Wednesday, November 14, 2018
Si semba'
Untuk mengurangi resiko cidera atau kematian peserta Sisembak, maka pada setiap acara Sisemba’ ini, selalu ada orang yang bertindak sebagai tukang Lerai jika situasinya sudah sangat membahayakan peserta Sisemba’.
Selain dari adanya orang yang bertindak sebagai Pelerai, permainan Sisemba’ ini juga mengenal beberapa aturan antara lain:Peserta yang ikut permainan Sisemba’ harus berpasangan ( 2 orang yang harus berpegangan satu dengan yang lain )
Lawan yang sudah terduduk atau sudah terjatuh, tidak boleh di serang.
Tidak boleh ada demdam setelah acara permainan selesai. Permainan Sisemba’ diawali dengan peserta dari anak-anak terlebih dulu, tak lama kemudian peserta remaja turun gelanggang, peserta anak-anak menyingkir.
Setelah adrenalin peserta dewasa tidak lagi dapat dibendung,
maka saat itulah para peserta dewasa mengambil alih gelanggang.Satu hal yang juga perlu diketahui dalam permainan Sisemba’ ini adalah pesertanya selalu membludak. Kalau dilihat permainan ini cenderung brutal akan tetapi tidak banyak diantara para pesertanya yang mengalami cidera parah bahkan sampai meninggal. Kejadian seperti itu jelas pernah terjadi, tapi jarang.
Untuk dapat menjadi petarung tangguh dalam acara Sisemba’ ini dibutuhkan tidak hanya kekuatan Fisik dan kelincahan gerak namun sebuah perisai diri yang orang Toraja menyebutnya dengan nama Panimbolo’.
Monday, November 12, 2018
MAKULA'
ntionally provides pools to hold hot water flowing from the source. While enjoying the natural beauty of Sangalla, tourists can enjoy as much warm water as you like.
Saturday, November 10, 2018
Ra'ba Biang
Ketika musibah itu terjadi, banyak desas-desus yang beredar di masyarakat mengenai penyebab wabah tersebut. Ada yang mengatakan bahwa ini diakibatkan karena banyak orang tidak lagi mengikuti Aluk (ajaran/keprcayaan/ritual) yang diturunkan oleh leluhur karena masuknya Aluk Balanda (agama Kristen dan adat orang Belanda), ada juga yang beranggapan ini diakibatkan oleh pembunuhan A.A. van de Loosdrecht (misionaris Protestan) setahun sebelumnya, dan berbagai anggapan lainnya.
Ketika peristiwa ra’ba biang, dalam setiap KK (maksudnya Kepala Keluarga), mintu’ pa’dukkuan api (semua rumah tangga), pasti ada yang mati, bahkan ada yang meninggal semua dalam keluarga. Peristiwa itu terjadi sekitar 1918. Musibah, semua mati serempak. Orang-orang yang pulang menguburkan, banyak yang dikuburkan keesokan harinya karena meninggal tidak lama setelah pulang menguburkan anggota keluarganya. Pada saat itulah dirembangan palungan, digente’ (disebut sebagai) ra’ba biang.
Ternyata wabah ini merajalela di seluruh dunia, yang terkenal dengan sebutan 'flu Spanyol'. Wabah tersebut termasuk salah satu wabah paling mematikan yang pernah dialami dunia. Bayangkan saja, diperkirakan 50 juta orang meninggal pada saat itu. Selengkapnya bisa dibaca di Flu Spanyol, Lebih Mematikan dari Perang Dunia .
Salah satu informasi yang langsung disampaikan melalui nenek yang langsung menyaksikan peristiwa itu bahwa pada saat itu orang-orang kewalahan untuk menguburkan jenasah. Bahkan ketika pulang dari penguburan, ditemukan lagi orang sakit (dengan gejala yang sama yaitu demam, sakit kepala menusuk, dan sakit pada tulang-tulang sendi) lalu meninggal. Begitu seterusnya hingga orang awam beranggapan bahwa wabah tersebut adalah kutukan dan karena begitu menakutkannya wabah tersebut, hingga sekarang istilah ra’ba biang tidak boleh sembarang disebutkan.
