Wednesday, November 14, 2018

Mangrara Banua sebuah ritual dari Toraja

Upacara Mangrara Banua adalah sebuah ritual untuk meresmikan rumah (Tongkonan) sebelum ditinggali. Dimulai oleh sambutan dari pemuka adat, upacara dilanjutkan dengan tari-tarian oleh para wanita Toraja yang diiringi dengan tabuhan gendang.


Mangrara Banua” adalah ritual terpenting, karena tongkonan menjadi pusat kehidupan orang Toraja. Mulai dari urusan pemerintahan adat, perekonomian, hingga urusan memelihara silaturahim kekerabatan dilaksanakan di tongkonan. Kekerabatan, lebih-lebih status sosial seseorang, tidak hanya ditelusuri dari nama marga, tetapi juga dari tongkonan mana ia berasal.”Mangarara Banua” termasuk prosesi ”Rambu Tuka’” yang langka karena hanya dilakukan untuk selamatan tongkonan yang baru diganti atap bambu atau dindingnya. ”Penggantian atap sebuah tongkonan biasanya dilakukan 40 tahun sekali, sesuai umur bambu yang disusun sebagai atap tongkonan yang bersangkutan, sedangkan penggantian dinding tongkonan biasanya dilakukan 100 tahun sekali. Proses penggantian itu berlangsung enam bulan. Dinding berukir yang biasanya dipesan dari Randan Batu di wilayah Kesu, Tana Toraja.
Contoh ukiran toraja Pada Tonkonan:Daun Paria, Pa’kapu’ baka’, Buah Tina, Bungkang Tasik,Sekong, Toronkong, Sekong anak,Sissik Bale, Pa’takku’ Pare.

Si semba'

SI SEMBA'


Sisemba’ adalah Tradisi permainan rakyat orang Toraja yang biasanya dilakukan setelah usai panen padi. Dikatakan permainan rakyat oleh karena yang ikut serta dalam permainan ini adalah mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Dan apabila ada peserta yang cidera bahkan meninggal dunia maka tak seorangpun yang bisa dimintai pertanggungjawaban. Jika ada yang sampai meninggal dunia, maka kematiannya dianggap mati sia-sia atau dalam istilah orang Toraja ; “Mate na lese tedong” (mati karena di injak kerbau).
Untuk mengurangi resiko cidera atau kematian peserta Sisembak, maka pada setiap acara Sisemba’ ini, selalu ada orang yang bertindak sebagai tukang Lerai jika situasinya sudah sangat membahayakan peserta Sisemba’.


Selain dari adanya orang yang bertindak sebagai Pelerai, permainan Sisemba’ ini juga mengenal beberapa aturan antara lain:
Peserta yang ikut permainan Sisemba’ harus berpasangan ( 2 orang yang harus berpegangan satu dengan yang lain )
Lawan yang sudah terduduk atau sudah terjatuh, tidak boleh di serang.
Tidak boleh ada demdam setelah acara permainan selesai.
Permainan Sisemba’ diawali dengan peserta dari anak-anak terlebih dulu, tak lama kemudian peserta remaja turun gelanggang, peserta anak-anak menyingkir. Setelah adrenalin peserta dewasa tidak lagi dapat dibendung, maka saat itulah para peserta dewasa mengambil alih gelanggang.
Satu hal yang juga perlu diketahui dalam permainan Sisemba’ ini adalah pesertanya selalu membludak. Kalau dilihat permainan ini cenderung brutal akan tetapi tidak banyak diantara para pesertanya yang mengalami cidera parah bahkan sampai meninggal. Kejadian seperti itu jelas pernah terjadi, tapi jarang.

Untuk dapat menjadi petarung tangguh dalam acara Sisemba’ ini dibutuhkan tidak hanya kekuatan Fisik dan kelincahan gerak namun sebuah perisai diri yang orang Toraja menyebutnya dengan nama Panimbolo’.
Panimbolo’ adalah sebuah mantra-mantra yang banyak macam cara dan bentuknya, yang dimiliki ataupun diberikan oleh orang-orang tua kepada seseorang yang akan ikut permainan Sisemba’. Panimbolo’ ini akan menyebabkan seseorang tidak akan merasa kesakititan apabila mendapat tendangan. Namun tidak semua peserta menggunakan Panimbolo’ dan hanya mengandalkan kekuatan fisik semata.

Monday, November 12, 2018

MAKULA'

MAKULA’
Makula 'is a hot spring located in TorajaMakula's hot spring has been processed into an attractive tourist attraction and is visited by many domestic and foreign tourists. Incomplete if not to the Macula. Very comfortable bathing natural hot spring in the middle of the cold Toraja temperature.

Makula is located in Sangalla, about 24 kilometers south of the city of Rantepao or five six kilometers west of the city of Makale, Tana Toraja, South Sulawesi, Indonesia.
There are three hot springs in the Macula which are located close together. Around the spring, there are several rest houses. The management inte


ntionally provides pools to hold hot water flowing from the source. While enjoying the natural beauty of Sangalla, tourists can enjoy as much warm water as you like.
The hot water emerged from limestone and sandstone which dominated the structure of the Sangalla land. The highest temperature of the water was 43.6 degrees Celsius at an air temperature of 22.1 degrees Celsius. The source of heat is thought to originate from the magma sac under the Kaero Hill. Hot energy propagates through rocks.it is said that hot water in the Makula bath is believed to cure various diseases, such as skin diseases and othersHot spring tourism Makula can be reached from Rantepao and Makale by private vehicles or car facilities provided by the hotel.



