NENEK dan KERBAU
A
ku
memeluk kepala tedong bongaku untuk terakhir kalinya. Bulu-bulunya yang
putih dan halus menyentuh pipiku. Kuelus sejenak lehernya dan
kupandangi penampilannya yang gagah siang ini. Mengenakan kalung dari
bulatan-bulatan kayu yang dijalin rapih dan kain merah berumbai kuning
yang diikatkan di kedua tanduknya, ia sangat tampan. Matanya yang hitam
menatapku lalu mengerjap perlahan, seolah ingin mengatakan salam
perpisahan.
“Kau tampan, sudah…” bisikku di telinganya.
Ia mengibaskan ekornya lalu menekankan moncongnya lembut ke lenganku.
Biasanya, setelah itu ia akan berlari memutari tubuhku. Tetapi ikatan
di simbuang kali ini tidak mengizinkan ia berlari dengan bebas seperti
yang selalu ia lakukan setiap kali aku memujinya.
Seorang lelaki menepuk pundakku. Aku berbalik dan dadaku berdesir
saat melihat la bok duatalan di tangan lelaki itu. Tiba-tiba aku
ketakutan. Dalam beberapa tahun terakhir, tangan berotot lelaki itu
sudah menebas delapan ribu tedong. Semua pengunjung selalu puas melihat
atraksinya menebas leher-leher tedong. Sigap dan tepat. Dalam sekali
tebas, kepala tedong langsung terlepas dari lehernya dan menggelinding
di halaman upacara kematian.
Dan sebentar lagi, lelaki ini akan menebas leher tedong bongaku.
Sekali lagi aku mengelus kepala tedong bongaku sambil berbisik,” Selamat jalan, sudah. Kita pasti bertemu lagi di puya.”
Tedong bongaku melenguh lirih sambil menatapku tenang. Aku tak
melihat ketakutan sedikitpun melintasi mata hitamnya. Apakah ia sudah
siap menjadi kendaraan nenek menuju puya? Lelaki itu memberiku isyarat
untuk menepi. Mataku memanas ketika lelaki itu menuntun tedong bongaku
menuju pelataran upacara. Orang-orang berdiri mengelilingi pelataran
upacara dengan wajah antusias. Anak-anak memegang bambu dan menunggu.
Dadaku berdebar kencang saat la bok duatalan di tangan kanan lelaki itu
mengayun cepat dan dahsyat menebas leher tedong bongaku. Darah muncrat
bagaikan pancuran. Sebelum tedong bongaku roboh, anak-anak berebut
mencolokkan bambu ke lehernya untuk menadahkan darah.
Pandanganku mengabur. Sebelum duniaku gelap, aku melirik Mama duduk
tegak di antara delapan saudaranya yang lain. Mama mengangguk padaku
sambil tersenyum bahagia.
***
“Lai, badanmu panas dan wajahmu pucat. Kau sakit?” tanya Mama sambil menempelkan telapak tangannya di keningku.
Aku hanya diam. Upacara rambu solo nenek masih berlangsung dua hari
lagi, tetapi aku tidak kuat mengikuti rangkaian upacara itu. Badanku
lemas dan dadaku selalu berdebar kencang setiap mengingat tedong
bongaku.
“Makan, sudah…” bujuk Mama sambil menyodorkan sepiring nasi dengan lauk pa’piong.
Aku melotot melihat pa’piong yang bambunya sudah terbuka. Apakah
daging pa’piong itu daging tedong bongaku? Ada nyeri yang menelusup ke
dadaku. Nyeri itu berubah menjadi bara yang membakar setiap aliran
darahku. Aku tidak mungkin memakan daging tedong bongaku! Bagaimana
mungkin mama memberikan daging itu padaku untuk kumakan? Bukankah mama
tahu aku sangat menyayanginya?
“Makan, sudah…” ulang mama sambil menganggukkan kepalanya.
Aku menatap mata mama yang menyorot teduh. Kata-kata sepupuku yang
nyinyir terngiang lagi di telingaku, “mamamu ingin dapat warisan paling
banyak, karena itu dia mengorbankan tedong bonga kesayanganmu. Kasihan
sekali orang miskin seperti kalian, berharap-harap warisan.”
“Makan sendiri kalau kau ingin makan, mama akan bantu beres-beres di rumah nenek.”
Saat mama beranjak dari tepi pembaringan, aku menyambar tangannya.
Mama kembali berbalik dan menatapku. Matanya penuh tanda tanya.
“Jadi mama menggadaikan tedong bongaku berapa?”
Mama terkejut. “Maksudmu apa, Lai?”
“Mama mengorbankan tedong bongaku untuk mendapatkan warisan paling
besar dari nenek ‘kan? Karena tedong bongaku paling mahal! Lai tahu mama
bosan hidup miskin. Tetapi kenapa mama harus menggadaikan tedong bonga
Lai?”
“Lai? Mama tidak mengerti apa yang kau katakan.”
“Mama bilang ingin mengorbankan tedong bonga Lai untuk kendaraan
nenek di puya! Tapi sebenarnya mama ingin mendapatkan warisan paling
banyak!”
