Wednesday, April 10, 2019

Longko' - Siri' - Rasa Malu dalam Kehidupan Suku Toraja



Longko' - Siri' - Rasa Malu (tenggang rasa)


Mungkin dalam kehidupan sosial anda  dalam lingkup Toraja anda sering mendengar mengenai kata Longko' atau siri'. kedua kata ini ternyata memiliki makna yang menarik mari kita lihat penjelasannya berikut ini:
Harga diri pada cara hidup orang Toraja diungkapkan melalui "longko'" dan "siri'"[1]. Semua nilai harus diperoleh dalam kerangka AsP. Melakukan sesuatu di luar kerangka AsP adalah sama dengan dosa dan menyebabkan rasa malu, bukan saja secara pribadi, melainkan juga pada seluruh persekutuan dan terutama pada keluarga besar. Sebab itu seseorang akan selalu berusaha untuk tidak berbuat onar terhadap persekutuan keluarga, karena secara otomatis yang bersangkutan juga akan dipermalukan.
Harga diri adalah nilai yang tinggi, sebab itu seseorang akan selalu berusaha berperilaku yang baik, agar ia jangan dipermalukan atau mempermalukan orang lain.
Longko' adalah juga "tenggang rasa", atau "teposeliro", artinya bersikap sopan dan hormat untuk tidak membuat orang dipermalukan. Tetapi sikap itu bisa juga karena kita takut dipermalukan, maka kita juga berusaha untuk tidak mempermalukan orang lain.
Sikap longko' ini merupakan sumber dan dasar dari ungkapan-ungkapan berikut:
"tae' nama'din untossok matanna bale"[2]
"tae' nadibatang dallei tu tau"[3]
                        "ketanduk tu kada"[4]
"nasulemora tama inanna"[5]



"tae' nadipopa'kambelang tu kada"[6]
"patiro mata apa tang tiku'bi' puduk"[7], dan sebagainya.
Semua ungkapan di atas mengatakan hal yang sama, yaitu bahwa kita tidak boleh secara langsung, terang-terangan, mengatakan sesuatu (to the point), kalau hal itu bisa menyakiti atau mempermalukan orang lain.
Sesuatu  itu harus diungkapkan secara halus, seperti: "dipontobannangi"[8], dengan cara "goratongkon"[9] atau dengan "ma'basa Toraya"[10].
Bahasa "goratongkon" adalah gaya bahasa dalam diskusi-diskusi resmi untuk tidak mengungkapkan sesuatu secara langsung dan terang-terangan. Untuk gaya bahasa gora-tongkonan ini diperlukan pengetahuan bahasa yang mendalam dan ketrampilan untuk menafsir dalam kerangka adat dan kebudayan. "Ma'basa Toraya" tidak hanya berarti berbahasa Toraja, tetapi mengungkapkan sesuatu dengan gaya bahasa orang Toraja, yang bagi orang yang tidak mahir bahasa Toraja, tidak jelas atau terbuka bagi bermacam tafsiran dengan maksud untuk menghindari suatu perasaan tidak enak atau rasa tersinggung pada pendengarnya. Tetapi justru gaya bahasa yang demikian bisa mengakibatkan salah interpretasi dan salah paham sehingga justru menghasilkan apa yang ingin dihindari.





Sikap longko' dipengaruhi juga oleh nilai-nilai lain, seperti "disukai oleh semua orang"[11], atau paling sedikit "anna da' napokada boko' ki' tau"[12] (agar jangan kita menjadi buah bibir orang).
Longko' adalah sikap hidup dengan unsur-unsur positif, terutama yang menyangkut kesopanan dan perilaku yang baik. Tetapi ada juga segi negatifnya. Ia bisa juga membuat orang bersikap statis. Longko' bisa mematikan semua inisiatif untuk mengembangkan kehidupan. Oleh sebab itu longko' sebagai sikap budaya berdasarkan perasaan bisa merupakan penghalang bagi pemikiran yang dinamis, yang seharusnya mendorong kita kepada pengembangan kehidupan. Jadi jelas: kita mengehendaki yang satu, tetapi dihalangi oleh yang lain. Nilai yang kita butuhkan ialah yang menjamin kedamaian dan harmoni dalam kehidupan persekutuan. Dari sini hanya selangkah saja untuk tiba pada persekutuan sebagai prioritas yang menentukan segala nilai.


Terima Kasih Telah Membaca!
Catatan: Gambar hanya Pemanis...he..he
Like  and share  adalah wujudnyata dari terima kasih Anda!!


     [1]Longko', siri' = tenggang rasa, rasa malu.
     [2]Tidak boleh menusuk mata ikan; artinya tidak boleh berterus-terang karena itu bisa menyinggung.
     [3]Batang dalle = batang jagung. Kata-kata itu tidak boleh telanjang bagaikan batang jagung.
     [4]Perkataan itu bertanduk, jadi sulit ditelan.
     [5]Perkataan yang salah (ucap) akan kembali ke tempatnya semula.
     [6]Perkataan itu tidak boleh telanjang.
     [7]Mata melihat, tetapi mulut tidak bergerak, artinya mulut sulit mengungkapkan.
     [8]Gaya bahasa Toraja untuk mengungkapkan sesuatu secara ambivalen (berarti ganda) atau untuk menyindir.
     [9]Gaya bahasa tinggi seperti pontobannang.


Tuesday, April 9, 2019

Historis: Aufklarung

Aufklarung

Renaisans atau kelahiran kembali (rebirth) adalah sebuah periode yang membawa Eropa pada kebangkitan kebudayaan setelah mengalami masa stagnasi. Sebuah pendapat mengaitkan kemunculan Renaisans dengan kejatuhan Konstantinopel pada tahun 1453. Sejak keruntuhan Romawi Barat, Konstantinopel menjadi pusat kebudayaan Kristen. Tetapi sewaktu Turki Ottoman merebut kota ini, banyak ilmuwan dan ahli-ahli Gerika yang mengungsi ke Eropa khususnya Italia. Mereka melarikan diri karena ingin menyelamatkan manuskrip klasik mereka yang berharga.
Untuk bertahan hidup dalam pengungsian, mereka mengajarkan teori-teori klasik kepada ilmuwan Eropa sekaligus membagikan kemampuan berbahasa Yunani. Hal inilah yang mendorong para ilmuwan Eropa untuk kemudian kembali pada teks-teks kuno tersebut.
Tentu saja peristiwa di atas tidak cukup untuk mendorong munculnya gerakan kebudayaan Renaisans. Kejenuhan pada konteks Abad Pertengahan menjadi pendorong utama masyarakat Eropa masuk ke dalam Renaisans. Apa yang menjadi penyebab kejenuhan masa itu? Penekanan sisi kehidupan hanya pada satu aspek. Yesus Kristus menjanjikan hidup yang berkelimpahan (Yoh.10:10b). Gereja Abad Pertengahan membatasi hidup kekristenan dan masyarakat umum pada satu aspek yang sempit, yaitu nasib di akhirat. Itu pun dalam pengajaran dan pengertian yang tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Manusia Abad Pertengahan ditarik untuk mengabaikan kemanusiaan mereka.