Saturday, November 10, 2018

Ra'ba Biang

 Ra'ba Biang


Maut Massal,Pemakaman Massal, Sebuah cerita kelam perjalanan suku Toraja yang sering di sebut-sebut dan masih dikenang oleh masyarakat sampai saat ini yaitu peristiwa “Ra’ba Biang” dalam pengertiannaya; ra’ba (rebah),sedangkan Biang adalah (sejenis spesies rumput),ini adalah istilah yang digunakan masyarakat Toraja untuk mengenang kejadian/Mala petaka yaitu dimana puluhan ribu orang meninggal dalam kurun waktu yang singkat dikarenakan wabah penyakit yang memaikan (sepeti influenza)
Ketika musibah itu terjadi, banyak desas-desus yang beredar di masyarakat mengenai penyebab wabah tersebut. Ada yang mengatakan bahwa ini diakibatkan karena banyak orang tidak lagi mengikuti Aluk (ajaran/keprcayaan/ritual) yang diturunkan oleh leluhur karena masuknya Aluk Balanda (agama Kristen dan adat orang Belanda), ada juga yang beranggapan ini diakibatkan oleh pembunuhan A.A. van de Loosdrecht (misionaris Protestan) setahun sebelumnya, dan berbagai anggapan lainnya.
Ketika peristiwa ra’ba biang, dalam setiap KK (maksudnya Kepala Keluarga), mintu’ pa’dukkuan api (semua rumah tangga), pasti ada yang mati, bahkan ada yang meninggal semua dalam keluarga. Peristiwa itu terjadi sekitar 1918. Musibah, semua mati serempak. Orang-orang yang pulang menguburkan, banyak yang dikuburkan keesokan harinya karena meninggal tidak lama setelah pulang menguburkan anggota keluarganya. Pada saat itulah dirembangan palungan, digente’ (disebut sebagai) ra’ba biang.


Ternyata wabah ini merajalela di seluruh dunia, yang terkenal dengan sebutan 'flu Spanyol'. Wabah tersebut termasuk salah satu wabah paling mematikan yang pernah dialami dunia. Bayangkan saja, diperkirakan 50 juta orang meninggal pada saat itu. Selengkapnya bisa dibaca di Flu Spanyol, Lebih Mematikan dari Perang Dunia .


Kenangan tentang era ra'ba biang ini masih terpelihara dalam tradisi lisan orang Toraja, dimana kisah tersebut dituturkan terus menerus. Mungkin saja, ini disebabkan karena begitu kuatnya tradisi yang menyangkut kematian dan pemakaman di Toraja.
Salah satu informasi yang langsung disampaikan melalui nenek yang langsung menyaksikan peristiwa itu bahwa pada saat itu orang-orang kewalahan untuk menguburkan jenasah. Bahkan ketika pulang dari penguburan, ditemukan lagi orang sakit (dengan gejala yang sama yaitu demam, sakit kepala menusuk, dan sakit pada tulang-tulang sendi) lalu meninggal. Begitu seterusnya hingga orang awam beranggapan bahwa wabah tersebut adalah kutukan dan karena begitu menakutkannya wabah tersebut, hingga sekarang istilah ra’ba biang tidak boleh sembarang disebutkan.
Sayangnya, informasi  dalam bentuk literal yang seharusnya lebih banyak menjelaskan informasi dibalik bukti-bukti autentik yang ada disana  masih sangat kurang. Sampai saat ini, informasi tentang Ra’ba biang yang ada lebih banyak berbentuk lisan, yaitu informasi yang didapatkan dari mulut ke mulut dan dari generasi ke generasi. Akibatnya, informasi terkait peristiwa tersebut perlahan mulai hilang ditelan zaman.