Sayangnya, informasi dalam bentuk literal yang seharusnya lebih banyak menjelaskan informasi dibalik bukti-bukti autentik yang ada disana masih sangat kurang. Sampai saat ini, informasi tentang Ra’ba biang yang ada lebih banyak berbentuk lisan, yaitu informasi yang didapatkan dari mulut ke mulut dan dari generasi ke generasi. Akibatnya, informasi terkait peristiwa tersebut perlahan mulai hilang ditelan zaman.
Informasi tentang peristiwa Ra’ba biang justru lebih banyak didapatkan dari hasil kajian literatur beberapa peneliti luar negeri, antara lain; Roxana Waterson (2009), dan Colin Brown. Dalam bukunya berjudul “Paths and Rivers; Sa’dan Toraja Society in Transformation”, disebutkan bahwa ra’ba biang adalah istilah dari kejadian orang-orang yang bertumbangan seperti rumput yang ditebas (cut down like a grass). Disebutkian juga bahwa, pada masa itu belum ada layanan kesehatan yang layak bagi si penderita sehingga korban berjatuhan sangat banyak (Waterson, 2009:109). Colin Brown (1987), seorang sejarawan dari Australia yang menuliskan artikel berjudul “The Influenza Pandemic of 1918 in Indonesia”. Artikel tersebut kemudian dimuat dalam buku yang berjudul Death and Disease in Southeast Asia: Explorations of Social, Medical and Demographic History. Dalam catatannya, disebutkan bahwa Pemerintah Kolonial Hindia Belanda memperkirakan sekitar 10 persen dari 3.000 populasi Toraja meninggal.
Saya menemukan jurnal hasil penelitian Prayitno, dkk (2009) yang menjelaskan informasi tentang peristiwa menakutkan ini. Prayitno adalah anggota peneliti Sejarah Pandemik Influenza 1918 di Hindia Belanda dari Universitas Indonesia. Dari hasil temuannya, diketahui bahwa ada keterkaitan antara peristiwa ra’ba biang di Toraja pada tahun 1918, dengan wabah influenza yang menjangkiti seluruh dunia pada tahun yang sama. Penyakit ini merupakan penyakit influenza tipe A, tipe yang paling berbahaya dan dapat mematikan. Penyakit ini juga mempunyai masa inkubasi yang cepat. Sama dengan di daerah lain, keterbatasan informasi dan pengetahuan tentang penyembuahan penyakit juga menjadi faktor banyaknya korban yang berjatuhan.
Diperkirakan sekitar 1,5 juta orang di Nusantara meninggal dunia akibat wabah flu mematikan yang menyerang pada tahun 1918 sampai dengan 1919. Virus yang juga dikenal dengan virus Spanyol ini memakan korban melebihi jumlah korban yang meninggal dunia pada perang dunia pertama. Hal ini diungkap dalam artikel di situs resmi Universitas Stanford: The influenza pandemic of 1918-1919 killed more people than the Great War, known today as World War I (WWI), at somewhere between 20 and 40 million people. It has been cited as the most devastating epidemic in recorded world history. More people died of influenza in a single year than in four-years of the Black Death Bubonic Plague from 1347 to 1351. Known as "Spanish Flu" or "La Grippe" the influenza of 1918-1919 was a global disaster. (dikutip dari https://virus.stanford.edu/uda/)
Bagaimana virus pandemik influenza menyebar dari dataran Eropa ke Tana Toraja? Menurut catatan pemerintah Hindia Belanda, seperti yang dikutip dalam prayitno (2009), penularan berawal dari China sebagai negara pertama di Asia yang terjangkit influensa, lalu menyebar hingga pantai utara Sumatera. Konsul Belanda di Singapura sempat memberi peringatan kepada Pemerintah Batavia untuk waspada terhadap kedatangan orang yang tertular flu dari daratan China. Namun sayangnya peringatan tersebut tidak sampai ke daerah lain, sehingga virus penyakit tersebut menjalar melalui pelabuhan besar di Makassar dan daerah-daerah lainnya. Perlu diketahui bahwa pada masa itu Makassar merupakan salah satu basis pertahanan Belanda untuk menguasai Indonesia bagian timur dan Tana Toraja yang secara geografis berdekatan dengan Makassar, merupakan destinasi strategis bagi pemerintah kolonial Belanda dalam memperluas daerah jajahannya dibanding dengan daerah-daerah disekitarnya yang telah dikuasai oleh kerajaan Gowa Tallo dan kerajaan Luwu. Kenyataan tersebut diyakini menjadi faktor utama tersebarnya wabah ra’ba biang di Tana Toraja
Wabah tahun 1918 ini sangat penting untuk dipelajari mengingat penyakit dengan gejala yang sama terus berulang secara berturut-turut, seperti wabah virus SARS yang menyebar pada tahun 2003, Flu Burung, Flu Babi dan yang terakhir adalah Flu Unta. Namun sayangnya, peristiwa mahadahsyat yang terjadi justru dilupakan oleh masyarakat dunia.
