ARTI SIMBOL-SIMBOL DAN WARNA DALAM IBADAH
PAKAIAN JABATANToga, Bef, Clergical Collar & Stolla
Kebanyakan
gereja-gereja Kristen di Indonesia mengenal semacam Pakaian Jabatan,
yang mereka ambil-alih dari Gereja-gereja partner mereka di Barat.
Bentuknya hampir sama semacam toga (= gaun) hitam, yang dipakai dengan
“bef” (dasi putih) dan dengan atau tanpa stolla (= kain atau pita lebar
dan panjang). Fungsinya tidak begitu jelas. Tetapi dalam praktik
Gereja-gereja ini, secara sadar atau tidak sadar menganggapnya sebagai
Pakaian Jabatan atau Pakaian Liturgis resmi. Oleh karenanya, setiap
orang yang memangku jabatan gerejawi harus memakai pakaian jabatannya
pada saat ia melayani dalam pelayanan-pelayanan resmi. Hal ini hanya
berlaku bagi Pendeta. Bagi Penatua dan Diaken yang umumnya dianggap
“kurang setara” dengan Pendeta dibebaskan dari kewajiban di atas.
Pakaian
Jabatan ini telah lazim dalam Gereja-gereja Kristen Katolik dan Kristen
Protestan Reformasi, sehingga tidak dirasakan lagi sebagai
barang/tradisi asing diimpor dari Barat. Namun demikian, pada beberapa
dasawarsa terakhir ini ada gereja, antara lain GPIB, yang tidak puas
lagi dengan bentuk pakaian jabatan ini dan hendak menggantikannya dengan
bentuk lain. Sayangnya, ketidakpuasan para pemimpin gerejawi di GPIB
ini lebih banyak disebabkan alasan-alasan kultural dan bukan alasan
teologis.
Bentuknya berbeda-beda, yang satu lebih indah dan lebih
mewah daripada yang lain. Juga jumlahnya tidak sama. Untuk perayaan
Ekaristi umpamanya, Imam Gereja Ortodoks Yunani lebih banyak memakai
“pakaian liturgis” daripada Imam Gereja Katolik. Sebagai contoh, Pakaian
Jabatan dalam Gereja Katolik terdiri dari “amictus” (= kain bahu dari
lenan, dihiasi dengan salib yang disulam dan diikatkan pada dada, di
atas gaun-missa yang sebenarnya), “alba” (= kemeja dari lenan,
panjangnya sampai di kaki), “stola” (= pita lebar yang dipakai di atas
alba, panjangnya sampai ke lutut), “manipulus” (= pita sutera, tidak
begitu lebar, digantungkan pada tangan kiri), “pluviale” (= gaun prosesi
gerejawi, dahulu hanya dipakai oleh para Klerus rendah, kemudian juga
oleh Klerus tinggi) dan “vesti sacerdotalis” (= gaun missa yang
sebenarnya)/toga.
WARNA KAIN-KAIN LITURGIS
Warna-warna
gerejawi telah lama digunakan dalam ruang ibadah kita, terutama untuk
taplak meja, kain di mimbr (antependium), kain panjang di kayu salib
(stolla besar) dan stolla yang dikenakan Pelayanan Gerejawi. Gereja
memakai kain dalam warna-warna yang bergantian sesuai kalender gerejawi.
1. Putih
Adalah
lambang dari warna terang, cahaya lilin, warna bagi peran malaikat
Allah, para kudus dan warna bagi Kristus yang dimuliakan. Warna yang
melambangkan kekudusan dan kebersihan. Oleh sebab itu warna ini
digunakan dalam masa raya yang berkenaan dengan Kristus, misalnya Natal,
Paskah, Kenaikan Tuhan Yesus, dan masa raya kesukaan misalnya dalam
pelayanan Baptisan dan Perjamuan Kudus. Digunakan juga dari masa Natal
sampai Minggu sebelum Epifania/Perjamuan Malam/Perjamuan Tuhan (6
Januari) dan hari raya Paskah hingga sebelum minggu Pentakosta.
2. Ungu (lebih tepatnya violet)
Adalah
warna tergelap dalam warna gerejawi yang menunjukan penyesalan dan
pertobatan yang sungguh-sungguh. Digunakan pada masa 40 hari sebelum
Paskah (Minggu sengsara) dan masa-masa menjelang Natal (Minggu
Adventus).
3. Merah
Adalah warna api. Lambang Roh Kudus yang penuh
kekuatan. Maka digunakan pada Perayaan Pentakosta. Warna merah juga
melambangkan warna darah, kesetiaan sampai mati, iman yang berapi-api
sehingga digunakan dalam peringatan Reformasi, penahbisan rumah ibadah,
sidhi, peneguhan Pendeta, Diaken dan Penatua. Juga pada peringatan hari
Pekabaran Injil, pengutusan pengijil dan hari-hari raya ekumenis.