Informasi tentang peristiwa Ra’ba biang justru lebih banyak didapatkan dari hasil kajian literatur beberapa peneliti luar negeri, antara lain; Roxana Waterson (2009), dan Colin Brown. Dalam bukunya berjudul “Paths and Rivers; Sa’dan Toraja Society in Transformation”, disebutkan bahwa ra’ba biang adalah istilah dari kejadian orang-orang yang bertumbangan seperti rumput yang ditebas (cut down like a grass). Disebutkian juga bahwa, pada masa itu belum ada layanan kesehatan yang layak bagi si penderita sehingga korban berjatuhan sangat banyak  (Waterson, 2009:109). Colin Brown (1987), seorang sejarawan dari Australia yang menuliskan artikel berjudul “The Influenza Pandemic of 1918 in Indonesia”. Artikel tersebut kemudian dimuat dalam buku yang berjudul Death and Disease in Southeast Asia: Explorations of Social, Medical and Demographic History. Dalam catatannya, disebutkan bahwa Pemerintah Kolonial Hindia Belanda memperkirakan sekitar 10 persen dari 3.000 populasi Toraja meninggal.
Saya menemukan jurnal hasil penelitian Prayitno, dkk (2009) yang menjelaskan informasi tentang peristiwa menakutkan ini. Prayitno adalah anggota peneliti Sejarah Pandemik Influenza 1918 di Hindia Belanda dari Universitas Indonesia. Dari hasil temuannya, diketahui bahwa ada keterkaitan antara peristiwa ra’ba biang di Toraja pada tahun 1918, dengan wabah influenza yang menjangkiti seluruh dunia pada tahun yang sama. Penyakit ini merupakan penyakit influenza tipe A, tipe yang paling berbahaya dan dapat mematikan. Penyakit ini juga mempunyai masa  inkubasi yang cepat. Sama dengan di daerah lain, keterbatasan informasi dan pengetahuan tentang penyembuahan penyakit  juga menjadi faktor banyaknya korban yang berjatuhan.
Diperkirakan sekitar 1,5 juta orang di Nusantara meninggal dunia akibat wabah flu mematikan yang menyerang pada tahun 1918 sampai dengan 1919. Virus yang juga dikenal dengan virus Spanyol ini memakan korban melebihi jumlah korban yang meninggal dunia pada perang dunia pertama. Hal ini diungkap dalam artikel di situs resmi Universitas Stanford: The influenza pandemic of 1918-1919 killed more people than the Great War, known today as World War I (WWI), at somewhere between 20 and 40 million people. It has been cited as the most devastating epidemic in recorded world history. More people died of influenza in a single year than in four-years of the Black Death Bubonic Plague from 1347 to 1351. Known as "Spanish Flu" or "La Grippe" the influenza of 1918-1919 was a global disaster. (dikutip dari https://virus.stanford.edu/uda/)
 Bagaimana virus pandemik influenza menyebar dari dataran Eropa ke Tana Toraja? Menurut catatan pemerintah Hindia Belanda, seperti yang dikutip dalam prayitno (2009), penularan berawal dari China sebagai negara pertama di Asia yang terjangkit influensa, lalu menyebar hingga pantai utara Sumatera. Konsul Belanda di Singapura sempat memberi peringatan kepada Pemerintah Batavia untuk waspada terhadap kedatangan orang yang tertular flu dari daratan China. Namun sayangnya peringatan tersebut tidak sampai ke daerah lain, sehingga virus penyakit tersebut menjalar melalui pelabuhan besar di Makassar dan daerah-daerah lainnya. Perlu diketahui bahwa pada masa itu Makassar merupakan salah satu basis pertahanan Belanda untuk menguasai Indonesia bagian timur dan Tana Toraja yang secara geografis berdekatan dengan Makassar, merupakan destinasi strategis bagi pemerintah kolonial Belanda dalam memperluas daerah jajahannya dibanding dengan daerah-daerah disekitarnya yang telah dikuasai oleh kerajaan Gowa Tallo dan kerajaan Luwu. Kenyataan tersebut diyakini menjadi faktor utama tersebarnya wabah ra’ba biang di Tana Toraja
Wabah tahun 1918 ini sangat penting untuk dipelajari mengingat penyakit dengan gejala yang sama terus berulang secara berturut-turut, seperti wabah virus SARS yang menyebar pada tahun 2003, Flu Burung, Flu Babi dan yang terakhir adalah Flu Unta. Namun sayangnya, peristiwa mahadahsyat yang terjadi justru dilupakan oleh masyarakat dunia.
Wabah yang juga terjadi di Nusantara khususnya di Toraja tidak penah tertulis dalam buku pendidikan sejarah khususnya di Indonesia, bahkan terkesan sengaja dilupakan. Hal tersebut menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. Apalagi peristiwa tersebut menguatkan spekulasi bahwa setiap perang besar akan diakhiri dengan peristiwa maha dahsyat. Perang dunia I diakhiri dengan wabah pandemik influenza, perang dunia II diakhiri dengan pemusnahan massal Hiroshima dan Nagasaki. Di indonesia? Perang disintegrasi antara TNI dan GAM diakhiri dengan bencana besar tsunami.
Kenyataan miris lainnya digambarkan dengan jelas oleh Alberd Camus, seorang pemerhati pandemik  pada petikan berikut: But what are a hundred million deaths? When one has served in a war, one hardly knows what a dead man is, after a while. And since a dead man has no substance unless one has actually seen him dead, a hundred million corpses broadcast through history are no more than a puff of smoke in the imagination.
Camus menekankan bahwa kita membiarkan perang terjadi karena kita tidak bisa benar-benar memahami apa arti jutaan orang mati karena wabah penyakit. Sama halnya dengan saksi bisu kuburan massal di Tana Toraja yang merupakan korban Ra’ba biang. Mereka seolah hanyalah seonggok tulang tak berarti. Hingga suatu saat tidak lagi dikenal sebagai bukti sejarah masa lalu suku Toraja.“L'histoire se répète'” demikian semboyan dalam dunia sejarah Prancis. Sejarah akan selalu berulang dengan sifat yang sama namun dalam bentuk yang berbeda. “Jas Merah!” Jangan sekali-kali melupakan sejarah, itu semboyan pendiri bangsa, Bung Karno.
Memang perih untuk membuka peristiwa sejarah masa lalu, namun lebih menyakitkan lagi bila kita menutup diri dari sejarah. Peristiwa “ra’ba biang” hanyalah salah satu dari sekian banyak sejarah yang perlu menjadi referensi perjuangan masyarakat Toraja menuju masyarakat modern namun tetap memegang nilai-nilai kearifan lokal. Saya meyakini bahwa setiap peristiwa besar yang ada di Tana Toraja adalah bagian dari warisan budaya yang patut diketahui dan dijaga oleh putra-putri suku Toraja. Tanpa perhatian khusus dari mereka, sejarah tersebut dapat berurubah atau dihilangkan karena pragmatisme kekuasaan.

Ma' Barata


Ma' Barata
 
Sampai Sekarang mungkin ada yang bertanya tanya atau hanya sebatas dengar dan penasaran apakah betul di peradatan Toraja ada pengurbanan manusia ?
Jawabannya adalah YA,……..
Namun tentunya sekarang sudah tidak ada dan diperbolehkan,hmm Selain melanggar HAM tentunya kita sebagai generasi jaman ‘now’ sebagai warga negara yang dilindungi oleh hukum sudah pasti men-cap bahwa perbuatan tersebuat adalah sebuah kebiadaban.
Namun kejadian ini adalah sebuah fakta sejarah kita Sangtorayan ,Pada permulaan abad ke 17 dari berbagai sumeber nyata dan hidup yang ada bahwa ini benar-benar ada yang bukan merupakan sebuah tatanan/Aluk dalam ALUK TODOLO namun hanya sebagai adat,kemudian dilarang setelah masuknya belanda ke wilayah Sangtorayan.
Adat Ma’ Barata ini sendiri dengan maksud dan tujuannya yaitu sebagai penghormatan dan sebagai tanda kepahlawanan/keberanian dari seorang bangsawan atau sebagai pahlawan dalam perang Topada tindo saat itu.
Adapun Maksud dan philosopi dari pengurbanan ini adalah :
  1. Sebuah tanda penghormatan kepada seorang pahlawan yang telah mempertahankan kedaulatan negeri atau kehormatan keluarganya bahkan masyarakatnya
  2. Sebuah tanda penghormatan kepada seseorang yang wafat dalam peperangan dalam hal ini khususnya dalam perang saudara yang terjadi di Toraja dahulu kala.
  3. Sebuah Tanda penghormatan kepada seseorang yang telah berjasa.
Ma’ Barata ini sendiri hanya dilakukan pada upacara rapasan yaitu upacara pemakaman (Rambu Solo’) kasta tertinggi di Toraja Dengan Standar Tunuan (Pengurbanan) Tertentu Jumlahnya.
Dalam prosesi ini Seorang yang akan dijadikan kurban Barata di ikat tertambat pada Batu Simbuang menunggu saatnya dipancung,Kurban batara ini boleh laki-laki ataupun perempuan yang di tangkap saat berada di medan perang namun jika tidak ada peperangan maka kurbannya di tangkap dengan cara Mangaun (di intip untuk ditangkap) dari orang yang telah disepakati oleh Topadatindo dan dalam kesepakatan mereka yang disepakati secara turun temurun oleh penerusnya bahwa yang menjadi Kurban Batara adalah tawanan dalam perang atau orang-orang yang tidak ikut dalam persatuan melawan Arung Palakka yang di istilakan Toribang La’bo’,Tosimpo Mataran Dari sebuah daerah tertentu yang terletak di bagian utara pegunungan Toraja penduduk inilah yang di jadikan buron Ma’Barata melalui pertarungan sengit karena mereka selalu mengadakan perlawanan mati-matian.
Oleh karena dalam pmburuannya biasa terjadi pertarungan hebat sehingga mereka yang diburu kadang tewas dalam pertarungan tersebut sehingga kurban untuk Barata ini tidak mutlak dikurbankan hidup-hidup namun jika sudah mati maka yang dibawa dalam upacaranya hanyalah kepalanya saja dan telah di anggap kurban sebagai tanda penghargaan dan penghormatan terhadap perannya dalam masyarakat semasa hidupnya.
Orang yang mendapat penghormatan seperti ini disebut TO DIPA’BARATAN ,Hingga saat ini walaupun adat ini sudah dilarang atau tidak dilakukan lagi namun masih ada Tongkonan yang menyimpan tengkorak atau sisa jasad dari Korban Barata sebagai bukti dan tanda bahwa mereka adalah keturunan bangsawan,pahlawan atau pemberani pada masa itu.
Sangat membuat pangling dan merinding bukan ? jika membayang jika berada pada masa dan kejadian itu,namun sejarah berbicara dan itulah faktanya baik dari cerita turun temurun bahkan dari berbagai sumber.
Namun bukan berarti kita harus mempraktekkannya di masa sekarang,Sekarang kita adalah masyarakat yang menganut keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang dilindungi oleh hukum di negara kita,
Sekian dan terima kasih,