Wabah yang juga terjadi di Nusantara khususnya di Toraja tidak penah tertulis dalam buku pendidikan sejarah khususnya di Indonesia, bahkan terkesan sengaja dilupakan. Hal tersebut menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. Apalagi peristiwa tersebut menguatkan spekulasi bahwa setiap perang besar akan diakhiri dengan peristiwa maha dahsyat. Perang dunia I diakhiri dengan wabah pandemik influenza, perang dunia II diakhiri dengan pemusnahan massal Hiroshima dan Nagasaki. Di indonesia? Perang disintegrasi antara TNI dan GAM diakhiri dengan bencana besar tsunami.
Kenyataan miris lainnya digambarkan dengan jelas oleh Alberd Camus, seorang pemerhati pandemik pada petikan berikut: But what are a hundred million deaths? When one has served in a war, one hardly knows what a dead man is, after a while. And since a dead man has no substance unless one has actually seen him dead, a hundred million corpses broadcast through history are no more than a puff of smoke in the imagination.
Camus menekankan bahwa kita membiarkan perang terjadi karena kita tidak bisa benar-benar memahami apa arti jutaan orang mati karena wabah penyakit. Sama halnya dengan saksi bisu kuburan massal di Tana Toraja yang merupakan korban Ra’ba biang. Mereka seolah hanyalah seonggok tulang tak berarti. Hingga suatu saat tidak lagi dikenal sebagai bukti sejarah masa lalu suku Toraja.“L'histoire se répète'” demikian semboyan dalam dunia sejarah Prancis. Sejarah akan selalu berulang dengan sifat yang sama namun dalam bentuk yang berbeda. “Jas Merah!” Jangan sekali-kali melupakan sejarah, itu semboyan pendiri bangsa, Bung Karno.
Ma' Barata
Jawabannya adalah YA,……..
Namun tentunya sekarang sudah tidak ada dan diperbolehkan,hmm Selain melanggar HAM tentunya kita sebagai generasi jaman ‘now’ sebagai warga negara yang dilindungi oleh hukum sudah pasti men-cap bahwa perbuatan tersebuat adalah sebuah kebiadaban.
Namun kejadian ini adalah sebuah fakta sejarah kita Sangtorayan ,Pada permulaan abad ke 17 dari berbagai sumeber nyata dan hidup yang ada bahwa ini benar-benar ada yang bukan merupakan sebuah tatanan/Aluk dalam ALUK TODOLO namun hanya sebagai adat,kemudian dilarang setelah masuknya belanda ke wilayah Sangtorayan.

Adapun Maksud dan philosopi dari pengurbanan ini adalah :
- Sebuah tanda penghormatan kepada seorang pahlawan yang telah mempertahankan kedaulatan negeri atau kehormatan keluarganya bahkan masyarakatnya
- Sebuah tanda penghormatan kepada seseorang yang wafat dalam peperangan dalam hal ini khususnya dalam perang saudara yang terjadi di Toraja dahulu kala.
- Sebuah Tanda penghormatan kepada seseorang yang telah berjasa.
