
Nakuami te pia
A na lamale bang riki meramaikan
Nakua ta to buta
Na tae'ka ku kita
Nakuate pia
Yana meoli tau ba'tu metawa rika metawa dukako๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†
Na alami kacamata reben te to buta na male temai pia rendenni
Saemi lako temai pia sola to buta pk kaca mata reben metawa nasan tau nakua bongi ia na ma' reben๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜† metawa duka ya te tobuta nakua haiiiiii marua'moooooo
Iyo susimo to๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…
Mentama penontonan te to buta ma' dokko naboko'i yatu televisi,,,,,๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž

Sule duka ia na carita te to buta nakua
Marua' liu yatu bola sangmai' bongi...
Nakua nene'na apara ia si raga
Naku piala duni๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†
Patarru' tarru' kedenpi kurang

Cerita Rakyat Orang Toraja : Seredukung Sola Masapinna

Seredukung Sola Masapi

Den misa’  pia disanga Seredukung. Keallo-keallo male bang te
Seredukung manglaa tedong. Den sangallo anna male ullamban salu
umpakande tedongna. Tae’ namasai saemi tu uran kamban
naurunganni kendek tu uai diong salu. Tonna makaroenmo
narambami tu tedongna la sule lako banuanna. Tirambanmi tonna
saemo lako tu salu la nalambanni belanna tarru’ budamo tu uai diong
salu sia tang naatta la unnorongi. Tumangi’mi do randanan belanna
lamban nasangmo lian tu pangkambi’ na.
Tae’ namasai kendekmi diong mai salu tu masapi anna kutanai tu
Seredukung, nakua:”Ammu tumangi’ra.” Mebalimi tu Seredukung
nakua: “Tang kuatta la ullambannj te salu anna lamban nasangmo tu
pangkambi’ku.” Ma’kadami tinde masapi รฑakua: “Ma’dinko
kupalamban, apa la mubenna’ kandemu pira’ ke saeoko mangkambi’.”
Mebali tu Seredukung nakua: “lo, palambanmo. “ Sumpandanmi tinde
masapi kapua anna ampangngi tu uai nalamban tu Seredukung. Tonna
rampomo lako banua tu Seredukung, nakuami lako indo’na: “La
umbaa bangmo’ kandeku ke malena’ mangkambi’ keallo. Tae
natandai indo’na kumua ia tu kandena male napakandean masapi
mangka umpa1ambanni. Samadoko-dokona bangmi te Seredukung.
Sipa’kada-kadami tu indo’na sola ambe’na nakua: “Matumbari tinde
pia anna samadoko-dokonamora namale sia umbaa bo’bo’na keallo.”
Apa den pissan naundi tu ambe’na umperandanni, natiroi ambe’na tu
Seredukung umbaa bo’bo’na rokko biring salu anna massengo-sengo
nakua:


“Andullungku diong salu
masapi diong to’ wai 
kendekko kande bo’bo’ku 
maiko anta sidua 
mangka dibati bumbungan 
dibo1loi siling-siling
pangandu’ makko to Duri.”

Kendekmi diong mai salu tu masapi anna kandei tu kandena
Seredukung. Mangkato sulemi tu masapi rokko salu anna
Seredukung untiro tedongna. Mangnga bangmi tu ambe’na untiroi sia
mane natandairi kumua posala’ madodong tu Seredukung belanna
naben masapi tu kandena.
sulemi tu ambe’na lako banua napokadanni indo’na Seredukung tu
patirona. Mabongi to nakuami tu ambena Seredukung lako bainena:
“Benni toda seppa sia bayu melo te Seredukung, mimale masiang
mengkita sola dua lako to ma’bugi’, na akumora male mangkambi’.”
Manoka tu Seredukung apa undinna moraimi tonna naran-naranmi indo’
ambe’na. Masiang dio mai malemi tu Seredukung sola indo’na untiro to
mabugi’. latonna malemo tu Seredukung sola indo’na, male dukami tu
ambe’na lako to’ biring salu nanii kendek masapinna Seredukung. latonna
saemo lako massengo-sengomi susi tu sengona Seredukung nakua :

“Andullungku diong liku . 
masapi diong to’ wai 
kendekko kande bo’bo’ku 
maiko anta sidua 
mangka dibati bumbungan 
dibolloi si1ing-si1ing 
pangandu’ makko to Duri.”

Pakalan kendek tongami tu masapi diong mai salu la ungkandei tu kande
biasa dibanni. Attu lato natoe bangmo ambe’na Seredukung tu la’bo’
mataran. Tonna marassan tu masapi ungkandei tu bo’bo nalontokmi
la’bo’ natantang tu ulunna namane ullontok duapi tu kalena. Nabaami
lako banua te masapi anna tollo’i, nanannanni Seredukung sola indo’na
tupira. .
latonna sulemo mengkita tu Seredukung nasuami ambe’na la
kumande, apa mebali tu Seredukung nakua: “Tae’ra angku la kumande,
la laona’ aku dolo umpakande tedongku.” Malemi tu Seredukung anna
baai tu bo’bo’na ma’palurokko salu. Tonna saemo rokko massengomi susi
biasanna nakua:

“Andullungku diong liku 
masapi diong to’ wai 
kendekko kande bo’bo’ku 
maiko anta sidua 
mangka dibati bumbungan,dibolloi siling-siling 
pangandu makko to Duri".