sumber: https://sangtorayanid.wordpress.com

Mangrambu dan Umpoya Angin

  



Mangrambu Tampak Beluak dan Umpoya Angin dari bahasa ini sendiri mungkin kita agak akan dibuat bingung apa maksud dari ini,Dalam bahasa indonesia sendiri jika di artikan secara lurus Mangrambu Tampak Beluak = Mengasapi Ujung Rambut,dalam pengertian bahasa Toraja Mangrambu adalah istilan pengupacaraan secara adat sesuai Aluk yang ada di masyarakat,Sedangkan yang dimaksud dengan Umpoya Angin = Memukat Angin, Istilah di atas adalah sebuah cara mengupacarakan seseorang yang meninggal di luar daerah dan jenasahnya tidak sempat di temukan ataukah tidak utuh entah itu karena keluarga bersangkutan hanya mendapat atau mendengar kabar kematian keluarganya tersebut yang dilakukan dengan cara membungkus angin atau membawa ujung rambut / kuku dari jenasah tersebut.karena Dalam Aturan Aluk Todolo setiap orang yang telah meninggal harus di upacarakan supaya arwahnya dapat diterima menjadi arwah yang baik di puya dan menjadi To Mebali Puang yang diyakini dapat memperhatikan keturunan-keturunannya,Sala satu informasi yang kami terima dari Ne’ Toding [karatuan]/kesu'(15/sept 2018) memaparkan bahwa dia pernah mengalami sendiri kejadian serupa ketika saudara di poso meninggal namun jenasahnya tidak ditemukan lagi sehingga diupacarakan dengan menguburkan salah satu pakaian favoritnya dan ini dikategorikan sebagai “Mangrambu tampak beluak”
Nah oleh karena alasan-alasan di atas yaitu sebuah kewajiban dalam Aluk Todolo untuk mengupacarakan Jenasah orang yang telah meninggal secara wajar walaupun tampa jenasah dan jika kita perhatikan sesuai keyakinan yang lain atau di tempat yang lain di luar sana mungkin philosofinya tidak jauh berbeda yaitu memakamkan jenasah secara wajar dengan cara tertentu.


Untuk hal ini di Toraja untuk orang yang mengalami kejadian seperti itu dilakukan dengan dua cara ;
1.Mangrambu Tampak Beluak,yaitu upacara pemakaman dimana yang yang di upacarakan hanya ujung rambut,ujung kuku,ataukah hanya pakaiannya saja yang dibungkus namun jenasahnya dikuburkan jauh dari negerinya sendiri dalam Aluk todolo mengupacarakan ujung rambut,kuku atau pakaiannya saja seperti di atas dalam hal ini sudah dianggap sebagai jenasah aslinya yang kemudian di upacarakan sesuai tingkatan kastanya di masyarakat , dan biasanya juga kemudian hari keluarganya pergi mengambil jenasah yang dikuburkan jauh tadi dengan digali kemudian jasad atau tulang belulang yang masih ada dikumpulkan lalu di kubur secara layak di kampung halamannya kembali yang disebut mangkaro batang rabuk meski begitu keluarga tetap harus mengurbankan seekor hewan apakah itu babi atau ayam.
2.Dipoya Angin,Yaitu jika ada seseorang yang meninggal namun jasad tidak diketahui keberadaannya sehingga tidak ada ujung rambut,ujung kuku,ataupun pakaiannya yang di dapatkan sama sekali seperti seseorang yang meninggal karena tenggelam di laut,ataukah hilang di hutan maka dalam hal ini harus di upacarakan dengan cara Dipoya Angin,dalam ritual ini seluruh ataukah beberapa keluarga pergi ke gunung membawa sebuah sarung yang baru untuk memukat angin caranya dengan mrngikat sala satu ujung sarung dan diarahkan ke arah datangnya angin,angin yang menggelembung dalam sarung tersebut akan ditangisi oleh para perempuan yang ikut,dan sesegerah mungkin ujung yang satu di ikat oleh pria sehingga sarung tersebut terisi oleh angin yang menggembung didalannya,saat itu diyakini bahwa arwah dari mendiang yang telah dianggap meninggal tadi telah masuk bersama angin kedalam sarung tadi,kemudiang sarung itu dibawa ke tongkonan untuk dibungkus menyerupai bundaran balun (peti bungkus orang Toraja) dan di anggap sebagai jrnasah orang yang mebinggal tadi,replika jenasah ini krmudian di upacarakan sesuai kasta orang tersebut yang pada umumnya dilakukan dengan di pa sang bongi (satu malam) namun mengurbankan lebih dari satu ekor kerbau yang kulitnya (balulang) tidak dilepas dari daging/di iris bersamaan kemudian Tominaa mengucapkan Untaian kata dari Bala’kaan duku’ (menara daging) untuk mengungkapkan kesetiaan keluarga dan mendiang dan mrnerangkan bahwa arwahnya telah di rekondasikan untuk dapat diterimah secara wajar di alam baka (Puya).