Dalam prosesi ini Seorang yang akan dijadikan kurban Barata di ikat tertambat pada Batu Simbuang menunggu saatnya dipancung,Kurban batara ini boleh laki-laki ataupun perempuan yang di tangkap saat berada di medan perang namun jika tidak ada peperangan maka kurbannya di tangkap dengan cara Mangaun (di intip untuk ditangkap) dari orang yang telah disepakati oleh Topadatindo dan dalam kesepakatan mereka yang disepakati secara turun temurun oleh penerusnya bahwa yang menjadi Kurban Batara adalah tawanan dalam perang atau orang-orang yang tidak ikut dalam persatuan melawan Arung Palakka yang di istilakan Toribang La’bo’,Tosimpo Mataran Dari sebuah daerah tertentu yang terletak di bagian utara pegunungan Toraja penduduk inilah yang di jadikan buron Ma’Barata melalui pertarungan sengit karena mereka selalu mengadakan perlawanan mati-matian.
Oleh karena dalam pmburuannya biasa terjadi pertarungan hebat sehingga mereka yang diburu kadang tewas dalam pertarungan tersebut sehingga kurban untuk Barata ini tidak mutlak dikurbankan hidup-hidup namun jika sudah mati maka yang dibawa dalam upacaranya hanyalah kepalanya saja dan telah di anggap kurban sebagai tanda penghargaan dan penghormatan terhadap perannya dalam masyarakat semasa hidupnya.
Orang yang mendapat penghormatan seperti ini disebut TO DIPA’BARATAN ,Hingga saat ini walaupun adat ini sudah dilarang atau tidak dilakukan lagi namun masih ada Tongkonan yang menyimpan tengkorak atau sisa jasad dari Korban Barata sebagai bukti dan tanda bahwa mereka adalah keturunan bangsawan,pahlawan atau pemberani pada masa itu.
Sangat membuat pangling dan merinding bukan ? jika membayang jika berada pada masa dan kejadian itu,namun sejarah berbicara dan itulah faktanya baik dari cerita turun temurun bahkan dari berbagai sumber.
Namun bukan berarti kita harus mempraktekkannya di masa sekarang,Sekarang kita adalah masyarakat yang menganut keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang dilindungi oleh hukum di negara kita,
Sekian dan terima kasih,
sumber: https://sangtorayanid.wordpress.com
Mangrambu dan Umpoya Angin
Mangrambu Tampak Beluak dan Umpoya Angin dari bahasa ini sendiri mungkin kita agak akan dibuat bingung apa maksud dari ini,Dalam bahasa indonesia sendiri jika di artikan secara lurus Mangrambu Tampak Beluak = Mengasapi Ujung Rambut,dalam pengertian bahasa Toraja Mangrambu adalah istilan pengupacaraan secara adat sesuai Aluk yang ada di masyarakat,Sedangkan yang dimaksud dengan Umpoya Angin = Memukat Angin, Istilah di atas adalah sebuah cara mengupacarakan seseorang yang meninggal di luar daerah dan jenasahnya tidak sempat di temukan ataukah tidak utuh entah itu karena keluarga bersangkutan hanya mendapat atau mendengar kabar kematian keluarganya tersebut yang dilakukan dengan cara membungkus angin atau membawa ujung rambut / kuku dari jenasah tersebut.karena Dalam Aturan Aluk Todolo setiap orang yang telah meninggal harus di upacarakan supaya arwahnya dapat diterima menjadi arwah yang baik di puya dan menjadi To Mebali Puang yang diyakini dapat memperhatikan keturunan-keturunannya,Sala satu informasi yang kami terima dari Ne’ Toding [karatuan]/kesu'(15/sept 2018) memaparkan bahwa dia pernah mengalami sendiri kejadian serupa ketika saudara di poso meninggal namun jenasahnya tidak ditemukan lagi sehingga diupacarakan dengan menguburkan salah satu pakaian favoritnya dan ini dikategorikan sebagai “Mangrambu tampak beluak”
Nah oleh karena alasan-alasan di atas yaitu sebuah kewajiban dalam Aluk Todolo untuk mengupacarakan Jenasah orang yang telah meninggal secara wajar walaupun tampa jenasah dan jika kita perhatikan sesuai keyakinan yang lain atau di tempat yang lain di luar sana mungkin philosofinya tidak jauh berbeda yaitu memakamkan jenasah secara wajar dengan cara tertentu.