Napeagimi apa tae’mo nakendek tu masapinna diong mai salu. Sulemi
lako banua naamparanni tu buku masapi nananna ambe’na lan pa’ti.
Sengkemi lako ambe’na sola indo’na nakua: “Masapingku pole’ tu male
miala.”
Naalami Seredukuhg tu bukunna namale untananni lako to’
tondon bubun . Tuomi tu buku masapi apa lemo tu tuo diong mai.
Natambaimi indo’na tu Seredukung la kumande apa nakua:
“Namentangkepa tu lemoku.” Tonna mentangkemo tu lemo, nasua omi
indo’na la kumaรฑde, apa nakua: “Namenta’bรฌpa lemoku.” Mukkun
bangmi mebali susito tu Seredukung tonna menta’bimo, tonna
membuamo sae lako tonna matasakmo tu lemona. Apa tรดnna
matasakmo tu lemรดna metteka’mi langngan lemo anna massengo-sengo
Nakua :

“Iri’-iri’ko angin 
simbo-simboko darinding . 
mangiri’ tama pangala’ 
tama to’ kakayuanna 
digente’ kurra manapa’.”

Sae tonganmi tu angin talimpuru’ anna tibuak tu garonto’ lemo
namale umpettiaranni angin sola Seredukung. Undi bangmรฎ tu indo’na
sola ambe’na unnulai’, apa tae’mo nalambi’i naurunganni sule lo’bang
lako banuanna. Katampakanna nabaa tongan angin tu Seredukung
tama pangala’ sola garonto’ lemona anna torro lan.
Randukmi tu bua lemona Seredukung naniรฎ bulawan lan ke
dibakkaimi, naurunganni mendadi sugi’ tu Seredukung sia untanan
pasa’ lan pangala’. Mukkunmi buda tau sae ma’pasa’. Napasanmi Seredukung lako to ma’pasa’ kumua anna sae tu indo’ ambe’na. Sae
tonganmi tu indo’ ambe’na, anna randuk attu iato torromi tu indo’
ambe’na sola Seredukung. Torro manamanmi tu katuoanna
napapayan tongan tu kasikamaseanna....(copyright HTP)
Sumber dari Group Facebook Ulelean Pare, Mitos dan legenda Toraya

Tuesday, December 11, 2018

Seba sola Kalapuan sebuah Dongeng dari Toraja

 Puamanna Seba sola Kalapuan

Dongeng Toraja
Iatu Seba sisangmane-mane Kalapuan sia biasamo male sumalong sola duai. Den sangallo anna sipa’kada-kada sola duai. Nakuami Seba : “Mata’ka’moki’ sumalong sia tangdia’moki’, tamalemo undaka’ punti. Mebali tu Kalapuan nakua: “Io, tamalemo.” Malemi sola duai ma’palutama pangala’. Tae’ namasai nakabu’tui tonganmi tu punti lasse’ sitasakanmo sia budamo tu mangka nakande paniki. Nateka’mi Seba anna ma’kampa tu Kalapuan diong garonto’ punti. Nakuami Seba dao mai lolok punti: “E Kalapuan, kappa bangmoko kukandepi dolo te matasakna, dako’pa kumane umbengko pira’.” Iatonna dia’ tonganmo tu Seba nasuami tu Kalapuan umbungka’ sadangna lรค untarimai tu punti nabuang dao mai. Apa belanna tarru’ dia’mo tu Seba, mane la nabuang tu punti anna dolomo tiserrek tu tainna anna tobang lu tama sadangna Kalapuan. Tumangi’mi tu Kalapuan anna sasa male rokko salu la umbasei tu sadangna. Pakalan saemi misa’ Bungkang kapua dio sa’dena anna ma’kada: “Matumbaroko ammu tumangi’ra” Mebali tu Kalapuan nakua: “Mangkana’ napakena Seba anna kattai dikka’ tu sadangku.” Sengkemi tu Bungkang urrangi tu susinna to anna ma’kada nakua : “Sa’bara’rnoko dolo sangmane,” Iatu Seba male duka rokko salu La membase. Natiromi Bungkang napela’-pela’ urrekei’ nakadu’dukki tu butona. Tiramban liumi tu Seba anna tilende’ rokko liku mandalan naurunganni malammu’ belanna tang naissan unnorong. Tae’na masai kendekmi tu Seba unaang belanna matemo..
Hikma yang bisa diambil bahwa :
Harus jujur dalam tolorig menolorig dengan tidak mengutamakan kepentingan diri sendiri.
Kejahatan tidak akan berakhir jika selalu bertindak saling membalas dengan kejahatan. 

Terima kasih telah membaca Dongeng Toraja  ini baca jugahttps://pancasilasebagaifalsafahidup.blogspot.com/2018/11/buen-manik-dan-batu-berlobang.html