4. Hijau
Adalah
warna komplemen dari merah. Melambangkan penyembuhan, ketenangan dan
pertumbuhan iman. Merupakan warna pengharapan. Hijau memberitakan
kemurahan hati, keselamatan dari Allah yang menyembuhkan dan
memperbaharui. Digunakan pada hari Minggu Trinitas (Minggu pertama
sesudah Pentakosta, kecuali masa sengsara, adventus, dan hari raya
Kristen lainnya). Merupakan juga makna dari pertumbuhan iman jemaat
baru.
5. Merah Muda
Rose, adalah perlemahan dari violet (ungu
tua), lambang penyesalan dan pertobatan yang tertahan. Maksudnya,
sengsara boleh sementara waktu digantikan dengan senyuman dalam
menyongsong Natal dan Paskah. Digunakan pada Minggu adventus ke-3 dan
Minggu sengsara ke-5.
6. Hitam
Adalah warna liturgis yang paling
kuno. Lambang keputusasaan. Warna ini sudah tidak dipakai lagi. Perlu
juga dipertanyakan tentang warna liturgis yang dikenakan Pendeta yaitu
Toga hitam. Pemberitaan firman adalah pemberitaan Kristus yang telah
menang, sudah selayaknya mereka dibebaskan dari warna kedukaan. Bahkan
dalam pelayanan duka (misalnya pelayanan pemakaman jenazah) sekalipun,
sebenarnya warna violet(Ungu) lebih baik daripada hitam, karena kita
sudah diperbolehkan hidup dalam kemenangan Kristus.
C. BERBAGAI SIMBOL LAIN
a. Alfa dan Omega,
Adalah
huruf pertama dan huruf terakhir alphabet Yunani dan biasanya digunakan
sebagai simbol kekekalan Allah dan kuasa Kristus dari penciptaan sampai
pada akhirat (Why 22:13 Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan
Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir”). kedua huruf ini sering
digabung dengan simbol-simbol lain, misalnya salib (kekekalan karya
keselamatan dalam Yesus Kristus) atau Alkitab (kekekalan Firman Allah).
b. Air
Air
adalah sumber kehidupan, tetapi sekaligus dapat mengancam kehidupan
(banjir, badai di laut...). Air juga berfungsi untuk mencuci atau
membersihkan. Dalam Alkitab, simbol ini sering dihubungkan dengan
berkata bahwa Allah sebagai sumber mata air, kesegaran atau sumber
kehidupan dan keadilan,dan bahwa Yesus memberi air yang hidup (Yoh
4:14). Yesus juga membasuh kaki murid-muridNya dengan air sebagai tanda
pelayanan dan pembersihan dari dosa. Murid-muridNya dipanggil untuk
berbuat hal yang sama (Yoh 13:15). Namun ritus pembasuhan kaki masih
jarang dipraktekkan dalam ibadah protestan. Air menjadi simbol inti
sakramen baptisan sebagai tanda penbersihan (dari dosa, dari kuasa
maut); “adam lama” ditenggelamkan dalam air baptisan, dan “adam baru”
dilahirkan. Air ini juga menjadi tanda penerimaan Roh Kudus yang
menyatukan kita dalam tubuh Kristus, dan tanda anugerah Allah yang
dikaruniakan kepada kita tanpa prasyarat. Air disini adalah simbol yang
membuat kita merasakan apa yang dilakukan oleh Allah sendiri, dan tidak
dipahami secara “magis”, sehingga tidak tergantung pada cara atau
kuantitas air (hanya tiga tetes “dalam nama Bapa, anak dan Roh Kudus”,
atau dengan menenggelamkan seluruh tubuh seperti dipraktekkan dalam
gereja mula-mula dan oleh beberapa denominasi sampai sekarang). Baptisan
juga tidak berfokus pada formalitas (“masuk Kristen”) atau pertobatan
manusia (seperti ditekankan dalam baptisan dewasa), tetapi pada karya
keselamatan Allah sendiri (yang tentu saja tidak terbatas kepada mereka
yang telah menerima ritual gereja tersebut).
c. Altar
Altar
gereja mengingatkan baik pada tempat persembahan korban dalam Perjanjian
Lama maupun pada meja perjamuan Paskah Yesus dengan muridmuridnya pada
malam sebelum ia disalibkan. penggunaan altar baik sebagai meja
perjamuan kudus maupun sebagai tempat persembahan (kolekte) masih
mencerminkan makna ganda tersebut. Selain itu, altar biasanya dihias
dengan simbol-simbol lain seperti salib, alkitab, lilin, bunga dsb.;
Dalam arsitektur gereja, altar sering ditempatkan langsung di depan atau
di bawah mimbar untuk menekankan kesatuan antara sakramen (perjamuan
kudus/altar) dan firman (khotbah/mimbar).