Tidaklah mengherankan jika kehadiran Renaisans mendapat sambutan luar biasa. Karena salah satu esensi dari semangat Renaisans adalah pandangan bahwa manusia tidak hanya memikirkan hidup di dunia yang akan datang, tetapi juga harus memikirkan hidup di dunia yang sekarang ini. Renaisans menjadi titik awal kemunculan peradaban Eropa yang modern.
Semangat humanisme menjadi dasar gerakan Renaisans. Hal ini terlihat dalam pengajaran filsafat masa ini, dalam karya literatur yang diterbitkan, dalam karya seni dan arsitektur yang dibuat, bahkan dalam sistem sosial-politik yang dibangun. Manusia seperti menemukan kembali dirinya dalam semangat Renaisans. Benarkah demikian?
Bapa Gereja, Agustinus mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk sang Pencipta. Jika tidak kembali kepada tujuan sang Pencipta, maka jiwa manusia akan terus berada dalam kegelisahan yang tak berkeputusan. Reformator, John Calvin, melontarkan satu prinsip hidup yang penting: Duplex Cognito Dei. Mengenal Allah, mengenal diri. Dengan mengenal Allah, kita mengenal diri kita. Inilah hidup yang utuh. Hidup yang sesungguhnya.
Sejarah Abad Pertengahan menunjukkan kegagalan memanusiakan manusia. Sejarah Renaisans yang membuat manusia menemukan kemampuan dirinya, gagal membuat manusia mengenali sang Pencipta yang telah menjadikannya. Kembali kepada Kitab Suci, Sola Scriptura, salah satu slogan Reformasi, membawa manusia menjadi manusia sejati ketika kembali kepada sang Pencipta.
Ke mana orientasi hidup yang sekarang sedang pembaca jalani? Seperti semangat Abad Pertengahan? Renaisans? Atau Reformasi?

Homo Homini Lupus

Homo Homini Lupus

Bagian kisah hidup Daud saat melarikan diri dari kejaran Saul lalu pergi ke Gua Adulam selalu menggugah semangat. Bukan saja seluruh keluarganya datang mendapatkannya ke sana, tetapi juga berhimpun kepadanya orang-orang bermasalah, entah karena berbagai tekanan, atau dikejar-kejar debt collector, juga orang-orang yang sakit hati. Jumlahnya sekitar 400 orang laki-laki. Lalu Daud menjadi pemimpin mereka (baca: pemimpin sekelompok orang bermasalah). Hmm ...
Bayangkan diri Anda di posisi Daud! Tidak cukupkah masalah Daud yang dikejar-kejar Saul untuk dibunuh? Bahkan sebelum melarikan diri ke Gua Adulam, Daud bahkan sampai harus berlagak seperti orang gila di hadapan Akhis, raja Kota Gat. Bagi seorang pahlawan seperti Daud yang telah mengalahkan Goliat dan berlaksa-laksa musuh, mungkin sekali hal itu sangat merendahkan martabatnya. Lalu sekarang, 400 orang bermasalah datang kepadanya. Kalau bisa dihitung secara matematis, mungkin itu artinya masalah Daud paling tidak bertambah 400 kali!
Saat hidup dirundung masalah, lalu Tuhan menghantar sejumlah orang bermasalah ke hadapan kita, bagaimana respons Anda? Kisah di atas menjadi bagian pembentukan Tuhan untuk lebih menyiapkan Daud sebagai raja gembala (shepherd king) umat Tuhan.

Sekarang kisah kedua. Jika peristiwa di Adulam terjadi di saat Daud masih sangat muda, cerita berikut terjadi saat Daud diperkirakan berusia 50 tahun dan sudah 20 tahun jadi raja. Kali ini bukan di Gua Adulam, tetapi sedang berleha-leha di rooftop istana. Dua tempat yang sangat kontras, dan dua situasi yang sangat berbeda, ternyata membawa dua respons yang berbeda pula. Pada kisah pertama, Daud menjadi pemimpin orang-orang yang dipinggirkan. Pada kisah kedua, Daud menjadi serigala bagi sesamanya, homo homini lupus. Ironis, Daud menjadi seperti itu bukan saat susah dan banyak masalah, tetapi saat hidup terasa sangat mudah.
Mungkin kita perlu lebih banyak mengucap syukur setiap kali Tuhan menyodorkan masalah ke hadapan kita. Mungkin kita harus belajar lebih menikmati hidup, saat masalah bukan berkurang tetapi bertambah. Bagaimanapun, kesulitan sering mendorong kita datang kepada Tuhan, entah dengan susah, marah, atau sukacita. Jadi, mau minta masalah yang lebih banyak agar kita makin dekat Tuhan? Saya bergurau. Apa pun situasinya, mari kita belajar untuk terus datang kepada-Nya