Demikianlah sedikit ulasan tentang upacara pemakaman yang disebut URRAMBU TAMPAK BRLUAK DAN UMPOYA ANGIN dimana ini adalah bagian dari Tatanan upacara dalam Aluk Todolo,Dan tentu saja ini hanyalah bagian kecil dari keunikan yang ada di Tondok lepongan bulan Tana matari’ allo,

Sumber: https://sangtorayanid.wordpress.com/2018/10/22/mangrambu-tampak-beluak-sia-umpoya-angin/?fbclid=IwAR0RKp2N5KWovSt5UNCNhoE1bvlc2DfO9sEh868e7RY71kqZLnpxCPsn434

Thursday, November 1, 2018

KARUME

"KARRUME"


             Karume merupakan salah satu kekayaan sastra yang dimiliki daerah Tana Toraja. Karume juga dapat digunakan sebagaai bagian dari pendidikan tradisional yang diwariskan ke generasi muda. Karume biasanya digunakan untuk bersenda gurau dengan teman sebaya dan digunakan orang tua kepada anaknya. Karume dapat mengasah kreativitas dan memperluas wawasan seseorang. Teka teki Toraja ini pun dapat dijadikan sebagai lawakan kepada khalayak ramai.
Berikut ini teka-teki (Karume ) yang berkembang di Toraja:
1. Allina kukalessekko Dalam bahasa Indonesia artinya belilah saya maka akan kucekik dirimu Apakah itu? Jawabannya yaitu manik /rante yang artinya kalung
2. Banuanna nene’ki saratu pentiroanna artinya rumahnya nenekku seratus penglihatannya Jawabannya yaitu buria manuk (kurungan ayam)
3. Banuanna nene’ku tae’tu pentiroanna Artinya rumahnya nenekku tidak ada penglihatannya Jawabannya yaitu tallo (telur)
4.Bendan anna kondi’ , ma’dokko anna kalando artinya yaitu berdiri tapi kelihatannya pendek, duduk tapi kelihatan tinggi Jawabannya yaitu Asu ( anjing)
5.Da’dua lopi misa’ri tau ungkendekki artinya dua perahu tapi hanya satu yang menaikinya Jawabannya yaitu sandala’ (sandal)
6.Dibungka’ tang mekkondong , ditutu’ anna mekkondong artinya dibuka tapi tidak melompat tapi ketika sudah ditutup baru dia melompat Jawabannya yaitu bollok ( ingus)
7.Dikeke’ napakekke’ artinya kita yang digigit dia lalu kemudian dia membalas menggigit kita Jawabannya yaitu lada ( cabe)
8. Dipesse’ posi’na anna lessek tu matanna artinya dipencet pusarnya kemudian melototlah matanya Jawabannya yaitu senter
9.Ditanan tangia tananan , diputu’ tangia putu’ artinya ditanam tapi bukan tanaman, dibungkus tapi bukan bungkusan Jawabannya yaitu to mate ( orang yang dikubur)
10.Ditiro lalana, tang ditiro rupanna artinya kita tahu arah jalannya tapi kita tak bisa melihat rupa fisiknya Jawabannya yaitu angin

Malaikat Dari Toraja

Seleksi Masuk Surga


Seorang malaikat menyeleksi pesrta yang mau masuk surga..seorang katekis datang,malaikat bertax : apa kerjamu di bumi??
Katekis : aku katekis di Gereja melayani Tuhan..
Malaikat : kamu masuk..
Pastur datang, malaikat bertax : apa kerjamu di bumi??
Pastur : aku pastur,aku melayani banyak umat....
Malaikat : kamu juga masuk...
Kemudian datang 3 orang lagi, malaikat bertanya : kenapa kalian datang bertiga??
Kami TRIO ROHANI !..
Malaikat : klo gt kalian bernyanyilah dulu.....
Lalu mereka bernyanyi..
Tontong bang tu penangki pudi Puang, dst (lagutoraja)...
Malaikat berkata : w....tama komi mai,solata pale’ domai...na tae’ ta sitandan....
Heheheheh

"BUTA SOLA MAMANG"




BUTA SOLA MAMANG
 


 
              Den tonna sangngallo yate mamang male lako Buta nakua te mamang lako buta “ha ma he ma’ mo    holo”. Nakuame te Buta lako mamang “na tae ku bisa mentiro melappong ki dako’” .
          Nakuame te Mamang  “hae’ la na mahumba ha ko’ pa aku pa hilongko hahan “.
Sattu to male mi te Buta sola mamang ma’ motoro , ya tonna do motoro’ nakua te Mamang “hili hili” mane nakua omi “hanan hanan”.
        Mane tonna de garuang jo muka’ na metamba- tamba te mamang nakua hengi hengi na tae na tandai Buta apa to na pokada mamang.
        Mane tonna me tobangmi te Buta sola mamang lako garuang  nakuami te Buta tae kutandai apa nasanga te Mamang nakua pole Rengngi

Copy dari:  Tokonawa. blogspot.com 
http://kamaliran.blogspot.com/2015/11/ulelean-pare.html

Seba sola Wati

"Ulleleanna SEBA sola WATI"
  Den sangngallo namale tu seba sumalong-malong. den mi gamara narangi lan induk nakua "korreeeeekkk" Narangimi seba nakua "ahhh umbaraka nanei tu tau umpa'korrekanna'???
depekondi' ullelean; upu' bang naperangi-rangi seba, pakalan natiromi tu wati lan induk nakuami seba lako ooohhh iko pale' wati tu umpa'korrek-korrekanna'. mane matemuri laku tunu api.
nakuami wati:


oh taek raka mutiroi na malotong tu ulungku belanna mangkana' aku ditunu api apa tae'ra ku mate.
nakua omi seba: mane laku ta'tak-ta'tak rako ia la'bo'....!!!
mebali omi wati nakua: apara aku nama'rere'-rere' tukaleku seba saba' mangkana' di ta'tak- ta'tak la'bo' na tae' duka ku mate.
ma'pentallunna nakua sebA; mane matemuri wati Mane laku palangngan ko ya illongku....  !!!!
Nakuami wati; a'a.... mane sumpuri dikka' sumandakku to seba. inangla matekumo te. (berpura2)
pakalan napalangngan seba illongna tu wati... mane ri wati nakua mane mateko seba mane laku rerokri tu ulummu...
kumamala' mi tu seba lako wati nakua:  tassu'ko mai sangmane...
apa nakua wati: ahhh melomo aku inanku indete sangmane.
saelako mate tu seba natalo akkala' wati.