d. Bendera
Tidak ada
bendera khusus yang digunakan sebagai symbol agama kristen, namun
banyak negara dan institusi-institusi lain terutama menggunakan symbol
salib dalam bendara atau lambang mereka untuk mensimbolkan nilai-nilai
Kristiani sebagai dasar identitas negara atau kelompok, meskipun hal ini
juga dapat dinilai sebagai penyalahgunaan symbol agama yang
“mengatasnamakan Tuhan” demi kepentingan tertentu. Dalam kebanyakan
gereja dan negara, pemasangan simbol-simbol negara seperti bendera
nasional dalam ruang ibadah atau pada gedung gereja tidak lazim atau
bahkan ditolak sama sekali, untuk menekankan pemisahan antara
kepentingankepentingan politik dan misi universal gereja.
e. Lilin
Lilin
biasanya dinyalakan dalam setiap ibadah, paling tidak pada
ibadah-ibadah natal dan ibadah-ibadah paskah (lilin paskah) sebagai
simbol Kristus yang hidup dan menjadi “terang dunia” (Yoh 8:12, bdk Yoh 1
dll.). Lilin juga mengingatkan kita pada panggilan untuk menjadi “garam
dan terang dunia” (Mat 5:13-16); lilin secara umum bisa menjadi simbol
kehidupan manusia yang mengorbankan diri demi panggilannya untuk
menerangi kegelapan. Dalam ibadah dukacita lilin juga mewakili kehidupan
kekal, bahwa orang yang telah meninggal sekarang adalah di tangan
Tuhan. Keempat lilin dalam “krans adven” adalah simbol pengharapan yang
menantikan kelahiran terang dunia (dalam minggu pertama adven, satu
lilin dinyalakan, dalam minggu kedua dua dst.). Sementara ketujuh lilin
dalam “Menorah” (yang juga menjadi symbol agama Yahudi) sering
diidentifikasi dengan “ketujuh anugerah Roh” (Yes 11:2; bdk Paulus)
f. Lonceng
Bunyi
lonceng adalah simbol perhatian dan panggilan beribadah dan juga
mengingatkan akan pengadilan Allah. Lonceng digunakan baik dalam
sukacita (paskah, memuji tuhan dalam ibadah...) maupun dukacita (orang
meninggal, bencana...). Secara kontekstual, lonceng juga bisa diganti
oleh alat musik yang lain, misalnya alat music tiup atau gendang
g. Merpati
Burung
merpati dalam tradisi Kristen terutama dipahami sebagai symbol
kehadiran Roh Kudus yang mengingatkan kita pada peristiwa baptisan Yesus
oleh Yohanes Pembaptis (Mat 3:16 bdk Mrk, Luk dan Yoh). Seekor burung
merpati dengan sebuah ranting zaitun telah menjadi simbol universal
untuk perdamaian dan mengingatkan pada kisah Nuh (Kej 8:11), di mana
sehelai daun zaitun menjadi tanda bahwa air bah telah surut dan simbol
untuk perjanjian Allah dengan umat manusia dan segala ciptaan-Nya.
Kadang-kadang, dua ekor burung merpati juga digunakan sebagai simbol
cinta kasih
h. Minyak
Minyak (minyak zaitun, minyak wangi atau
minyak berharga lain) dalam alkitab adalah symbol berkat dan pemberian
otoritas oleh Allah misalnya dalam ritus pentahbisan raja Israel. Minyak
juga digunakan untuk meminyaki orang mati. Kedua arti ini merupakan
latar belakang simbolis waktu Yesus diurapi oleh seorang perempuan (Mat
26:7) dan para perempuan ingin meminyaki jenazah Yesus. Minyak juga
mingingatkan kita pada perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana
dan yang bodoh (Mat 25; minyak untuk pelita sebagai simbol kesiapan
untuk kedatangan Yesus). Dalam ibadah (atau pelayanan kepada orang
sakit), minyak sebagai simbol berkat kebanyakan digunakan dalam tradisi
katolik, tetapi kadangkadang juga dalam ibadah protestan atau ekumenis.
i. Pohon dan Tumbuhan
Pohon
secara umum adalah symbol kehidupan dan dalam Alkitab (bersama dengan
tumbuhan-tumbuhan lain) sering dihubungkan dengan kehidupan seseorang
yang diberkati, sesuai dengan kehendak Allah dan memberi buah.