Biografi: Bapa Gereja Justin Martyr



Bapa Gereja Justin Martyr

Latar Belakang Sejarah
Pada abad kedua, kekaisaran Romawi berjaya pada masa pemerintahan para kaisar yang disebut sebagai “five good emperors” atau “lima kaisar baik”. Pada masa itu, kekaisaran Romawi mengalami perkembangan yang pesat terutama di bidang politik dan militer. Perluasan wilayah kekuasaan Romawi pun mencapai puncaknya, sampai-sampai kejayaan Romawi dipercaya akan berlangsung selamanya.
Meskipun kaisar-kaisar tersebut disebut “kaisar baik”, penganiayaan terhadap kekristenan, yang sudah mulai dari abad pertama, terus berlangsung di bawah kekuasaan mereka. Sejak Kaisar Octavianus naik takhta, para kaisar menganggap diri mereka adalah dewa yang harus dipuja dan disembah. Orang-orang Kristen tentu saja menolak untuk menyembah kaisar. Selain itu, menjadi Kristen dianggap sebagai hal yang konyol dan melanggar hukum. Tidak jarang orang Kristen ditangkap, disiksa, dan dibunuh karena iman mereka.
Walaupun mengalami banyak penganiayaan, kekristenan terus bertumbuh dalam segala kesulitan yang harus dihadapinya. Meski seluruh kitab Perjanjian Baru sudah ditulis akan tetapi belum terjadi kanonisasi Alkitab. Theologi kekristenan saat itu berada pada masa awal perkembangannya. Tetapi dalam lembaran sejarah inilah muncul seorang yang kemudian dikenal dengan nama Justin Martyr.
Munculnya Justin Martyr
Lahir dengan nama Flavius Justinus, Justin Martyr sesungguhnya bukan berasal dari keluarga Kristen. Setelah menjadi Kristen, dia menyerahkan seluruh hidupnya untuk Tuhan yang dipercayainya, bahkan sampai akhirnya menjadi martir bagi Kristus. Gereja kemudian menyebutnya dengan nama Justin Martyr, sebagai penghargaan atas keberaniannya menghadapi penganiayaan dan rela mati demi mempertahankan imannya.
Sebagai seorang filsuf, sejak masa mudanya Justin mencari kebenaran yang dianggapnya dapat ditemukan dalam ajaran filsafat. Dalam perjalanannya mencari kebenaran, awalnya dia belajar di bawah seorang guru Stoik. Namun sang guru ternyata tidak dapat mengajarkan kepadanya tentang Tuhan. Kemudian dia belajar di bawah seorang pengikut Aristoteles yang lebih mementingkan uang pembayaran daripada filsafat, Justin segera meninggalkan gurunya ini, dan kemudian belajar di bawah seorang Pythagorian yang menuntun dia untuk mempelajari musik, geometri, dan astronomi terlebih dahulu. Justin tidak rela karena ia ingin menemukan kebenaran dan bukan mempelajari ilmu-ilmu tersebut. Ia pun lagi-lagi meninggalkan gurunya ini.
Sampai akhirnya dia menemukan filsafat yang berkenan di hatinya di bawah pengajaran seorang Platonis. Justin merasa menemukan kebenaran karena melihat form atau idea dalam Platonisme memberikan petunjuk tentang Tuhan, dan merupakan tujuan dari filsafat Plato. Tetapi sebenarnya perjalanan Justin Martyr mencari kebenaran belum berakhir. Suatu ketika, tanpa sengaja ia bertemu dengan seorang Kristen yang sudah tua. Orang tua tersebut memperkenalkan kekristenan dan pengajaran nabi-nabi Perjanjian Lama kepadanya. Justin sangat tertarik dan kemudian mencari dan membaca kitab-kitab Perjanjian Lama. Akhirnya dia pun percaya akan kebenaran kitab-kitab tersebut dan menjadi Kristen. Layaknya sebuah perjalanan bagi mereka yang sungguh-sungguh mencari kebenaran, maka dalam anugerah Tuhan mereka akan menemukannya dalam firman Tuhan.
Justin adalah seorang apologet yang membela kekristenan dari semua tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang pada zamannya. Sebagaimana diungkapkan dalam bukunya yaitu First Apology dan Second Apology yang ditujukan kepada Kaisar Antonius Pius, kedua buku ini merupakan pembelaan iman orang Kristen atas penganiayaan yang dilakukan terhadap mereka.
Sebagai seorang filsuf, ia melihat kekristenan seharusnya setara dengan filsafat lainnya. Karena itu, tidak jarang ia berdiskusi dengan filsuf-filsuf lainnya untuk menegaskan pendiriannya tersebut dan bahkan tetap memakai sebuah jubah yang mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang filsuf.
Pada akhirnya Justin ditangkap dengan tuduhan mengajarkan agama yang dilarang oleh negara. Ketika diadili, dia tetap membela imannya dan mengatakan bahwa keyakinannya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat bukanlah suatu hal yang patut disalahkan. Di bawah kekuasaan Kaisar Marcus Aurelius, ia dihukum mati bersama beberapa temannya.