1.Mangrambu Tampak Beluak,yaitu upacara pemakaman dimana yang yang di upacarakan hanya ujung rambut,ujung kuku,ataukah hanya pakaiannya saja yang dibungkus namun jenasahnya dikuburkan jauh dari negerinya sendiri dalam Aluk todolo mengupacarakan ujung rambut,kuku atau pakaiannya saja seperti di atas dalam hal ini sudah dianggap sebagai jenasah aslinya yang kemudian di upacarakan sesuai tingkatan kastanya di masyarakat , dan biasanya juga kemudian hari keluarganya pergi mengambil jenasah yang dikuburkan jauh tadi dengan digali kemudian jasad atau tulang belulang yang masih ada dikumpulkan lalu di kubur secara layak di kampung halamannya kembali yang disebut mangkaro batang rabuk meski begitu keluarga tetap harus mengurbankan seekor hewan apakah itu babi atau ayam.
2.Dipoya Angin,Yaitu jika ada seseorang yang meninggal namun jasad tidak diketahui keberadaannya sehingga tidak ada ujung rambut,ujung kuku,ataupun pakaiannya yang di dapatkan sama sekali seperti seseorang yang meninggal karena tenggelam di laut,ataukah hilang di hutan maka dalam hal ini harus di upacarakan dengan cara Dipoya Angin,dalam ritual ini seluruh ataukah beberapa keluarga pergi ke gunung membawa sebuah sarung yang baru untuk memukat angin caranya dengan mrngikat sala satu ujung sarung dan diarahkan ke arah datangnya angin,angin yang menggelembung dalam sarung tersebut akan ditangisi oleh para perempuan yang ikut,dan sesegerah mungkin ujung yang satu di ikat oleh pria sehingga sarung tersebut terisi oleh angin yang menggembung didalannya,saat itu diyakini bahwa arwah dari mendiang yang telah dianggap meninggal tadi telah masuk bersama angin kedalam sarung tadi,kemudiang sarung itu dibawa ke tongkonan untuk dibungkus menyerupai bundaran balun (peti bungkus orang Toraja) dan di anggap sebagai jrnasah orang yang mebinggal tadi,replika jenasah ini krmudian di upacarakan sesuai kasta orang tersebut yang pada umumnya dilakukan dengan di pa sang bongi (satu malam) namun mengurbankan lebih dari satu ekor kerbau yang kulitnya (balulang) tidak dilepas dari daging/di iris bersamaan kemudian Tominaa mengucapkan Untaian kata dari Bala’kaan duku’ (menara daging) untuk mengungkapkan kesetiaan keluarga dan mendiang dan mrnerangkan bahwa arwahnya telah di rekondasikan untuk dapat diterimah secara wajar di alam baka (Puya).
Demikianlah sedikit ulasan tentang upacara pemakaman yang disebut URRAMBU TAMPAK BRLUAK DAN UMPOYA ANGIN dimana ini adalah bagian dari Tatanan upacara dalam Aluk Todolo,Dan tentu saja ini hanyalah bagian kecil dari keunikan yang ada di Tondok lepongan bulan Tana matari’ allo,
Sumber: https://sangtorayanid.wordpress.com/2018/10/22/mangrambu-tampak-beluak-sia-umpoya-angin/?fbclid=IwAR0RKp2N5KWovSt5UNCNhoE1bvlc2DfO9sEh868e7RY71kqZLnpxCPsn434
Thursday, November 1, 2018
KARUME
Malaikat Dari Toraja
"BUTA SOLA MAMANG"
Copy dari: Tokonawa. blogspot.com
http://kamaliran.blogspot.com/2015/11/ulelean-pare.html
Seba sola Wati
depekondi' ullelean; upu' bang naperangi-rangi seba, pakalan natiromi tu wati lan induk nakuami seba lako ooohhh iko pale' wati tu umpa'korrek-korrekanna'. mane matemuri laku tunu api.
nakuami wati:
oh taek raka mutiroi na malotong tu ulungku belanna mangkana' aku ditunu api apa tae'ra ku mate.
nakua omi seba: mane laku ta'tak-ta'tak rako ia la'bo'....!!!
mebali omi wati nakua: apara aku nama'rere'-rere' tukaleku seba saba' mangkana' di ta'tak- ta'tak la'bo' na tae' duka ku mate.
ma'pentallunna nakua sebA; mane matemuri wati Mane laku palangngan ko ya illongku.... !!!!