BUEN MANIK DAN BATU BERLOBANG

BUEN MANIK DAN BATU BERLOBANG


Pada suatu masa di Tana Toraja, hiduplah seorang ibu yang memiliki anak perempuan usia remaja yang bodoh bernama Buen Manik. Buen Manik memiliki seorang adik perempuannya bernama Pangi yang masih bayi. Ayah dari kedua anak ini sudah meninggal, saat ini mereka hidup dari usaha ibunya yang sehari-hari mencari nafkah dengan menenun.

Suatu hari Buen Manik disuruh ibunya untuk memasak, karena ibunya sedang sibuk menenun. Buen Manik pun menanak nasi, setelah itu ia bertanya kepada ibunya, “Ibu, lauk pauk apakah yang akan kumasak hari ini?”
Ibu-nya pun menjawab tanpa menoleh disebabkan kesibukannya menenun, “Di situ ada sayur pangi, ambil dan potong-potong lalu masaklah untuk kita hari ini.” Buen Manik-pun mengambil adiknya “Pangi” lalu memotong-motongnya dan kemudian memasaknya.
Setelah semua masakan siap disajikan, Buen Manik-pun memanggil ibunya, “Ibu, marilah kita makan bersama, karena aku sudah sangat lapar.” Mendengar panggilan anaknya, sang Ibu yang juga merasa lapar meninggalkan pekerjaan menenunnya dan menghampiri meja makan untuk makan bersama anaknya.
Sementara makan, sang ibu menemukan jari anak-nya “Pangi” di dalam kuali masakan. “Kenapa jari ini ada dalam kuali, apakah ini jari-jari adiku Pangi?” Tanya ibu-nya keheranan.
“Ibu betul, itu memang jari-jari adikku Pangi, bukankah tadi ibu yang menyuruh saya mengambil dan memotong-motong adikku pangi untuk dimasak?” jawab Buen Manik tanpa rasa bersalah sedikitpun. Betapa marahnya sang ibu saat mendengar penuturan Buen Manik, diambilnya peralatan tenunnya kemudian memukulkan ke kepala Buen Manik sambil berteriak marah, “Dasar anak tolol, itu kan adikmu sendiri, tega sekali kau memasaknya!!!”
Buen Manik-pun melarikan diri masuk ke dalam hutan bambu, menghindar dari amukan ibunya, ibu-nya pun mengejarnya dari belakang . Tak berapa lama Buen Manik tiba di dalam hutan bambu dan berdiri depan sebuah batu berlobang yang tegak berdiri, lalu mulailah ia bersenandung, "Duhai batu yang berlobang, duhai batu yang berlobang, bukalah dirimu agar aku bisa masuk kedalamnya, sebab ibuku sedang mengejarku, karena orang tuaku sangatlah marah kepada-ku.”
Batu berlobang itu-pun kemudian terbuka dan Buen Manik segera meloncat masuk kedalamnya, lalu batu berlobang itu-pun menutup kembali saat Buen Manik sudah ada didalamnya. Ibunya dari jauh melihat kejadian tersebut, maka menangislah ia di pinggir batu berlobang itu menyesali nasib Buen Manik . Tak lama kemudian ia mendengar suara dari dalam batu berlobang itu yang berkata agar dia datang tiga hari lagi.
Tiga hari kemudian ia pun kembali ke tempat batu berlobang itu dan mulai bersenandung, "Duhai batu yang berlobang, duhai batu yang berlobang, bukalah dirimu agar aku bisa bertemu dengan anakku, buah hati kekasihku si Buen Manik.” Tak lama kemudian batu berlobang itu-pun terbuka, namun bukanlah Buen Manik yang keluar, melainkan ratusan ekor burung tekukur. Burung tekukur itu pun terbang bertebaran dan menjauh meninggalkan sang Ibu yang hanya terpana menatap keheranan tanpa bisa berkata apapun lagi.

Landorundun

  
 "LANDORUNDUN"


   Landorundun adalah seorang gadis cantik, molek, dan panjang rambutnya. Ayahnya bernama Solokang dari Rongkong dan ibunya bernama Lambe' Susu Sesean. Pada suatu hari, Landorundun pergi mandi ke sungai. Sehabis mandi ia lalu bersisir dan rambutnya tercabut sehelai. Rambut itu lalu digulungnya pada sebuah sisir yang terbuat dari emas. Gulungan rambut ini diletakkan di atas batu. Tiba-tiba angin puting beliung datang meniupnya dan jatuh ke air lalu hanyut ke muara sungai dan sampai ke tengah laut. Ketika benda itu berada di tengah laut kelihatan berkilau-kilauan karena terkena cahaya matahari. Benda itu dilihat oleh Bendurana,
lalu ia menyuruh anak buahnya pergi mengambilnya. Orang yang disuruh mengambil benda itu tidak ada satu pun yang berhasil karena selalu kembali dalam keadaan cacat. Orang pertama pergi mengambilnya dan kembali dalam keadaan lumpuh. Orang kedua hilang kakinya sebelah. Orang ketiga kembali dalam keadaan bungkuk. Orang yang keempat hilang telinganya dan yang terakhir kembali dalam keadaan buta. Ketika Bendurana menyaksikan kejadian ini, ia sendiri yang langsung pergi mengambil benda itu di tengah laut, dan ia berhasil mengambilnya. Kaki dan kukunya pun tak basah kena air. Benda itu ternyata sisir emas yang dibebat dengan rambut yang sangat panjang. Bendurana sangat heran melihat kejadian itu dan berkatalah dalamm hatinya. "Darimana gerangan asalnya rambut ini." Ia memikirkan kejadian ini sambil menengadah ke langit. Tiba-tiba datanglah serombongan burung terbang di udara dan seekor di antaranya berkata: 
Saya melihat dengan pasti 
Di sana ada hulu sungai 
Sumber asalnya air 
Gumpalan timbunan busa air 
Setelah burung layang-layang berkata demikian, kawanan burung itu terbang terus mengikuti aliran sungai mulai dari muara sampai Tana Toraja dan tiba di daerah Malangngo', kecamatan Rantepao. Kemana arah burung layang-layang itu terbang, selalu diikuti pula oleh Bendurana. Ketika tiba di daerah Malangngo' Bendurana belok ke persimpangan (pertemuan sungai) arah ke sungai Bulo (kecamatan Rantepao) karena tersesat, burung mengetahui kejadian itu lalu berkata:

Sesat, sudah sesatlah perahuku
Salah jalan salah arahlah dia
Mundur, mundurlah kembali
Benarkanlah arah dan tujuannya
Di sana di hulu sungai
Asal mulanya busa air
Di atas di sumur batu
Bendurana mendengar seruan burung layang-layang di udara itu, lalu ia mengubah arah perahunya menuju utara yaitu Minanga (Kecamatan Tikala) lalu membuang sauh di dekat batu yang bernama Batu Sangkinan Lembang artinya batu tempat menambat perahu. Batu ini sampai sekarang tetap terkenal dan bersejarah.

Bendurana turun dari perahunya dan menanam pohon mangga. Pohon mangga ini rupanya agak lain sebab cepat tumbuh dan cepat pula berbuah (dan sampai sekarang pohon ini masih ada). Ketika selesai menanam pohon mangga, Bendurana meneruskan perjalanannya ke utara dan sampai di tempat yang bernama bubun batu di desa Pangala' (Kecamatan Rindingngallo). Di tempat itu Bendurana langsung bertemu dengan Landorundun. 
Landorundun bertanya dalam bentuk londe (pantun), katanya:
Apa tujuan apa maksudmu
Apa yang engkau cari hingga ke sini
Berjalan jauh tak memperhitungkan lelah
Adakah engkau memberi piutang
Dan engkau datang menagihnya
Di negeri yang terpencil ini 

Bendurana menjawab Landorundun dalam bentuk pantun juga:
Saya tidak berpiutang
Menagih utang yang lama pun tidak
Aku datang hanya melihat sesuatu
Penggulung rambut dari emas
Di negeri yang punya arti bagiku
Aku akan mendampingi engkau

Landorundun segera menjawab Bendurana:
Tiada artinya engkau mendekat
Ibu belum sempat mengizinkan
Bersama seluruh keluarga
Berpisah pergi ke Bone 


Setelah mendengar jawaban Landorundun tersebut, Bendurana kecewa lalu pergi menanam pohon mangga dekat tempat Landorundun turun ke sungai mencuci rambutnya. Pohon mangga itu rupanya lain dari pohon mangga biasa, sebab cepat sekali tumbuh dan berbuah. Ketika buah mangga itu sudah mulai masak, pergilah Bendurana ke puncak gunung, bersembunyi, dan mengintip dari atas. Secara kebetulan pada waktu itu Landorundun turun ke sungai dan mencuci rambutnya. Pada saat itu, ia melihat mangga yang sudah masak tidak jauh dari tempat itu. Landorundun pergi menjolok sebuah, kemudian memakannya sambil berjemur diri dan bersisir. Bendurana melihat peristiwa yang telah lama dinanti-nantikan dari puncak gunung. Ia segera turun dari puncak gunung lalu pura-pura menghitung buah mangga itu. Setelah itu, ia menyindir Landorundun, katanya: "Siapakah mengambil buah kesayanganku, menjolok, dan memakan mangga manisku."

Landorandun merasa tersinggung mendengar sindiran Bendurana, lalu ia berkata:
Siapa yang mengambil buahmu
Siapa yang memakan manggamu
Beri tahu si anak gembala
Bersama anak penjaga kerbau
Dialah yang menjaga manggamu
Memakan buah kesayanganmu
Bersama semua tanam-tanamanmu.

Setelah Bendurana mendengar jawaban Landorundun, maka ia memanggil semua anak gembala yang ada di sekitar tempat itu, dan menanya satu per satu. Anak-anak gembala itu menjawab, "Kami tidak pernah mengambil apalagi memakan mangga Bendurana.
" Ada seorang di antara mereka berkata:
Landorundun mengambilnya
Memakan buah mangga itu
Bersama tanam-tanaman

Mendengar kata-kata anak gembala itu, Landorundun lalu mengaku dan berkata, "Akulah sebenarnya yang mengambil buah manggamu dan terserah kepadamu, hukuman apa yang harus kujalani." Pada saat itu Bendurana memutuskan untuk menikah dengan Landorundun, dan keputusan itu diterima oleh Landorundun.

Ketika Bendurana bersiap untuk berangkat membawa Landorandun, ia mencari akal supaya mertuanya (Lambe' Susu) tidak ikut berangkat bersama mereka. la menyuruh mertuanya pergi mengambil air di tebing gunung dan memberikan perian yang sudah dilubangi pantatnya untuk tempat air itu. Karena pantat perian itu bocor, air yang dimasukkan tidak kunjung penuh. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Bendurana membawa Landorundun turun ke perahu lalu berangkat. Ketika Lambe'Susu merasa bahwa perahu Bendurana sudah berangkat, ia pergi ke suatu tempat yang bernama Mata Bongi, untuk meiihat keberangkatan anaknya. Akan tetapi dari tempat itu Lambe' Susu tidak dapat melihatnya karena suasana gelap menutupi daerah sekelilingnya. Tempat Lambe' Susu memandang keberangkatan anaknya itu, sampai saat ini masih ada bekasnya, berupa tempat duduk dari batu.

Bendurana dan Landorundun meneruskan perjalanannya menuju Bone. Ketika mereka sudah tiba di Bone, dilangsungkanlah upacara pernikahan dengan menampilkan semua jenis pesta adat. Selama pesta berlangsung, Landorundun tidak pernah tertawa bahkan tersenyum pun tidak. Pada suatu ketika orang sengaja membawa burung gagak yang sudah dipotong kakinya sebelah ke halaman rumah. Burung gagak itu melompat terpincang-pincang dan kelihatan lucu. Pada saat itulah Landorandun tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan burung gagak itu. Mulai saat itu hiduplah Bendurana bersama Landorundun dalam suasana bahagia, rukun, dan damai.
Demikian akhir cerita ini. Semoga bermanfaat bagi pembaca.
(Selesai...)
 