Biografi: Polycarpus

Polycarpus

Polycarpus adalah seorang Bapa gereja yang hidup tepat setelah zaman para rasul. Karena lahir pada tahun 69, maka dia masih sempat bertemu dengan para rasul dan tokoh-tokoh kekristenan awal. Dia adalah murid langsung dari rasul Yohanes dan berdomisili di Smirna (sekarang menjadi kota Izmir di daerah Turki) sepanjang hidupnya. Tidak banyak tulisan Polycarpus yang bertahan sampai sekarang. Tulisannya yang paling utama dan masih ada hanyalah suratnya kepada jemaat di Filipi. Meski demikian, surat ini cukup menggambarkan tentang theologinya, kesungguhannya dalam menggembalakan, dan kepeduliannya akan ajaran sesat yang beredar saat itu.
Polycarpus sudah menjadi orang Kristen sejak kecil. Sewaktu dia lahir, di tempat itu sudah tersebar berita Injil. Meskipun demikian, kehidupan kekristenan di tempat itu bukanlah sesuatu yang mudah. Penganiayaan dan tekanan dari pemerintah Romawi ada di sana. Tetapi dengan anugerah Tuhan, dia tetap boleh hidup sebagai orang Kristen sampai masa tuanya, sampai dia berumur 86 tahun. Bukan hanya hidup sebagai orang Kristen biasa, dia bahkan menjadi pemimpin kekristenan di wilayahnya dan menjadi seorang uskup dari sebuah jemaat yang cukup besar, jemaat di Smirna.
Polycarpus tidak pernah bersekolah sampai pendidikan yang tinggi di mana pun, tetapi sejak muda memang sudah langsung diajar oleh rasul Yohanes sendiri. Kemungkinan rasul Yohanes melihat ada potensi yang besar dalam diri anak muda ini sehingga mau mengangkatnya sebagai murid. Kita harus ingat bahwa konteks pemuridan zaman itu tidak sama seperti kita sekarang. Di zaman ini ketika kita bersekolah, kuliah, dan lain-lain, hanya bertemu dengan guru kita beberapa jam saja dalam kelas, lalu mengerjakan tugas, ujian, bertanya kepada guru jika tidak mengerti. Berbeda pada zaman dulu, pemuridan itu berarti seluruh hidup mengikuti guru itu. Murid akan hidup bersama dengan gurunya, sepanjang hari dan meneladani seluruh hidup gurunya. Meski demikian kita tidak bisa meremehkan kemampuan Polycarpus. Tulisannya mencerminkan bahwa dia memiliki pengertian tentang Alkitab yang komprehensif.
Polycarpus dikenal sebagai orang yang saleh dan berani hidup bagi Kristus. Berita tentang kehidupannya yang menjadi teladan tersebar sampai ke telinga Bapa-bapa Gereja yang lain, misalnya Irenaeus dan Ignatius. Mereka tidak sungkan-sungkan memberi nasihat kepada jemaat mereka untuk mengikuti teladan hidup Polycarpus. Jemaat di Filipi pun sampai meminta dia menuliskan sebuah surat nasihat kepada gereja mereka. Tetapi bukan hanya hidupnya saja yang saleh, Polycarpus juga tidak bisa tinggal diam ketika melihat ajaran-ajaran sesat beredar dan mencoba menarik perhatian umat pilihan dari ajaran gereja yang sejati.
Ajaran sesat yang dia lawan melalui surat-suratnya adalah bidat Marcionisme dan Valentinianisme. Marcionisme adalah bidat yang mengajarkan untuk membuang konsep Allah Perjanjian Lama sebagai dasar konsep Allah Perjanjian Baru. Marcion menganalisa Alkitab dan menyimpulkan bahwa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak mungkin sinkron, bahkan sifatnya kontradiktif. Allah di Perjanjian Lama terlalu kejam dan berbeda dengan Allah Perjanjian Baru yang begitu mengasihi. Sedangkan Valentinianisme adalah bidat yang membawa bibit Gnostisisme. Bidat itu mengajarkan bahwa keselamatan baru bisa terjadi ketika kita sudah memiliki pengetahuan spiritual yang sifatnya misterius. Polycarpus berjuang sepanjang hidupnya mengembalikan seluruh ajaran gereja kembali kepada ajaran para rasul dan Injil yang sejati. Banyak orang yang sudah mengikuti ajaran bidat saat itu bertobat dan kembali kepada ajaran yang benar karena pelayanan Polycarpus.
Polycarpus hidup di masa peralihan antara masa para rasul dan masa para Bapa Gereja. Oleh karena inilah Tuhan menyertai dia dalam ajarannya dan semangatnya untuk kembali kepada yang sejati. Bila kita bandingkan dengan karya-karya Bapa Gereja setelah Polycarpus, kita akan menemukan banyak bidat dalam ajaran mereka dan hanya sedikit saja bagian yang benar-benar bisa digolongkan sebagai ajaran yang sehat. Sedangkan dalam karya-karya Polycarpus, sedikit sekali ada indikasi pemikiran yang salah atau bidat. Mayoritas pemikirannya sesuai dengan iman ortodoks dan ajaran para rasul. Selain itu, dia juga adalah orang yang sangat peduli tentang pemerintahan gereja dan Alkitab.
Selain itu, Polycarpus memang selalu berupaya untuk menetapkan standar bagi kekristenan. Standar yang sesuai dengan ajaran para nabi dan para rasul. Standar ini harus ada supaya gereja memiliki kesatuan dan mencegah munculnya bidat. Polycarpus sangat peduli tentang kesatuan gereja dan ortodoksi yang harus ditegakkan, karena dia sadar sekali akan bahaya yang akan datang dari interpretasi-interpretasi orang yang sembarangan akan firman Tuhan dan maksud jahat dari orang-orang yang memang ingin memecah belah gereja.
Dari peran Polycarpus yang begitu krusial dan begitu berbeda dengan Bapa Gereja sesudahnya, kita bisa melihat bahwa ada yang Tuhan mau ajarkan melalui sejarah gereja-Nya. Prinsip yang bisa kita pelajari adalah ketika Tuhan mau membangun suatu zaman atau era yang baru dalam panggung sejarah, Tuhan pasti memberikan fondasi yang sangat kuat. Karena sepanjang sejarah akan terjadi penyelewengan-penyelewengan dari yang sejati itu. Jika dari awalnya saja sudah tidak kuat dan tidak setia, zaman setelah itu pasti akan jauh lebih rusak lagi. Maka kita sebagai orang Kristen di zaman sekarang, harus berusaha kembali kepada iman yang sejati dan ortodoks. Lalu kita harus menyediakan fondasi dan teladan yang baik bagi generasi yang selanjutnya. Kita tidak boleh egois, hanya memikirkan zaman kita saja bagaimana. Kita harus memikirkan dalam kerangka keseluruhan Kerajaan Allah yang besar, bagaimana kebenaran diturunkan kepada zaman yang selanjutnya.
Pada akhir hidupnya, Polycarpus tahu bahwa dia akan diadili di Roma dan akan mati sebagai martir. Sudah lama pemerintah Roma ingin menangkap Polycarpus, tetapi entah mengapa dia baru ditangkap saat dia berumur sekitar 86 tahun. Pemerintah Roma resah akan keberadaan pemimpin-pemimpin kekristenan ini karena agama Kristen dianggap agama yang berkembang terlalu cepat dan sifatnya memberontak terhadap kaisar. Polycarpus ketika tahu bahwa dia akan ditangkap, sikapnya tenang sekali, tidak ada kepanikan sedikit pun seperti yang dimiliki seluruh rekan dan muridnya. Orang-orang yang mengasihinya menyuruhnya untuk cepat-cepat kabur dari kota itu. Tetapi Polycarpus menolak untuk kabur, dia tahu panggilannya untuk mati bagi Tuhan. Tetapi untuk menenangkan jemaatnya, dia pindah ke rumah kecil di luar kota Smirna. Tapi dia memastikan bahwa dia tidak bersembunyi di tempat yang tidak bisa ditemukan tentara Romawi, karena dia tidak lari dari kematian. Dia menunggu kedatangan tentara Romawi dengan sabar di rumah itu. Pada akhirnya, tentara Roma menemukan tempat tinggal Polycarpus dan datang untuk menangkapnya. Untuk terakhir kalinya temannya menyuruh Polycarpus untuk melarikan diri, tetapi Polycarpus menjawab, “Biarlah kehendak Tuhan yang jadi.” Ketika tentara Romawi datang, peristiwa itu mengingatkan kita akan kisah penangkapan Yesus yang tidak melawan sama sekali ketika mau ditangkap dan disalibkan. Polycarpus mempersilakan para tentara itu untuk masuk ke dalam rumahnya.
Kemudian dia dibawa ke prokonsul lokal (semacam pengadilan lokal di zaman itu) yang dipimpin oleh Statius Quadratus. Dengan dilihat oleh banyak orang, Statius menginterogasi Polycarpus dan terus-menerus mengorek kesalahannya tetapi tidak dapat mematahkan iman dan argumennya. Seluruh jawaban Polycarpus sangat jujur dan tidak ada yang mampu membantahnya, bahkan dia yang memimpin alur pembicaraan sampai akhirnya Statius tersudut. Walaupun Statius sudah menggunakan berbagai ancaman, Polycarpus tetap tidak mundur dan kalah. Dia adalah seorang apologet yang sangat brilian dan pada saat itu dia sangat disertai Tuhan sehingga mengeluarkan kalimat-kalimat yang berkuasa, bijaksana, penuh kebenaran, dan tanpa kompromi. Sebelum Statius menjatuhkan hukuman, dia masih merasa kasihan kepada orang tua berumur 86 tahun ini. Statius memberikan alternatif terakhir, yaitu Polycarpus akan dibebaskan jika dia mengatakan, “Kaisar adalah Tuhan”. Hanya jika dia mengatakannya dan memberikan hormat sedikit kepada kaisar, dia akan terlepas dari penganiayaan dan kematian. Tetapi respons Polycarpus berbeda sekali, bahkan jawabannya atas tawaran ini akan menjadi kekuatan bagi begitu banyak orang Kristen pada zaman-zaman selanjutnya. Dia mengatakan, “Sudah 86 tahun aku melayani Kristus Tuhanku dan Dia tidak pernah melakukan apa pun yang salah terhadapku, bagaimana mungkin aku mengkhianati Dia, Rajaku yang menyelamatkanku?” Setelah mendengar perkataan itu, Statius menjadi sangat kesal dan memutuskan untuk menghukum Polycarpus dengan hukuman mati, dibakar dengan api. Polycarpus masih sempat menjawab lagi, “Api yang engkau kobarkan ini hanya akan berlangsung sebentar saja, tetapi api penghakiman Tuhan yang telah disediakan bagi orang yang tidak percaya kepada Tuhan kekal adanya dan tidak dapat dipadamkan.” Setelah itu Polycarpus berkata untuk terakhir kalinya, “Apalagi yang engkau tunggu? Lakukanlah apa yang engkau kehendaki.”