Nakuami wati; a'a.... mane sumpuri dikka' sumandakku to seba. inangla matekumo te. (berpura2)
pakalan napalangngan seba illongna tu wati... mane ri wati nakua mane mateko seba mane laku rerokri tu ulummu...
kumamala' mi tu seba lako wati nakua: tassu'ko mai sangmane...
apa nakua wati: ahhh melomo aku inanku indete sangmane.
saelako mate tu seba natalo akkala' wati.
BUEN MANIK DAN BATU BERLOBANG
BUEN MANIK DAN BATU BERLOBANG
Landorundun
Sesat, sudah sesatlah perahuku
Salah jalan salah arahlah dia
Mundur, mundurlah kembali
Benarkanlah arah dan tujuannya
Di sana di hulu sungai
Asal mulanya busa air
Di atas di sumur batu
Bendurana mendengar seruan burung layang-layang di udara itu, lalu ia mengubah arah perahunya menuju utara yaitu Minanga (Kecamatan Tikala) lalu membuang sauh di dekat batu yang bernama Batu Sangkinan Lembang artinya batu tempat menambat perahu. Batu ini sampai sekarang tetap terkenal dan bersejarah.
Bendurana turun dari perahunya dan menanam pohon mangga. Pohon mangga ini rupanya agak lain sebab cepat tumbuh dan cepat pula berbuah (dan sampai sekarang pohon ini masih ada). Ketika selesai menanam pohon mangga, Bendurana meneruskan perjalanannya ke utara dan sampai di tempat yang bernama bubun batu di desa Pangala' (Kecamatan Rindingngallo). Di tempat itu Bendurana langsung bertemu dengan Landorundun.
Apa tujuan apa maksudmu
Apa yang engkau cari hingga ke sini
Berjalan jauh tak memperhitungkan lelah
Adakah engkau memberi piutang
Dan engkau datang menagihnya
Di negeri yang terpencil ini
Bendurana menjawab Landorundun dalam bentuk pantun juga:
Saya tidak berpiutang
Menagih utang yang lama pun tidak
Aku datang hanya melihat sesuatu
Penggulung rambut dari emas
Di negeri yang punya arti bagiku
Aku akan mendampingi engkau
Landorundun segera menjawab Bendurana:
Tiada artinya engkau mendekat
Ibu belum sempat mengizinkan
Bersama seluruh keluarga
Berpisah pergi ke Bone
Setelah mendengar jawaban Landorundun tersebut, Bendurana kecewa lalu pergi menanam pohon mangga dekat tempat Landorundun turun ke sungai mencuci rambutnya. Pohon mangga itu rupanya lain dari pohon mangga biasa, sebab cepat sekali tumbuh dan berbuah. Ketika buah mangga itu sudah mulai masak, pergilah Bendurana ke puncak gunung, bersembunyi, dan mengintip dari atas. Secara kebetulan pada waktu itu Landorundun turun ke sungai dan mencuci rambutnya. Pada saat itu, ia melihat mangga yang sudah masak tidak jauh dari tempat itu. Landorundun pergi menjolok sebuah, kemudian memakannya sambil berjemur diri dan bersisir. Bendurana melihat peristiwa yang telah lama dinanti-nantikan dari puncak gunung. Ia segera turun dari puncak gunung lalu pura-pura menghitung buah mangga itu. Setelah itu, ia menyindir Landorundun, katanya: "Siapakah mengambil buah kesayanganku, menjolok, dan memakan mangga manisku."
Landorandun merasa tersinggung mendengar sindiran Bendurana, lalu ia berkata:
Siapa yang mengambil buahmu
Siapa yang memakan manggamu
Beri tahu si anak gembala
Bersama anak penjaga kerbau
Dialah yang menjaga manggamu
Memakan buah kesayanganmu
Bersama semua tanam-tanamanmu.
Setelah Bendurana mendengar jawaban Landorundun, maka ia memanggil semua anak gembala yang ada di sekitar tempat itu, dan menanya satu per satu. Anak-anak gembala itu menjawab, "Kami tidak pernah mengambil apalagi memakan mangga Bendurana.