Mendekorasi gereja dengan tumbuhan-tumbuhan hijau maupun bungabunga
sebagai tanda kehidupan dan pujian atas keindahan ciptaan Allah adalah
suatu hal yang sangat wajar. Daun palem misalnya sebagai symbol
penyembahan, syukur dan penghormatan kepada Tuhan mengingatkan kita pada
Yesus yang dieluelukan di Yerusalem dengan “Hosana! Diberkatilah Dia
yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel” (Yoh 12:13). Secara khusus,
pada hari natal, gerejagereja maupun rumah-rumah dan tempat umum lainnya
dihias dengan pohon-pohon pinus dan rantingranting hijau lainnya, yang
dihias dengan lilin, bintang-bintang, buah, kapas sebagai salju dll
(“pohon natal”, “pohon terang”...). Pohon pinus adalah simbol lama dalam
budaya Eropa untuk kehidupan bahkan di tengah-tengah kondisi yang
sulit, karena inilah satusatunya pohon yang daunnya tidak gugur tetapi
ia tetap hijau selama musim dingin (musim salju). Simbol non-Kristen ini
diangkat oleh tradisi Kristen dan dihubungkan dengan simbol-simbol lain
(terang, bintang...) sebagai simbol pengharapan dan kehidupan melalui
Yesus Kristus yang lahir di tengahtengah dunia yang gelap dan tidak
ramah. Pohon natal bukan semestinya sebuah pohon pinus, tetapi bisa juga
pohon lain yang mewakili arti simbolis di atas. Hanya sedikit
kontradiktif dengan “simbol kehidupan” jika dipakai pohon yang sudah
tidak ada daunnya atau pohon dari plastik.
j. Salib
Salib
adalah simbol yang paling terkenal sebagai simbol Kristiani yang
menunjuk kepada kematian Yesus Kristus di kayu salib di Golgata. Bentuk
historis alat eksekusi tersebut dengan kemungkinan besar adalah bentuk
“T” (salib “Tau”), dan kemudian menjadi salib yang kita kenal (biasanya
disebut “salib Latin”). Tanda salib atau silang telah dikenal dalam
banyak budaya dan agama pra-Kristen dengan berbagai makna, a.l.
kekekalan, kesempurnaan atau hubungan kosmis antara dunia dan yang
transenden, tetapi juga sebagai tanda perpisahan dll.; Salib dalam
tradisi Kristen menjadi simbol kematian dan kehidupan. Salib
mencerminkan solidaritas Allah dengan manusia dalam penderitaan dan
merupakan puncak.
k. XP
Simbol ini adalah simbol lama untuk
Kristus (dan juga untuk orang Kristen) yang dibentuk dari dua huruf
pertama nama “Kristus” dalam bahasa Yunani. Simbol ini dalam beberapa
variasi kemudian sering disebut “salib/silang Kristus” (“cross of
Christ”).
l. Simbol-simbol Adat
Budaya-budaya
Indonesia sangat kaya dengan simbol-simbol yang mencerminkan
nilai-nilai kemanusiaan dan keterikatan dengan yang Ilahi. Praktek
Gereja yang kontekstual akan mencoba untuk memahami simbol-simbol
tersebut secara mendalam dan melihat maknanya dalam terang Injil. Dengan
demikian, kehidupan spiritual akan sangat diperkaya. Hal ini akan
melanjutkan tradisi Kristen untuk mengangkat memaknai simbol-simbol
non-Kristen guna menemukan ekspresi iman yang otentik dan relevan.
Contohnya adalah rumah-rumah adat (mis. Tongkonan dalam budaya Toraja,
Baruga dalam beberapa budaya Sulsel dsb.) sebagai simbol kerukunan, atau
simbol yang digunakan dalam ritus-ritus paguyuban dan rekonsiliasi
(mis. lingkaran rotan “Kalosara” dalam adat Tolaki-Mekongga, Tumpengan
dalam adat Jawa, binatang kurban dalam beberapa tradisi dsb.).
Tantangan adalah mentransformasi simbol-simbol tersebut dengan pemahaman
yang menerobos eksklusivisme suku, pemahaman magis, dan merespon pada
karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus.
INTERAKSI
Semoga
dengan kita mengetahui berbagai symbol dan makna benda-benda yang ada
atau sering digunakan dalam liturgy gereja kita menjadi paham dan
mengerti arti dan keguanaan symbol-symbol tersebut. Tuhan Yesus
Memberkati. Amin.
Terima kasih telah membaca
Sumber: http://viktorabadiwaruwu.blogspot.com/2010/01/arti-simbol-simbol-dan-warna-dalam.html