Pada seluruh percakapan ini kita melihat seorang Kristen yang sungguh berani, seperti tidak takut apa pun, bahkan kematian pun tidak menggoncangkan dia. Apa yang membuat dia bisa seperti demikian? Apa yang bisa kita teladani darinya? Yang jelas adalah dia hidup bagi Kristus dan bukan hidup bagi dirinya sendiri lagi. Ketika kita mulai hidup secara total bagi Kristus, pelan-pelan kita akan dituntun dan diajar oleh Tuhan bagaimana menjadi orang yang mengasihi Dia semakin dalam. Kita terus akan bertumbuh dalam kasih kita akan Dia sampai suatu saat kita tiba pada tahap “tidak takut mati bagi Tuhan”. Inilah yang harus kita teladani, semangat mau bertumbuh dan mengasihi Tuhan dengan sepenuhnya. Jika kita tidak ada langkah konkret dalam pertumbuhan tetapi ingin punya hidup seperti Polycarpus, kita sedang bermimpi! Maka mari kita bangun dari mimpi kita dan mulailah berjalan maju di dalam pertumbuhan iman kita secara nyata.
Sejarah gereja dan teladan iman yang diberikan oleh Tuhan kepada kita sungguh adalah anugerah yang besarnya tidak terkira. Mungkin selama ini kita menganggap sejarah sebagai sesuatu yang remeh dan tidak penting. Tapi kita harus sadar bahwa itu adalah konsep yang salah. Sejarah adalah wahyu Tuhan yang diberikan-Nya untuk mengajar kita dan menuntun Gereja-Nya. Ketika orang Kristen mengerti hubungan antara sejarah dan rencana kekal Allah, kita akan menjadi orang yang sangat kaya. Kita meneladani orang yang dipimpin Tuhan sepanjang sejarah, kita menghindari seluruh kesalahan yang pernah dilakukan umat Tuhan sepanjang sejarah. Dengan demikian kekristenan akan berkembang dan Gereja terus membawa pimpinan Tuhan yang jelas. Mari kita menghargai sejarah yang diberikan oleh Tuhan dan belajar sedalam-dalamnya mencari maksud yang ingin Tuhan nyatakan dalam sejarah itu. Supaya hidup kita berbahagia, memiliki identitas, dan memuliakan Allah.

Refleksi: “Skeptisisme” Abraham dan Sinisme Kita

“Skeptisisme” Abraham dan Sinisme Kita

Bagaimana biasanya kita membaca kisah Abraham? Dari masa depan, sebagian pembaca yang sudah melihat bagaimana Allah menggenapkan janjinya untuk membuat nama Abraham masyhur, memberikan sebuah tanah perjanjian, dan menjadikannya bangsa yang besar, membaca kembali kalimat Abraham, “Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak …,” (Kej. 15:2) dengan senyum kecil dikarenakan “kekurangan iman” Abraham. Sebagian orang lagi mungkin lebih bersimpati terhadap kesulitan Abraham memahami janji Allah di dalam sudut pandangnya yang terbatas.
Penulis kitab Ibrani mempunyai penilaian yang sangat tinggi terhadap Abraham. Meskipun Abraham adalah orang asing di negeri yang dijanjikan, Ibrani menuliskan, “Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan mengakui, bahwa mereka adalah orang asing yang datang di bumi ini” (Ibr. 11:13). Jadi, bagi penulis Ibrani, Abraham bukan kekurangan iman, melainkan merupakan saksi iman yang kisahnya paling disoroti di dalam Ibrani 11. Lagipula, Abraham tidak berhenti pada kalimatnya yang saya kutip di atas dan bertahan pada skeptisismenya. Dia percaya kepada janji Allah meskipun dia belum melihat semuanya tergenapi.
Mari kita beralih dari janji Allah kepada Abraham kepada janji-Nya kepada kita, anak-anak Abraham, yang saya ambil dari surat Roma dan Efesus.
Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. (Rm. 8:17)
Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang. Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu. (Ef. 1:18-23)
Bagaimana seharusnya kita memahami janji Allah di atas bagi kita? Mari kita bandingkan janji untuk Abraham di Perjanjian Lama dengan janji untuk anak-anak Allah di Perjanjian Baru. Abraham yang istrinya mandul dan ialah orang asing di tanah Kanaan dijanjikan akan menjadi bangsa yang besar dan menguasai tanah Kanaan. Sebagai perbandingan, anak-anak Allah, pengikut Kristus di Perjanjian Baru dijanjikan segala sesuatu, seluruh dunia, seluruh makhluk. Di dalam surat Efesus dikatakan bahwa Allah Bapa akan meletakkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus dan Kristus yang empunya segala sesuatu itu akan diberikan kepada kita sebagai Kepala. Artinya, kita akan bersatu dengan Kristus sebagai tubuh-Nya yang dikuasai-Nya, dan bersama-sama dengan Kristus kita akan memerintah seluruh ciptaan.
Oh, bukankah skeptisisme mulai mengintip di dalam hati kita. Bukankah seperti Sarah, kita tertawa sinis dan pertanyaan-pertanyaan mulai muncul. Bukankah pengikut Kristus lemah, tidak berdaya di tengah-tengah penganiayaan kekuasaan dunia yang membenci Kristus? Masa sih kita akan jadi penguasa? Realitasnya, kita mau beribadah saja bisa dihalangi dan mau membangun gedung gereja pun sulit mendapatkan izin. Itukah ciri-ciri orang yang akan mewarisi seluruh jagat raya?

Terima Kasih Telah Membaca Tuhan Memberkati

Cerpen: Pa' Boko Deppa


Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu, ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara lalu menemukan tempat duduk di sebelah lelaki. Sambil duduk wanita tersebut membaca buku yang baru saja dibelinya.


Dalam keasyikannya tersebut ia melihat lelaki di sebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada diantara mereka. Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan.

Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam. Sementara si Pencuri Kue yang pemberani itu mulai menghabiskan kue-kuenya. Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu. Wanita itupun sempat berpikir Kalau aku bukan orang baik, sudah kutonjok dia! Setiap ia mengambil satu kue, si Lelaki juga mengambil satu.

Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu. Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya, sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir, Ya ampun orang ini berani sekali, dan ia juga kasar, malah ia tidak kelihatan berterima kasih. Belum pernah rasanya ia begitu kesal.

Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan. Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Menolak untuk menoleh pada si "Pencuri tak tahu terima kasih!" Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget.

Disitu ada kantong kuenya, di depan matanya. Koq milikku ada di sini erangnya dengan patah hati, Jadi kue tadi adalah miliknya dan ia mencoba berbagi.
 Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar sedih. Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih dan dialah pencuri kue itu.