Landorundun mengambilnya
Memakan buah mangga itu
Bersama tanam-tanaman
Mendengar kata-kata anak gembala itu, Landorundun lalu mengaku dan berkata, "Akulah sebenarnya yang mengambil buah manggamu dan terserah kepadamu, hukuman apa yang harus kujalani." Pada saat itu Bendurana memutuskan untuk menikah dengan Landorundun, dan keputusan itu diterima oleh Landorundun.
Ketika Bendurana bersiap untuk berangkat membawa Landorandun, ia mencari akal supaya mertuanya (Lambe' Susu) tidak ikut berangkat bersama mereka. la menyuruh mertuanya pergi mengambil air di tebing gunung dan memberikan perian yang sudah dilubangi pantatnya untuk tempat air itu. Karena pantat perian itu bocor, air yang dimasukkan tidak kunjung penuh. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Bendurana membawa Landorundun turun ke perahu lalu berangkat. Ketika Lambe'Susu merasa bahwa perahu Bendurana sudah berangkat, ia pergi ke suatu tempat yang bernama Mata Bongi, untuk meiihat keberangkatan anaknya. Akan tetapi dari tempat itu Lambe' Susu tidak dapat melihatnya karena suasana gelap menutupi daerah sekelilingnya. Tempat Lambe' Susu memandang keberangkatan anaknya itu, sampai saat ini masih ada bekasnya, berupa tempat duduk dari batu.
Bendurana dan Landorundun meneruskan perjalanannya menuju Bone. Ketika mereka sudah tiba di Bone, dilangsungkanlah upacara pernikahan dengan menampilkan semua jenis pesta adat. Selama pesta berlangsung, Landorundun tidak pernah tertawa bahkan tersenyum pun tidak. Pada suatu ketika orang sengaja membawa burung gagak yang sudah dipotong kakinya sebelah ke halaman rumah. Burung gagak itu melompat terpincang-pincang dan kelihatan lucu. Pada saat itulah Landorandun tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan burung gagak itu. Mulai saat itu hiduplah Bendurana bersama Landorundun dalam suasana bahagia, rukun, dan damai.
Demikian akhir cerita ini. Semoga bermanfaat bagi pembaca.
(Selesai...)
Dana'
Dana’
sumber gambar dari: https://asalusulnusantara.files.wordpress.com/2012/04/fcvxnb_m.jpg
Den tau misa’ disanga Dana’. Iate Dana’ male umparangi to
ma’kombongan. Narangimo tu nasituru’i tau lan kombongan kumua la
menammumo tu tau masiang. Biasanna ke la meparemi tau menammu anna
mantunu bai dolo namane mangrakan sia mepare. Melambi’ tonganmi tu Dana’
male lako tu inan la nanii tau menammu. Dio inan iato den tu sendana
kapua balombongan. Nateka’mi Dana’ anna membuni dao balombong sendana.
Saemi dolo tu tau da’dua la usseroi tu inan la nanii tau menammu.
Metambami tu Dana’ dao mai lolok sendana nakua: “Noka’ Deata kumande ke
tang Dana’ pi massampan, ke tang ambe’na mangimbo.” Pentallun Dana’
metamba susito, anna mentingara te tau sola duai undaka’i te to ma’kada
apa tae’ natiroi. Sulemi te tau sola duai umpokadai tu apa narangi.
Sirampunmi ambe’ tondok anna disorong duang bongi tu kapenammuan. Sia
disua tu tau male umparampaoi kumua Dana’ tu la manampan anna ambe’na tu
la mangimbo. Iatonna lambi’mi allo kapenammuan male nasangmi tu tau
lako tu inan diniii menammu. Rampo dukami tu Dana’ sola ambe’na anna
disua tu Dana’ massampan anna mangimbo tu ambe’na. Natiromi tau kumua
tarru’ buda tu duku’ naala buni Dana’ sia ia duka unnala nasang tu taana
ambe’na mangimbo. Ta’pa nakuammi tau tu Dana’ kumua: “Iake menampu’
pole’i tau, tae’mo naiko tu la massampan.”