“Diam, sudah!” bentak mama dengan wajah memerah.
“Aku tak menyangka mama pembohong!”
Tiba-tiba tangan kanan mama menyambar wajahku hingga aku terjengkang.
Mama menamparku! Darah di sekujur tubuhku semakin mendidih. Air mataku
mulai mengalir membasahi pipi. Aku tak menyangka, mama melakukan ini.
“Kau harus belajar mendengar dengan baik, Lai…” suara mama terdengar seperti menggeram lalu pergi meninggalkanku.
Membayangkan mama mendapatkan bagian warisan terbesar dari tedong
bongaku, dadaku sesak. Mendadak ada kekuatan yang membuatku bangkit dari
pembaringan. Dengan langkah tertatih-tatih aku menuju lemari dan
mengeluarkan sleuruh bajuku. Aku harus pergi!
***
Malam mengatupkan matanya yang lelah. Aku menggigil kedinginan saat
membuka pintu. Kegelapan seperti barisan raksasa yang hendak menerkamku.
Tetapi, tekadku sudah bulat. Aku ingin meninggalkan mama dan rumah ini.
Aku belum tahu hendak melangkahkan kaki kemana. Tetapi seorang temanku
yang menjadi calo tenaga kerja di Makale pernah bercerita tentang
nikmatnya hidup di ibukota.
“Ke Jakarta, sudah. Wajah manismu akan mendatangkan rezeki,” kata temenku itu.
Apa benar wajahku mendatangkan rezeki? Dulu aku tidak pernah berpikir
apapun tentang itu, tetapi sekarang aku mulai memikirkannya. Aku
berharap tawaran temanku itu masih berlaku.
Angin malam menerpa tubuhku. Aku merapatkan jaket kusam yang
kukenakan lalu menutup pintu. Mama belum pulang dari rumah nenek atau
mungkin malam ini tidak pulang. Nenek memiliki banyak tanah dan harta.
Pembagian warisan itu pasti membutuhkan waktu lama. Dadaku kembali
bergejolak. Aku berjalan tergesa meninggalkan halaman, tetapi tiba-tiba
aku mendengar suara lenguh yang khas. Mendadak aku menghentikan langkah.
“Bonga?” jeritku lirih.
Aku menoleh ke sana ke mari tetapi tidak menemukan apapun.
Kutinggalkan tas pakaian di pojok halaman lalu aku berjalan menuju
samping rumah. Sampai di depan kandang yang sekarang kosong aku
berhenti. Apakah arwah tedong bongaku masih berkeliaran di sini?
Bukankah ia telah mengantarkan nenek ke puya? Tetapi suara apa yang
terdengar barusan? Aku sangat yakin suara itu adalah suara tedong
bongaku.
Air mataku kembali mengalir. Aku terjatuh lemas di depan kandang.
Kedatangan tedong bonga kecil bertahun-tahun yang lalu di kandang ini
kembali memenuhi kepalaku. Waktu itu ayah baru saja meninggal.
Berbulan-bulan aku sangat sedih kehilangan ayahku. Mama tak pernah bisa
menghiburku lagi karena dia pun sedih kehilangan ayah. Kehidupan kami
yang miskin semakin memburuk.
Kemudian nenek datang membawa bayi tedong bonga. Semua sepupuku iri
melihat pemberian nenek padaku. Bagaimana tidak? Tedong bonga ini
setelah besar nanti akan berharga ratusan juta rupiah! Semua orang akan
berebut untuk mendapatkannya. Jika tedong bonga ini dikorbankan, ia akan
menjadi kendaraan terbaik menuju puya bagi orang yang telah mati. Dan
nenek memberikannya kepadaku! Tetapi aku memahami alasan nenek.
“Tedong bonga ini sangat manis. Ia akan menghibur kesedihanmu.
Tersenyumlah, sudah,” kata nenek seraya mengambil tanganku untuk
mengelus punggung bayi tedong bonga itu dan tersenyum padaku.
Aku memeluk bayi tedong bonga itu dan merasakan kehangatan tubuhnya.
Ia melenguh lirih lalu menatapku dengan pandangan bersahabat. Sejak
pertama menyentuh tubuhnya, aku menyukainya. Di sudut halaman, aku
melihat mata mama berkaca-kaca.
“Kalau bonga besar nanti, apa aku harus mengorbankan dia untuk seseorang, nek?” tanyaku.
Nenek tersenyum dan menghela nafas. “Lai, hidup bonga akan berarti
jika ia dikorbankan. Tetapi itu juga tergantung keikhlasanmu. Jika kau
tidak ikhlas mengorbankan bonga, lebih baik tidak kau lakukan. Tetapi
jika kau ikhlas, bonga akan menjadi kendaraan terbaik menuju puya. Dan
dia juga akan mendapatkan tempat yang baik di puya.”
Aku mengangguk-angguk mengerti.
“Jangan berpikir itu dulu, Lai. Rawatlah bonga. Semoga ia bisa menghiburmu dan kalian menjadi sahabat yang baik,” lanjut nenek.