TERIMA KASIH TELAH MEMBACA 

Ilustrasi: seorang pemuda dalam kereta api


Suatu ketika, saat i-pad baru diluncurkan, ada seorang pemuda dengan menggunakan Jas yang mentereng naik Kereta kelas Ekonomi (tanpa AC dan penumpang berdesak-desakan). Selang beberapa waktu di atas kereta, pemuda ini mulai membuka Jas Menterengnya sebab ia merasa panas (Maklum tidak ada AC), kemudian ia mulai mengeluarkan I-pad nya dan menonton Film. Alhasil banyak penumpang yang berdesak-desakan dibelakangnya hendak melihat barang canggih ini (I-pad).
Beberapa penumpang lain yang melihat hal ini merasa Kesal dan mulai berkomentar dalam hati : "kalau mau pamer jangan di atas kereta ekonomi dong."
Orang Tua : "Orang muda sekarang, kaya sedikit langsung pamer. Naik kelas Ekonomi, pamer2an."
Seorang Ibu :  "Mudah2an suami saya ga senorak dia. Norak di kelas Ekonomi bukan hal terpuji."
Gadis ABG : "Keren sih keren, tapi ga banget deh sama gayanya. Kenapa ga naik AC kalau mau pamer begituan? "
Pedagang : "Sepertinya dia baru kenal 'kaya'. Atau dapat warisan. andai dia merasakan jerih pahit kehidupan; tentu tidak akan pamer barang itu di kelas Ekonomi. Kenapa ga naik AC sih?"
Pendeta :  "Andai dia taat beragama, tentu tidak sesombong itu."
Anak Sekolah :  "Gue tau lo kaya. Tapi plis deh, lo ga perlu pamer gitu kalle' ke gua. Gua tuh ga butuh style elo. Kalo lo emang pengen diakuin, lo bisa out dari sini, terus naik kereta AC.. ill feel gue."
Pengamen :  "Orang ini terlalu sombong, ingin pamer di depan rakyat."
Sebenarnya Pemuda Kaya ini membeli sebuah karcis kereta untuk Kelas Eksekutif, akan tetapi ketika dia hendak naik ke atas kereta, ia melihat seorang nenek tua yang terjatuh karena berdesak-desakan hendak naik ke kelas ekonomi. Akhirnya Pemuda kaya ini tergerak hatinya dan menukarkan karcis Kelas Eksekutif yang dia beli dengan karcis ekonomi milik si Nenek tua. 
Mungkin inilah yang sering terjadi dalam hidup kita, hanya dengan sekali pandang kita langsung menilai sesama kita, bahkan tidak sering kita menjadi hakim. 

Tuhan Yesus pernah berpesan Janganlah kamu menjadi hakim bagi sesamamu.

Terima Kasih telah Membaca 

ARTI SIMBOL-SIMBOL DAN WARNA DALAM IBADAH

ARTI SIMBOL-SIMBOL DAN WARNA DALAM IBADAH

 
                                                            PAKAIAN JABATAN

Toga, Bef, Clergical Collar & Stolla
Kebanyakan gereja-gereja Kristen di Indonesia mengenal semacam Pakaian Jabatan, yang mereka ambil-alih dari Gereja-gereja partner mereka di Barat. Bentuknya hampir sama semacam toga (= gaun) hitam, yang dipakai dengan “bef” (dasi putih) dan dengan atau tanpa stolla (= kain atau pita lebar dan panjang). Fungsinya tidak begitu jelas. Tetapi dalam praktik Gereja-gereja ini, secara sadar atau tidak sadar menganggapnya sebagai Pakaian Jabatan atau Pakaian Liturgis resmi. Oleh karenanya, setiap orang yang memangku jabatan gerejawi harus memakai pakaian jabatannya pada saat ia melayani dalam pelayanan-pelayanan resmi. Hal ini hanya berlaku bagi Pendeta. Bagi Penatua dan Diaken yang umumnya dianggap “kurang setara” dengan Pendeta dibebaskan dari kewajiban di atas.
Pakaian Jabatan ini telah lazim dalam Gereja-gereja Kristen Katolik dan Kristen Protestan Reformasi, sehingga tidak dirasakan lagi sebagai barang/tradisi asing diimpor dari Barat. Namun demikian, pada beberapa dasawarsa terakhir ini ada gereja, antara lain GPIB, yang tidak puas lagi dengan bentuk pakaian jabatan ini dan hendak menggantikannya dengan bentuk lain. Sayangnya, ketidakpuasan para pemimpin gerejawi di GPIB ini lebih banyak disebabkan alasan-alasan kultural dan bukan alasan teologis.
Bentuknya berbeda-beda, yang satu lebih indah dan lebih mewah daripada yang lain. Juga jumlahnya tidak sama. Untuk perayaan Ekaristi umpamanya, Imam Gereja Ortodoks Yunani lebih banyak memakai “pakaian liturgis” daripada Imam Gereja Katolik. Sebagai contoh, Pakaian Jabatan dalam Gereja Katolik terdiri dari “amictus” (= kain bahu dari lenan, dihiasi dengan salib yang disulam dan diikatkan pada dada, di atas gaun-missa yang sebenarnya), “alba” (= kemeja dari lenan, panjangnya sampai di kaki), “stola” (= pita lebar yang dipakai di atas alba, panjangnya sampai ke lutut), “manipulus” (= pita sutera, tidak begitu lebar, digantungkan pada tangan kiri), “pluviale” (= gaun prosesi gerejawi, dahulu hanya dipakai oleh para Klerus rendah, kemudian juga oleh Klerus tinggi) dan “vesti sacerdotalis” (= gaun missa yang sebenarnya)/toga.


                                                WARNA KAIN-KAIN LITURGIS


Warna-warna gerejawi telah lama digunakan dalam ruang ibadah kita, terutama untuk taplak meja, kain di mimbr (antependium), kain panjang di kayu salib (stolla besar) dan stolla yang dikenakan Pelayanan Gerejawi. Gereja memakai kain dalam warna-warna yang bergantian sesuai kalender gerejawi.
1. Putih
Adalah lambang dari warna terang, cahaya lilin, warna bagi peran malaikat Allah, para kudus dan warna bagi Kristus yang dimuliakan. Warna yang melambangkan kekudusan dan kebersihan. Oleh sebab itu warna ini digunakan dalam masa raya yang berkenaan dengan Kristus, misalnya Natal, Paskah, Kenaikan Tuhan Yesus, dan masa raya kesukaan misalnya dalam pelayanan Baptisan dan Perjamuan Kudus. Digunakan juga dari masa Natal sampai Minggu sebelum Epifania/Perjamuan Malam/Perjamuan Tuhan (6 Januari) dan hari raya Paskah hingga sebelum minggu Pentakosta.

2. Ungu (lebih tepatnya violet)
Adalah warna tergelap dalam warna gerejawi yang menunjukan penyesalan dan pertobatan yang sungguh-sungguh. Digunakan pada masa 40 hari sebelum Paskah (Minggu sengsara) dan masa-masa menjelang Natal (Minggu Adventus).

3. Merah
Adalah warna api. Lambang Roh Kudus yang penuh kekuatan. Maka digunakan pada Perayaan Pentakosta. Warna merah juga melambangkan warna darah, kesetiaan sampai mati, iman yang berapi-api sehingga digunakan dalam peringatan Reformasi, penahbisan rumah ibadah, sidhi, peneguhan Pendeta, Diaken dan Penatua. Juga pada peringatan hari Pekabaran Injil, pengutusan pengijil dan hari-hari raya ekumenis.

4. Hijau
Adalah warna komplemen dari merah. Melambangkan penyembuhan, ketenangan dan pertumbuhan iman. Merupakan warna pengharapan. Hijau memberitakan kemurahan hati, keselamatan dari Allah yang menyembuhkan dan memperbaharui. Digunakan pada hari Minggu Trinitas (Minggu pertama sesudah Pentakosta, kecuali masa sengsara, adventus, dan hari raya Kristen lainnya). Merupakan juga makna dari pertumbuhan iman jemaat baru.