  
 CERITA LANDORUNDUN SEKARANG SUDAH TERBIT DALAM BENTUK NOVEL..!!!

Dana'

Dana’

sumber gambar dari: https://asalusulnusantara.files.wordpress.com/2012/04/fcvxnb_m.jpg

Den tau misa’ disanga Dana’. Iate Dana’ male umparangi to ma’kombongan. Narangimo tu nasituru’i tau lan kombongan kumua la menammumo tu tau masiang. Biasanna ke la meparemi tau menammu anna mantunu bai dolo namane mangrakan sia mepare. Melambi’ tonganmi tu Dana’ male lako tu inan la nanii tau menammu. Dio inan iato den tu sendana kapua balombongan. Nateka’mi Dana’ anna membuni dao balombong sendana. Saemi dolo tu tau da’dua la usseroi tu inan la nanii tau menammu. Metambami tu Dana’ dao mai lolok sendana nakua: “Noka’ Deata kumande ke tang Dana’ pi massampan, ke tang ambe’na mangimbo.” Pentallun Dana’ metamba susito, anna mentingara te tau sola duai undaka’i te to ma’kada apa tae’ natiroi. Sulemi te tau sola duai umpokadai tu apa narangi. Sirampunmi ambe’ tondok anna disorong duang bongi tu kapenammuan. Sia disua tu tau male umparampaoi kumua Dana’ tu la manampan anna ambe’na tu la mangimbo. Iatonna lambi’mi allo kapenammuan male nasangmi tu tau lako tu inan diniii menammu. Rampo dukami tu Dana’ sola ambe’na anna disua tu Dana’ massampan anna mangimbo tu ambe’na. Natiromi tau kumua tarru’ buda tu duku’ naala buni Dana’ sia ia duka unnala nasang tu taana ambe’na mangimbo. Ta’pa nakuammi tau tu Dana’ kumua: “Iake menampu’ pole’i tau, tae’mo naiko tu la massampan.” Ia tonna kendek pole’omo pare, la menammuomi tu tau. Belanna tae’mo naia la massampan, malemi tama pangala’ undaka’ serang enoan. Tonna appa’mi napasokko’imi bakana anna penatutu’i solong nabai sule lako banuanna. Masiang to, sangmaleanmi tu tau lako to’ penammuan sibaa bakana nanii bo’bo’ lan. Male dukami tu Dana’ umbaa bakana nanii enoan lan. Iatonna mangkamo to mangimbo, mantaa kandemi tu tau. Marassan tau mantaa kande nabungka’ todami Dana tu tutu’ bakana anna tassu’ sitiaran tu enoan ussiu’ tau naurunganni sisarak-sarak mallai untampe kandena. Torro Dana’ umpebungku’ daun kayu anna tikara urrampunni tu kandena tau saponnona bakana anna male umbaai lako banuanna. Taun iato, marassan tau mepare anna marassan duka ungkassa’i sia den tu umpabendan alang ba’ru. Male dukami dana’ umpabendan alang bitti’ napasirondong ba’tu pira-pira alangna tau. Pada ma’pakissinmi tau langngan alangna. Nakuami Dana’: “Aku manna dikka’ tu tae’ pareku, apara bua’na te alang kupabendan, dai’ to kuballa bangmi.” Nanaranni tau tu Dana’ kumua: “Da’mu ballai tu alangmu belanna nakande api dau tu alangki. Kirampunanmoroko pare mupalangnganni te alangmu.” Narampunan tonganmi pare tau anna membu’dak tu pare napakissin langngan alangna.
Parannu bangmi penaanna tu Dana’ belanna moi anna to matukkun mengkarang sia sumalong lulako lu dio manna mai, apa akamaluteanna ma’pakena naurunganni tang ka’tu ma’pesassak kumande. Silelemo tau untandai sia umpomarussa’i tu pa’pakenana Dana’ belanna natole-tole bangmo napogau’.
Sirampunmi tu ambe’ tondong ungkombonganni tu penggauranna Dana’. Nara’ta’mi ambe’ tondok laditingkan tu Dana’ anna dipungo taleko’ sia disangkin dio garonto’ kalosi tu nanii ponno litti’. Dirondonmi tu litti’ anna limbui nekeke’ tu Dana’. mettete’-tete’ tongan tu Dana’. Pakalan lendu’mi misa’ to Bukku’ la male ma’pasa’. Nakuami Dana’ lako: “E sangmane, tirora’. Malolomora’ka?” Nakuami tu to Bukku’: “Malolomo. Ma’pari ammu indera to?” Nakuami Dana’: “Na bukku’na susi iko. Apa ma’popedampina’ indete.” morairokoka la malolo susi aku?” Nakuami to Bukku’ mebali: “Moraina’.” Nakuami Dana’: “Bungkai’mi te pungoku na iko kupungo indete.” Nabukkai’mi to Bukku’ tu pungona Dana’.
Iatonna tibungka’mo tu pungona Dana’, to Bukku’ omo napungo Dana’. Mangka napungo Dana’, napemarondonni Dana’ tu litti’ anna keke’i tu to Bukku’. Metambami tu to Bukku’ nakua: “Bungkai’mi. Tangkuattamo.” Apa nakua Dana’: “Pengkasarai belanna la malolomoko ke masaiko nakeke’ litti’.” mangkato, natampemi Dana’ anna male metaa-taa umpembunian kalena lako inan senga’.
Sangsaeanmi tu tau la untiro Dana’. Apa tosenga’mo tu nalandiran. Dibungka’mi tu pungona te to Bukku’ apa nasengkei tau saba’ mangka nalussuran tu Dana’. Malemi napemadaka’i tau tu Dana’ anna amparanni. Dirambaimi lanmai tondok sia dipakare’na kumua: “Tae’mo muma’din ullese tondok belanna kadake liu tu penggauranmu.”

PESAN: ada konsekuensi dari setiap tindakan kita. ada ungkapan orang toraja " NANG DOLO SIA MO IA ULU TASSUK NA LETTEK KE DIDADIANKI" artinya berhati-hatilah dalam semua tindakanmu, pikirkan matang-matanglah sebelum melaksanakan sesuatu atau sebelum engkau bertindak.

sumber: http://kamaliran.blogspot.com/2015/11/ulelean-pare.html