Ia tonna kendek pole’omo pare, la menammuomi tu tau. Belanna tae’mo
naia la massampan, malemi tama pangala’ undaka’ serang enoan. Tonna
appa’mi napasokko’imi bakana anna penatutu’i solong nabai sule lako
banuanna. Masiang to, sangmaleanmi tu tau lako to’ penammuan sibaa
bakana nanii bo’bo’ lan. Male dukami tu Dana’ umbaa bakana nanii enoan
lan. Iatonna mangkamo to mangimbo, mantaa kandemi tu tau. Marassan tau
mantaa kande nabungka’ todami Dana tu tutu’ bakana anna tassu’ sitiaran
tu enoan ussiu’ tau naurunganni sisarak-sarak mallai untampe kandena.
Torro Dana’ umpebungku’ daun kayu anna tikara urrampunni tu kandena tau
saponnona bakana anna male umbaai lako banuanna. Taun iato, marassan tau
mepare anna marassan duka ungkassa’i sia den tu umpabendan alang ba’ru.
Male dukami dana’ umpabendan alang bitti’ napasirondong ba’tu pira-pira
alangna tau. Pada ma’pakissinmi tau langngan alangna. Nakuami Dana’:
“Aku manna dikka’ tu tae’ pareku, apara bua’na te alang kupabendan, dai’
to kuballa bangmi.” Nanaranni tau tu Dana’ kumua: “Da’mu ballai tu
alangmu belanna nakande api dau tu alangki. Kirampunanmoroko pare
mupalangnganni te alangmu.” Narampunan tonganmi pare tau anna membu’dak
tu pare napakissin langngan alangna.
Parannu bangmi penaanna tu Dana’ belanna moi anna to matukkun
mengkarang sia sumalong lulako lu dio manna mai, apa akamaluteanna
ma’pakena naurunganni tang ka’tu ma’pesassak kumande. Silelemo tau
untandai sia umpomarussa’i tu pa’pakenana Dana’ belanna natole-tole
bangmo napogau’.
Sirampunmi tu ambe’ tondong ungkombonganni tu penggauranna Dana’.
Nara’ta’mi ambe’ tondok laditingkan tu Dana’ anna dipungo taleko’ sia
disangkin dio garonto’ kalosi tu nanii ponno litti’. Dirondonmi tu
litti’ anna limbui nekeke’ tu Dana’. mettete’-tete’ tongan tu Dana’.
Pakalan lendu’mi misa’ to Bukku’ la male ma’pasa’. Nakuami Dana’ lako:
“E sangmane, tirora’. Malolomora’ka?” Nakuami tu to Bukku’: “Malolomo.
Ma’pari ammu indera to?” Nakuami Dana’: “Na bukku’na susi iko. Apa
ma’popedampina’ indete.” morairokoka la malolo susi aku?” Nakuami to
Bukku’ mebali: “Moraina’.” Nakuami Dana’: “Bungkai’mi te pungoku na iko
kupungo indete.” Nabukkai’mi to Bukku’ tu pungona Dana’.
Iatonna tibungka’mo tu pungona Dana’, to Bukku’ omo napungo Dana’.
Mangka napungo Dana’, napemarondonni Dana’ tu litti’ anna keke’i tu to
Bukku’. Metambami tu to Bukku’ nakua: “Bungkai’mi. Tangkuattamo.” Apa
nakua Dana’: “Pengkasarai belanna la malolomoko ke masaiko nakeke’
litti’.” mangkato, natampemi Dana’ anna male metaa-taa umpembunian
kalena lako inan senga’.
Sangsaeanmi tu tau la untiro Dana’. Apa tosenga’mo tu nalandiran.
Dibungka’mi tu pungona te to Bukku’ apa nasengkei tau saba’ mangka
nalussuran tu Dana’. Malemi napemadaka’i tau tu Dana’ anna amparanni.
Dirambaimi lanmai tondok sia dipakare’na kumua: “Tae’mo muma’din ullese
tondok belanna kadake liu tu penggauranmu.”
PESAN: ada konsekuensi dari setiap tindakan kita. ada ungkapan orang toraja " NANG DOLO SIA MO IA ULU TASSUK NA LETTEK KE DIDADIANKI" artinya berhati-hatilah dalam semua tindakanmu, pikirkan matang-matanglah sebelum melaksanakan sesuatu atau sebelum engkau bertindak.
sumber: http://kamaliran.blogspot.com/2015/11/ulelean-pare.html





