5. Merah Muda
Rose, adalah perlemahan dari violet (ungu tua), lambang penyesalan dan pertobatan yang tertahan. Maksudnya, sengsara boleh sementara waktu digantikan dengan senyuman dalam menyongsong Natal dan Paskah. Digunakan pada Minggu adventus ke-3 dan Minggu sengsara ke-5.
6. Hitam
Adalah warna liturgis yang paling kuno. Lambang keputusasaan. Warna ini sudah tidak dipakai lagi. Perlu juga dipertanyakan tentang warna liturgis yang dikenakan Pendeta yaitu Toga hitam. Pemberitaan firman adalah pemberitaan Kristus yang telah menang, sudah selayaknya mereka dibebaskan dari warna kedukaan. Bahkan dalam pelayanan duka (misalnya pelayanan pemakaman jenazah) sekalipun, sebenarnya warna violet(Ungu) lebih baik daripada hitam, karena kita sudah diperbolehkan hidup dalam kemenangan Kristus.

C. BERBAGAI SIMBOL LAIN

a. Alfa dan Omega,
Adalah huruf pertama dan huruf terakhir alphabet Yunani dan biasanya digunakan sebagai simbol kekekalan Allah dan kuasa Kristus dari penciptaan sampai pada akhirat (Why 22:13 Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir”). kedua huruf ini sering digabung dengan simbol-simbol lain, misalnya salib (kekekalan karya keselamatan dalam Yesus Kristus) atau Alkitab (kekekalan Firman Allah).


b. Air
Air adalah sumber kehidupan, tetapi sekaligus dapat mengancam kehidupan (banjir, badai di laut...). Air juga berfungsi untuk mencuci atau membersihkan. Dalam Alkitab, simbol ini sering dihubungkan dengan berkata bahwa Allah sebagai sumber mata air, kesegaran atau sumber kehidupan dan keadilan,dan bahwa Yesus memberi air yang hidup (Yoh 4:14). Yesus juga membasuh kaki murid-muridNya dengan air sebagai tanda pelayanan dan pembersihan dari dosa. Murid-muridNya dipanggil untuk berbuat hal yang sama (Yoh 13:15). Namun ritus pembasuhan kaki masih jarang dipraktekkan dalam ibadah protestan. Air menjadi simbol inti sakramen baptisan sebagai tanda penbersihan (dari dosa, dari kuasa maut); “adam lama” ditenggelamkan dalam air baptisan, dan “adam baru” dilahirkan. Air ini juga menjadi tanda penerimaan Roh Kudus yang menyatukan kita dalam tubuh Kristus, dan tanda anugerah Allah yang dikaruniakan kepada kita tanpa prasyarat. Air disini adalah simbol yang membuat kita merasakan apa yang dilakukan oleh Allah sendiri, dan tidak dipahami secara “magis”, sehingga tidak tergantung pada cara atau kuantitas air (hanya tiga tetes “dalam nama Bapa, anak dan Roh Kudus”, atau dengan menenggelamkan seluruh tubuh seperti dipraktekkan dalam gereja mula-mula dan oleh beberapa denominasi sampai sekarang). Baptisan juga tidak berfokus pada formalitas (“masuk Kristen”) atau pertobatan manusia (seperti ditekankan dalam baptisan dewasa), tetapi pada karya keselamatan Allah sendiri (yang tentu saja tidak terbatas kepada mereka yang telah menerima ritual gereja tersebut).

c. Altar
Altar gereja mengingatkan baik pada tempat persembahan korban dalam Perjanjian Lama maupun pada meja perjamuan Paskah Yesus dengan muridmuridnya pada malam sebelum ia disalibkan. penggunaan altar baik sebagai meja perjamuan kudus maupun sebagai tempat persembahan (kolekte) masih mencerminkan makna ganda tersebut. Selain itu, altar biasanya dihias dengan simbol-simbol lain seperti salib, alkitab, lilin, bunga dsb.; Dalam arsitektur gereja, altar sering ditempatkan langsung di depan atau di bawah mimbar untuk menekankan kesatuan antara sakramen (perjamuan kudus/altar) dan firman (khotbah/mimbar).

d. Bendera
Tidak ada bendera khusus yang digunakan sebagai symbol agama kristen, namun banyak negara dan institusi-institusi lain terutama menggunakan symbol salib dalam bendara atau lambang mereka untuk mensimbolkan nilai-nilai Kristiani sebagai dasar identitas negara atau kelompok, meskipun hal ini juga dapat dinilai sebagai penyalahgunaan symbol agama yang “mengatasnamakan Tuhan” demi kepentingan tertentu. Dalam kebanyakan gereja dan negara, pemasangan simbol-simbol negara seperti bendera nasional dalam ruang ibadah atau pada gedung gereja tidak lazim atau bahkan ditolak sama sekali, untuk menekankan pemisahan antara kepentingankepentingan politik dan misi universal gereja.

e. Lilin
Lilin biasanya dinyalakan dalam setiap ibadah, paling tidak pada ibadah-ibadah natal dan ibadah-ibadah paskah (lilin paskah) sebagai simbol Kristus yang hidup dan menjadi “terang dunia” (Yoh 8:12, bdk Yoh 1 dll.). Lilin juga mengingatkan kita pada panggilan untuk menjadi “garam dan terang dunia” (Mat 5:13-16); lilin secara umum bisa menjadi simbol kehidupan manusia yang mengorbankan diri demi panggilannya untuk menerangi kegelapan. Dalam ibadah dukacita lilin juga mewakili kehidupan kekal, bahwa orang yang telah meninggal sekarang adalah di tangan Tuhan. Keempat lilin dalam “krans adven” adalah simbol pengharapan yang menantikan kelahiran terang dunia (dalam minggu pertama adven, satu lilin dinyalakan, dalam minggu kedua dua dst.). Sementara ketujuh lilin dalam “Menorah” (yang juga menjadi symbol agama Yahudi) sering diidentifikasi dengan “ketujuh anugerah Roh” (Yes 11:2; bdk Paulus)

f. Lonceng
Bunyi lonceng adalah simbol perhatian dan panggilan beribadah dan juga mengingatkan akan pengadilan Allah. Lonceng digunakan baik dalam sukacita (paskah, memuji tuhan dalam ibadah...) maupun dukacita (orang meninggal, bencana...). Secara kontekstual, lonceng juga bisa diganti oleh alat musik yang lain, misalnya alat music tiup atau gendang

g. Merpati
Burung merpati dalam tradisi Kristen terutama dipahami sebagai symbol kehadiran Roh Kudus yang mengingatkan kita pada peristiwa baptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis (Mat 3:16 bdk Mrk, Luk dan Yoh). Seekor burung merpati dengan sebuah ranting zaitun telah menjadi simbol universal untuk perdamaian dan mengingatkan pada kisah Nuh (Kej 8:11), di mana sehelai daun zaitun menjadi tanda bahwa air bah telah surut dan simbol untuk perjanjian Allah dengan umat manusia dan segala ciptaan-Nya. Kadang-kadang, dua ekor burung merpati juga digunakan sebagai simbol cinta kasih

h. Minyak
Minyak (minyak zaitun, minyak wangi atau minyak berharga lain) dalam alkitab adalah symbol berkat dan pemberian otoritas oleh Allah misalnya dalam ritus pentahbisan raja Israel. Minyak juga digunakan untuk meminyaki orang mati. Kedua arti ini merupakan latar belakang simbolis waktu Yesus diurapi oleh seorang perempuan (Mat 26:7) dan para perempuan ingin meminyaki jenazah Yesus. Minyak juga mingingatkan kita pada perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh (Mat 25; minyak untuk pelita sebagai simbol kesiapan untuk kedatangan Yesus). Dalam ibadah (atau pelayanan kepada orang sakit), minyak sebagai simbol berkat kebanyakan digunakan dalam tradisi katolik, tetapi kadangkadang juga dalam ibadah protestan atau ekumenis.