Kami memang ditakdirkan menjadi sahabat. Sejak kehadiran tedong bonga
yang lucu itu hari-hariku kembali berwarna. Mama senang melihatku
kembali ceria. Perlahan-lahan aku bisa melupakan kesedihanku di
tinggalkan ayah. Setiap hari aku mengajak bonga jalan-jalan mencari
rumput, memandikannya di sungai dan bersama-sama melihat matahari
tenggelam. Setelah bonga besar dan kuat aku sering menungganginya sambil
bermain. Kami seperti memahami bahasa masing-masing. Setiap aku merasa
sedih, bonga akan mengusap-usapkan moncongnya ke lenganku. Begitu juga
saat bonga sakit, aku akan mengusap-usap kepalanya sambil mendengarkan
lenguhan-lenguhan kesakitannya.
Aku dan bonga tumbuh bersama. Tetapi hari-hari tak selamanya indah.
Banyak yang iri atas persahabatan indahku dengan bonga. Hal-hal buruk
harus kami hadapi. Sepupu-sepupuku yang jahat itu sering menyakiti
bonga. Mereka tidak bisa menerima kenyataan nenek memberikan bonga
padaku.
“Hei orang miskin! Kamu tidak pantas memelihara tedong bonga itu.
Pasti besok dia mati sudah!” ejek mereka saat aku mengajak bonga mencari
rumput.
Dan esoknya bonga benar-benar sekarat. Aku menangis ketakutan tidak
tahu harus berbuat apa. Untunglah mama sangat cekatan menangani masalah
ini. Mama memberikan bonga ramuan dari daun-daunan. Beberapa jam
kemudian bonga sembuh seperti sedia kala. Menurut mama, bonga keracunan.
Ada orang yang telah memaksa bonga untuk minum racun itu. Aku geram
mendengar kata-kata mama. Kejadian itu berlangsung beberapa kali, tetapi
bonga bisa lolos dari maut.
Sampai kemudian hari itu datang. Nenek meninggal dan semua keluarga
sepakat mengadakan pesta kematian rambu solo setahun kemudian. Aku
melihat mama sangat kebingungan. Semua saudaranya kaya-raya dan dengan
mudah bisa membeli tedong di pasar meskipun tidak sekelas tedong bonga.
Tetapi, mama memang tidak memiliki uang sedikitpun untuk membeli tedong
atau babi korban. Aku tak sampai hati melihatnya kebingungan.
“Mama bisa mengorbankan bonga kalau mau…” kataku ragu-ragu.
Mama menggeleng. “Tidak lai. Bonga itu sahabatmu.”
“Tidak apa Ma, mungkin hidup bonga lebih bermanfaat kalau di
korbankan. Lagipula bonga itu pemberian nenek,” lanjutku berusaha
meyakinkan mama dan diriku sendiri.
Mama menatapku lama. Ia mencari keyakinan dari kata-kataku.
“Kau yakin akan mengorbankan bonga?”
Dan aku mengangguk. Pasti.
Lalu apa yang kusesali sekarang? Bukankah aku sendiri yang
mengorbankan bonga untuk upacara kematian nenek? Kenapa aku menyalahkan
mama? Aku hanya tidak ingin hati mama tergoda warisan nenek sehingga
langkah bonga tersesat tidak sampai ke puya. Dan kenyataannya mama
memang tergoda!
Air mataku kembali mengalir.
“Maafkan mama, Lai…”
Suara itu mengejutkanku. Aku berbalik dan melihat mama berdiri di
belakangku menjinjing tas pakaianku. Pipi mama basah oleh air mata. Aku
tercekat melihat wajah mama yang tua dan menderita.
“Mestinya mama tidak mengorbankan bonga karena akan membuatmu sedih. Mestinya mama membeli satu babi saja.”
Aku masih diam menatap mama.
“Warisan itu sudah dibagi-bagi. Mama memang mendapatkan warisan
paling banyak karena bonga harganya paling mahal. Tetapi mama tidak
mengambil warisan itu. Lebih baik mama tetap miskin daripada harus
kehilanganmu.”
Aku terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa. Perasaan bersalah
merambati dadaku. Kulirik tas pakaian di tangan mama dan aku merasa
malu. Seumur hidupku, mama selalu memberikan cintanya padaku. Selalu
ingin membuatku bahagia. Tetapi aku telah menuduhnya menginginkan
warisan itu. Tidak tahan dengan rasa bersalah, aku berlari menubruk
mama.
“Maafkan Lai, mama. Maafkan Lai.”
Mama terisak. Tangannya mengusap rambutku lalu menenggelamkan aku
dalam pelukannya yang hangat. Dari kejauhan samar-samar aku seperti
mendengar suara orang melakukan ma’badong. Di antara ibu-ibu yang
bersedu-sedan dan pria-pria yang berteriak penuh semangat, aku melihat
nenek mengendarai tedong bongaku dan melambai kepadaku.
Wajah keduanya tampak berseri-seri!