i. Pohon dan Tumbuhan
Pohon secara umum adalah symbol kehidupan dan dalam Alkitab (bersama dengan tumbuhan-tumbuhan lain) sering dihubungkan dengan kehidupan seseorang yang diberkati, sesuai dengan kehendak Allah dan memberi buah. Mendekorasi gereja dengan tumbuhan-tumbuhan hijau maupun bungabunga sebagai tanda kehidupan dan pujian atas keindahan ciptaan Allah adalah suatu hal yang sangat wajar. Daun palem misalnya sebagai symbol penyembahan, syukur dan penghormatan kepada Tuhan mengingatkan kita pada Yesus yang dieluelukan di Yerusalem dengan “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel” (Yoh 12:13). Secara khusus, pada hari natal, gerejagereja maupun rumah-rumah dan tempat umum lainnya dihias dengan pohon-pohon pinus dan rantingranting hijau lainnya, yang dihias dengan lilin, bintang-bintang, buah, kapas sebagai salju dll (“pohon natal”, “pohon terang”...). Pohon pinus adalah simbol lama dalam budaya Eropa untuk kehidupan bahkan di tengah-tengah kondisi yang sulit, karena inilah satusatunya pohon yang daunnya tidak gugur tetapi ia tetap hijau selama musim dingin (musim salju). Simbol non-Kristen ini diangkat oleh tradisi Kristen dan dihubungkan dengan simbol-simbol lain (terang, bintang...) sebagai simbol pengharapan dan kehidupan melalui Yesus Kristus yang lahir di tengahtengah dunia yang gelap dan tidak ramah. Pohon natal bukan semestinya sebuah pohon pinus, tetapi bisa juga pohon lain yang mewakili arti simbolis di atas. Hanya sedikit kontradiktif dengan “simbol kehidupan” jika dipakai pohon yang sudah tidak ada daunnya atau pohon dari plastik.

j. Salib
Salib adalah simbol yang paling terkenal sebagai simbol Kristiani yang menunjuk kepada kematian Yesus Kristus di kayu salib di Golgata. Bentuk historis alat eksekusi tersebut dengan kemungkinan besar adalah bentuk “T” (salib “Tau”), dan kemudian menjadi salib yang kita kenal (biasanya disebut “salib Latin”). Tanda salib atau silang telah dikenal dalam banyak budaya dan agama pra-Kristen dengan berbagai makna, a.l. kekekalan, kesempurnaan atau hubungan kosmis antara dunia dan yang transenden, tetapi juga sebagai tanda perpisahan dll.; Salib dalam tradisi Kristen menjadi simbol kematian dan kehidupan. Salib mencerminkan solidaritas Allah dengan manusia dalam penderitaan dan merupakan puncak.

k. XP
Simbol ini adalah simbol lama untuk Kristus (dan juga untuk orang Kristen) yang dibentuk dari dua huruf pertama nama “Kristus” dalam bahasa Yunani. Simbol ini dalam beberapa variasi kemudian sering disebut “salib/silang Kristus” (“cross of Christ”).

l. Simbol-simbol Adat
Budaya-budaya Indonesia sangat kaya dengan simbol-simbol yang mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan dan keterikatan dengan yang Ilahi. Praktek Gereja yang kontekstual akan mencoba untuk memahami simbol-simbol tersebut secara mendalam dan melihat maknanya dalam terang Injil. Dengan demikian, kehidupan spiritual akan sangat diperkaya. Hal ini akan melanjutkan tradisi Kristen untuk mengangkat memaknai simbol-simbol non-Kristen guna menemukan ekspresi iman yang otentik dan relevan. Contohnya adalah rumah-rumah adat (mis. Tongkonan dalam budaya Toraja, Baruga dalam beberapa budaya Sulsel dsb.) sebagai simbol kerukunan, atau simbol yang digunakan dalam ritus-ritus paguyuban dan rekonsiliasi (mis. lingkaran rotan “Kalosara” dalam adat Tolaki-Mekongga, Tumpengan dalam adat Jawa, binatang 􀃆 kurban dalam beberapa tradisi dsb.). Tantangan adalah mentransformasi simbol-simbol tersebut dengan pemahaman yang menerobos eksklusivisme suku, pemahaman magis, dan merespon pada karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus.
                                                                          INTERAKSI
Semoga dengan kita mengetahui berbagai symbol dan makna benda-benda yang ada atau sering digunakan dalam liturgy gereja kita menjadi paham dan mengerti arti dan keguanaan symbol-symbol tersebut. Tuhan Yesus Memberkati. Amin.

Terima kasih telah membaca
Sumber: http://viktorabadiwaruwu.blogspot.com/2010/01/arti-simbol-simbol-dan-warna-dalam.html

cerita Inspirasi: Keledai dan dua orang Ayah dan Anak



Suatu ketika seorang laki-laki beserta anaknya membawa seekor keledai ke pasar. Di tengah jalan, beberapa orang melihat mereka dan menyengir, "Lihatlah orang-orang dungu itu. Mengapa mereka tidak naik ke atas keledai itu?"

Laki-laki itu mendengar perkataan tersebut. Ia lalu meminta anaknya naik ke atas keledai. Seorang perempuan tua melihat mereka, "Sudah terbalik dunia ini! Sungguh anak tak tahu diri! Ia tenang-tenang di atas keledai sedangkan ayahnya yang tua dibiarkan berjalan."

Kali ini anak itu turun dari punggung keledai dan ayahnya yang naik. Beberapa saat kemudian mereka berpapasan dengan seorang gadis muda. "Mengapa kalian berdua tidak menaiki keledai itu bersama-sama?"

Mereka menuruti nasehat gadis muda itu. Tidak lama kemudian sekelompok orang lewat. "Binatang malang...., ia menanggung beban dua orang gemuk tak berguna. Kadang-kadang orang memang bisa sangat kejam!"

Sampai di sini, ayah dan anak itu sudah muak. Mereka memutuskan untuk memanggul keledai itu. Melihat kejadian itu, orang-orang tertawa terpingkal-pingkal, "Lihat, manusia keledai memanggul keledai!" sorak mereka.

 

Jika anda berusaha menyenangkan semua orang, bisa jadi anda tak akan dapat menyenangkan siapa pun.  

sekian cerita singkat mengenai keledai ini semoga terinspirasi.